Ramadan, Mometum Melatih Kedisplinan Anak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr Dewi Retno Suminar MSi saat ditemui di ruang kerjanya.

UNAIR NEWS – Bulan Ramadan bisa menjadi momentum bagi orang tua untuk melatih kedisplinan anak. Jadwal ibadah rutin yang lebih tertata pada bulan puasa dapat menjadi sarana tersendiri. Misalnya, karena ada waktu sahur, mengarahkan anak untuk sekalian sholat subuh pun lebih mudah.

Selanjutnya, karena ada waktu berbuka, menyuruh anak untuk sholat magrib juga makin gampang. “Momuntem-momentum tertentu kerap menjadi aspek pendukung untuk melatih kedisiplinan,” ungkap pakar Psikologi Dr Dewi Retno Suminar MSi saat ditemui di ruang kerjanya akhir pekan lalu (1/7).

Diterangkan wakil dekan III Fakultas Psikologi UNAIR ini, momentum ujian di sekolah pun bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan anak pada kewajiban-kewajibannya. Dengan adanya evaluasi belajar tersebut, orang tua bisa lebih gampang mengingatkan anak akan pentingnya membaca, bangun pagi, dan mengesampingkan game atau permainan.

Kegiatan positif yang dilaksanakan pada momentum tertentu akan melekat pada memori anak. Dengan demikian, anak akan lebih mudah untuk memanggil ingatan tersebut dan mengaplikasikannya kembali. “Orang tua harus berperan menjaga konsistensi kedisplinan anak yang sudah dimulai,” ungkap Dewi.

Bagaimana cara menjaga konsistensi itu? Konsep reasoning harus dipakai. Maksudnya, setiap mengingatkan pentingnya suatu pekerjaan, orang tua mesti menjelaskan mengapa anak mesti melakukannya.

Sebagai contoh, mengapa anak harus sholat subuh dan magrib, karena itu bentuk ibadah pada Tuhan Yang Mahaesa. Mengapa anak harus belajar, karena itu adalah pangkal kesuksesan di masa datang. Mengapa anak harus bangun pagi, karena itu membuat tubuh lebih segar dan siap melakukan aktifitas sepanjang hari.

Jadi, orang tua tidak hanya asal perintah. Namun, mesti memberi pengertian pada anak. Dengan demikian, anak tahu efek positif dari apa yang mereka kerjakan. Bila sudah memahami manfaatnya, otomatis anak akan lebih bersemangat untuk melakoni. Anak akan mengerjakannya tanpa disuruh.

Di bagian ini, kemampuan berkomunikasi orang tua berperan penting. Termasuk, kemampuan menyelami kondisi psikologi anak. Yang jelas, anak harus dapat menerima alasan secara logis atau masuk akal. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu