Reward Nilai, Pemacu Mahasiswa untuk Gemar Menulis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Kukuh Yudha Karnanta saat ditemui di FIB.

UNAIR NEWS – Kampus harus selalu menguatkan budaya menulis. Sebagai bentuk kultur akademik dunia perkuliahan. Tulisan yang dihasilkan mesti bisa dipertanggungjawabkan. Maksudnya, bukan tulisan yang ngawur atau berbau fitnah. Melainkan, tulisan yang bermuatan pendidikan, sastra, budaya, konsep penelitian, dan ragam konten positif lain.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Kukuh Yudha Karnanta menuturkan, selama ini staf pengajar di UNAIR selalu berupaya memotivasi mahasiswa untuk gemar menuangkan pikiran melalui tulisan. Dia sendiri tak pernah henti menyemangati mahasiswanya.

Bila dirunut, imbuh Alumnus Jurusan Sastra Indonesia UNAIR angkatan 2002 ini, kegemaran menulis berasal dari kebiasaan rakus membaca. Tidak ada tulisan yang baik tanpa bacaan yang kaya. Kalau sudah begitu, menggelorakan semangat gemar membaca pun menjadi sama pentingnya.

Lelaki yang menamatkan S2 di Universitas Gadjah Mada ini mengutarakan, ada dua langkah yang ditempuhnya untuk menggiatkan semangat membaca mahasiswa. Pertama, melalui sistem (by system). Mahasiswa diwajibkan untuk membaca buku-buku tertentu. Referensi tersebut akan dijadikan acuan dalam perkuliahan tiap semester. Artinya, bila mahasiswa tidak membaca buku-buku yang telah ditetapkan, dia bisa tertinggal atau bahkan kehilangan nilai tugas.

Kedua, memberi mahasiswa stimulus berupa reward nilai (by personal). “Saya mengatakan pada mahasiswa, siapa yang tulisannya dimuat di media massa, akan saya kasih nilai A. Tulisan yang dimaksud bisa opini, cerpen, puisi, atau apapun,” ungkap dia.

Pria yang biasa disapa Kukuh ini mengutarakan, bila tulisan mahasiswa diapresiasi media massa melalui pemuatan, bisa disimpulkan kalau tulisan itu baik. Nah, tulisan yang baik pasti bersumber dari bacaan yang baik. “Orang itu akan bisa menulis dengan baik kalau dia juga seorang pembaca yang baik,” tandas dia.

Di sisi lain, Kukuh kerap melihat mahasiswa-mahasiswa yang tak terduga alias di luar mainstream. Biasanya, orang-orang seperti ini, bakal menghasilkan karya-karya tak terduga dan luar biasa. Mereka umumnya, orang yang pendiam, urakan, atau sifat lain yang tidak seperti kebanyakan orang.

“Pokoknya, kita tidak boleh meremehkan orang-orang yang kelihatannya aneh. Karena bisa jadi, karya yang mereka buat, termasuk tulisan, ternyata sangat baik, orisinal, dan tidak pernah terbanyangkan sebelumnya,” ungkap dia. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu