Dosen dan Mahasiswa Harus Optimis Bisa Buat Publikasi Internasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi filebound.files.wordpress.com

UNAIR NEWS – Mimpi kampus untuk menjadi 500 terbaik dunia harus ditopang oleh semua civitas akademika. Tak terkecuali, para dosen dan mahasiswa. Untuk bisa berbicara di ranah internasional, dosen dan mahasiswa mesti sanggup membuat publikasi ilmiah. Terlebih, beberapa tahun lalu, Dikti menyebarkan edaran tentang kewajiban mahasiswa program doktoral memiliki publikasi internasional.

Prof Dr Ahmad Syahrani Apt MS mengutarakan, baik dosen maupun mahasiswa harus menyikapi ini sebagai tantangan. Bukan memposisikannya laksana beban. Sebab, memproduksi publikasi internasional bukan sebuah kemustahilan.

Guru Besar Fakultas Farmasi ini menceritakan, dia pernah akan menempuh pendidikan S3 di Jerman dan Perancis. Namun, tidak kesampaian karena beberapa alasan. Saat itu, dia melakukan komunikasi dengan sejumlah kolega sesama dosen dan staf kependidikan.

“Saya memiliki satu pertanyaan utama: memangnya, apa bedanya kuliah di dalam negeri dan kuliah di luar negeri?” kata lelaki asal Kalimantan Selatan itu. Salah satu rekan menjawab, perbedaan yang dimaksud bisa terkait kepemilikan publikasi internasional.

“Dari sana, saya bertekad untuk membuat publikasi internasional. Saya ingin membuktikan, meskipun akhirnya kuliah S3 di dalam negeri (UNAIR, Red), saya tetap mampu berkarya,” ujar pria yang sudah memiliki 31 publikasi internasional ini (delapan di antaranya sebagai author). Saat lulus S3 di tahun 1997, Syahrani telah memproduksi empat publikasi internasional.

Wakil Rektor I UNAIR periode 2010-2015 ini menuturkan, dosen dan mahasiswa wajib optimis bahwa dirinya sanggup membuat publikasi internasional. Modalnya, ketekunan dan keseriusan. Sebab, untuk bisa berkontribusi di jurnal bertaraf dunia, dibutuhkan penelitian dan pemikiran yang orisinal.

Tidak boleh asal tulis. Karena sudah pasti seleksinya ketat. Kapabilitas bahasa Inggris pun harus di level sangat baik. “Mewarnai dunia akademik di tingkat internasional itu hal yang lumrah dan sangat mungkin dilakukan civitas UNAIR. Saya sudah membuktikannya sendiri,” ungkap lelaki yang pernah menjadi dekan Fakultas Farmasi ini. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu