Prof. Nasaruddin Umar: Lailatul Qodar Membumi untuk Melangitkan Manusia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umas, MA., Imam Besar Masjid Istiqlal dan Mantan Wamen Agama RI ketika berceramah dihadapan jamaah masjid Ulul ‘Azmi Universitas Airlangga, 29 Juni 2016 lalu.

UNAIR NEWS – Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap bulan Ramadhan Universitas Airlangga menyelenggarakan acara Buka Puasa Bersama sebagai wahana silaturahmi sivitas akademika dalam memakmurkan bulan Ramadhan. Buka bersama sivitas universitas tersebut dilaksanakan pada Rabu (29/6).

Buka bersama ini dilaksanakan di Masjid “Ulul ‘Azmi” kampus C Universitas Airlangga. Sedang sebelumnya selalu diselenggarakan di Lantai I Gedung Rektorat UNAIR, karena pada saat itu belum memiliki masjid. Susunan acaranya juga diubah, ceramah agama yang biasanya dilaksanakan menjelang buka puasa, kali ini ceramah agama dilaksanakan setelah salat Isya dan sebelum salat tarawih. Sehingga waktunya lebih fleksibel dan tidak terbatasi waktu berbuka.

Penceramah yang dihadirkan tahun ini yang sekaligus mengawali “tradisi” ceramah buka bersama di masjid, adalah Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA., Imam Besar masjid Istiqlal Jakarta dan mantan Wakil Menteri Agama RI. Hadir dalam acara yang dibuka oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh Nasih, SE., MT., Ak., ini antara lain pada Guru Besar dan dosen, mantan Rektor, para Dekan, mahasiswa, dan tenaga kependidikan.

Dalam ceramahnya dengan tema “Membumikan Alquran”, Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan secara ilmiah mengenai Alquran, mulai dari Nuzulul Quran, turunnya Wahyu Illahi tersebut hingga sebagai tuntutan dan pedoman umat Islam.

”Kita tahu turunnya Alquran itu dan lailatul qodar lebih sebagai surat undangan dari Allah SWT sekaligus tiket pulang kampung sejati untuk manusia itu sendiri. Mengapa demikian, karena kita dulu sebenarnya sudah di surga, hanya karena tergelincir sehingga turun ke bumi penderitaan. Maka dari itu Allah mencipta manusia dengan cinta, dan tidak ingin berlama-lama menyaksikan hamba-NYA, kekasih-NYA, terlalu lama di bumi. Jadi turunlah Alquran untuk melangitkan kembali manusia,” katanya.

Sehingga antara Nuzulul Quran dengan peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang tidak bisa terpisahkan. Keduanya mengangkat martabat manusia dan nilai kemanusiaan itu sendiri. Sehingga Allah membumikan Alquran itu untuk melangitkan kembali manusia. Artimnya agar manusia mengaplikasi dalam hidupnya sesuai aturan Alquran untuk sebagai bekal kembali ke langit dan menuju surga_NYA.

Civitas akademika Universitas Airlangga melaksanakan Salat Magrib bersama di Masjid Ulul ‘Azmi, kampus C UNAIR.
Civitas akademika Universitas Airlangga melaksanakan Salat Magrib bersama di Masjid Ulul ‘Azmi, kampus C UNAIR.

Diterangkan, rasionalisasi pemahaman Alquran terlalu jauh meningkatkan visi-misi Alquran itu sendiri. Dan itu salah satu contoh wacana pembumian tetapi tidak untuk melangitkan. Seperti apapun kita berwacana tentang pembumian Alquran, maka andingnya atau tujuan utamanya, menurut Guru Besar STAIN Syarif Hidayatullah ini bahwa dengan Alquran harus mampu melangitkan kembali manusia, karena Allah menurunkan Alquran itu untuk mengangkat kembali dan mengundang kembali, ke pangkuan syurga-NYA di atas sana.

Sedangkan makna Isra Mi’raj adalah melangit untuk membumi. Disinilah diuraikan perbedaan antara membumi dan melangit. Kalau Alquran tadi membumi untuk melangitkan (manusia), maka setelah turun ke bumi dan kemudian manusia menjalankan fase-fase kehidupannya, maka manusia memerlukan energi spiritual. Padahal energi spirital itu tempatnya di alam atas, bukan dibawah. Karena itu Isra Mi’raj merupakan perjalananan hamba Tuhan naik ke atas (langit) yang tidak lain adalah dalam rangka menunaikan tugas kuwajibannya hidup di muka bumi dengan sepenuh energi spiritual.

”Orang kalau tidak pernah naik keatas, dikhawatirkan ia tidak punya energi cukup untuk kembali ke pangkuan yang dicita-citakannya, yaitu di langit surga. Karena itu setiap kali pembahasan Nuzulul Quran harus juga membicarakan tentang Isra’ Mi’raj. Sebaliknya kalau kita bicara Isra’ Mi’raj ya semestinya tidak lepas dengan Nuzulul Quran, karena dua hal itu yang sama-sama melangitkan manusia,” kata Prof. Nasaruddin Umar.

Pertanyaannya, bagaimana kita melangitkan diri? Dikatakan, melangit disini bukan dalam arti fisik, tetapi dalam arti maqom, ketinggian martabah dimata Allah SWT. Semakin tinggi maqom martabat kita maka semakin ideal hamba/anak manusian itu. Tetapi semakin kita tidak berani bicara tentang langit, hanya bicara bumi, akhirnya kita hanya akan hidup dibawah tempurung bumi.

”Karena itulah manusia yang tidak ideal dan itulah hakekat neraka sebelum waktunya. Tetapi sebaliknya, kalau manusian sudah berani naik keatas, maka itu juga syurga sebelum waktunya. Tidak ada kesulitan dalam hidup, tidak ada tantangan untuk naik,” katanya menjelaskan. (*)

Penulis: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu