Pengajar Harus Total Menyesap Falsafah Ki Hajar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR NEWS – Para pengajar, baik dosen maupun guru, mesti secara total menyesap falsafah Ki Hajar Dewantara. Jangan hanya fokus pada satu tahapan saja. Seperti diketahui, ada tiga ungkapan Bapak Pendidikan Indonesia tersebut yang begitu populer. Yakni, Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani  (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang mendorong serta memberi kekuatan).

“Kalau mau benar-benar meniru Bapak Pendidikan kita, ketiganya harus dilakukan. Jangan hanya Tut Wuri Handayani, seperti yang tertera di badge dada sekolah dasar hingga menengah, ” ujar Prof Dr Drs Ahmad Syahrani Apt MS saat ditemui di laboratorium sintesis Fakultas Farmasi akhir pekan lalu (24/6).

Padahal, pelajar/mahasiswa tidak butuh hanya didorong. Tapi juga, diberi contoh yang baik. Termasuk, diberi semangat saat sedang belajar. Dengan demikian, mereka tidak merasa sendirian dan selalu diberi pengayoman. Belajar pun menjadi lebih giat dan terarah.

Terlebih, di era yang serba mudah seperti sekarang ini. Bila pengajar tidak sudi memberi contoh yang baik, pelajar akan mencari contoh di luar bangku sekolah/kuliah. Kalau sudah begini, bukan tidak mungkin yang dijadikan panutan malah tidak memenuhi syarat. Dan justru, menghancurkan aspek-aspek pendidikan bangsa yang sudah dibangun sejak lama.

Selain tiga ungkapan itu, Ki Hajar Dewantara juga mengaplikasikan konsep 3 Ng. Yakni ngerti (memahami), ngeroso (merasakan), dan ngelakoni (melakukan). Pelajar tidak hanya dituntut untuk mengerti atau paham pada teori. Namun juga, merasakan pelajaran melalui praktek. Bila sudah demikian, mereka akan bisa menerapkan ilmunya dengan baik dan melakukan hal-hal benar dengan pemahaman tersebut.

“Dalam perkuliahan zaman sekarang, mahasiswa tidak perlu lagi banyak menghapal untuk memahami sesuatu. Soalnya, semua informasi mengenai teori bisa didapatkan melalui gadget. Nah, kalau sudah demikian, mereka perlu diarahkan untuk memperbanyak praktek. Sehingga, dapat ngeroso dan ngelakoni dengan baik dan benar,” ujar Wakil Rektor I Unair periode 2010-2015 ini. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu