Kisah Alumnus UNAIR Berpuasa bersama Pengungsi Timur Tengah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Febby Risti Widjayanto dalam sebuah forum bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia Great Manchester (PPI-GM). ( Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Menjalani ibadah puasa di negeri orang tentu menyisakan pengalaman tersendiri bagi warga negara Indonesia (WNI). Akan ada kebiasaan berbeda seperti perbedaan lamanya waktu puasa, pengalaman sahur dan berbuka, hingga gejolak politik yang sedang terjadi di masyarakat. Seperti halnya Febby Risti Widjayanto, alumni Universitas Airlangga yang kini sedang menempuh studi jenjang S-2 prodi International Development di Universitas Manchester, Inggris.

Di Manchester, Inggris, Febby memiliki cerita tersendiri selama berpuasa. Tinggal di belahan bumi utara mengharuskan alumni Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR tahun lulus 2014 ini menjalani puasa sekitar 19 jam, dimulai sekitar pukul 2.30 sampai dengan 21.48 waktu setempat. Meski demikian, ia merasa bersyukur karena lama waktu berpuasanya lebih singkat daripada para warga Skandinavia, yaitu sekitar 21 jam.

“Tantangannya, waktu puasa yang lebih lama, menyesuaikan fisik yang nggak gampang. Pada tiga hari pertama puasa, saya langsung sakit maag, lemas, dehidrasi dan kurang darah. Tantangan lain juga musim panas yang kering. Berbeda dengan Indonesia. Di Manchester, matahari terlalu rajin bersinar,” canda Febby.

Selama berpuasa, Febby rutin menjalankan kegiatan kuliah seperti biasa. Ia pergi ke kampus pada pagi hari dan mengerjakan tugas-tugas kuliah di perpustakaan, serta menyelesaikan tesis. Pada sore atau malam hari, ia terkadang berbelanja bahan makanan. Bila ada ajakan buka puasa menghampirinya, Febby juga tak segan mengikuti acara buka bersama sesama muslim di Manchester.

“Kalau lagi nggak ke perpustakaan, biasanya mengikuti diskusi bersama pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia di Greater Manchester (PPI-GM). Agak lucu juga, di sini undangan buka bersama berlangsung jam 9 malam, dan biasanya acara selesai sekitar jam 11,” tutur lulusan terbaik FISIP UNAIR periode Maret 2014.

Menu buka puasa dan sahur di sana cukup bervariasi. Beragam kuliner dari Indonesia, Tiongkok, sampai Timur Tengah disediakan oleh pengurus masjid setempat atau sesama warga Indonesia. Ada nasi goreng, siomay, ikan bakar, martabak telur, dan es buah untuk disantap bersama. Dirinya mengaku, ia merasa rindu dengan gorengan gerobak yang biasa berjualan dan berjejer di Indonesia.

“Jajanan yang aneka rupa waktu ngabuburit. Di sini, nggak ada pedagang makanan yang berjejer. Selebihnya, nggak begitu merasa homesick, karena di sini eksistensi komunitas muslim cukup besar dan kebersamaannya terasa,” tutur Febby.

Gejolak politik

Situasi politik di Inggris kini tengah memanas dengan adanya jajak pendapat untuk memutuskan keluar dari Uni Eropa. Febby menilai, situasi itu menjadi tantangan berpuasa tersendiri baginya yang bergabung dalam grup diskusi yang terdiri dari mahasiswa Eropa dan Inggris.

“Secara personal, iya. Karena harus menahan diri buat nggak ngomentarin diskusi yang terbukti banyak pihak menganggap keluarnya Inggris sebagai kecerobohan besar. Aku tergabung dalam grup yang anggotanya banyak mahasiswa Eropa dan Inggris. Jadi, kadang kebawa emosi aja sama cara berpikir politik di sini yang mempopulerkan rasisme dan xenophobia,” tutur penerima beasiswa Lembaga Penyandang Dana Pendidikan (LPDP) RI itu.

Selama di Inggris, ia juga berinteraksi dengan para pengungsi perang di Syria, Afghanistan, Irak, Iran, sampai Sudan Selatan. Mereka terusir dari negara sendiri akibat perang, sehingga nasib mereka belum jelas sampai sekarang.  Di Manchester, sebagian besar dari mereka bekerja dan berdagang kecil-kecilan.

Dengan adanya golak politik tersebut, setidaknya ada dua pelajaran utama berpuasa yang dapat dipetik oleh mahasiswa berprestasi FISIP tahun 2012 ini. Pertama, keadaan damai dan dinamika politik di Indonesia tidak sampai mengakibatkan warga negaranya keluar meminta perlindungan ke negara lain. Kedua, toleransi.

“Semua orang di sekeliling kita, baik dia imigran, muslim, Kristen, Yahudi atau Agnostik sekalipun berhak dihargai dan diperlakukan dengan penuh tenggang rasa. Puasa mengajarkan kita untuk memperdalam ilmu dan merenungkan tindakan kita, maka sudah semestinya kita bisa memandang permasalahan dari berbagai dimensi, misalnya persoalan pengungsi. Kita seharusnya bisa memupuk kerukunan, bukan menebar kebencian apalagi cacian dan rasisme. Karena masyarakat di Manchester sangat majemuk, datang dari tiga ras berbeda dan beribu-ribu etnis yang berbagi ruang hidup bersama,” imbuh Febby. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor    : Binti Q. Masruroh

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu