Rangkuman Berita UNAIR di Media Hari Ini (23/6)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi telegraph.co.uk

Mainkan Gadget di Kegelapan

Saat ini, gadget menjadi prioritas utama. Bahkan, pemakaian gadget oleh penggunanya sering mengabaikan beragam situasi yang berdampak buruk bagi kesehatan. Misalnya adalah soal pencahayaan gadget ketika ditempat gelap. Menurut dr, Randi Montana SpM, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus spesialis mata di RSUD dr Soetomo, yang berbahaya saat membuka gadget di tempat gelap adalah tereksposnya blue violet light yang timbul dari cahaya pada gadget. Dampaknya  bisa mempercepat age-related macular degeneration (AMD) atau degenerasi makula. Mekanismenya, blue violet light pada gadget  akan masuk dan merusak retina. Hal ini beresiko pada AMD dan resiko katarak. Pada mereka yang rutin menggunakan gadget, terutama di tempat gelap, risiko terkena katarak maju lebih cepat. Dampak yang bisa cepat dirasakan adalah mata kering dan mata lelah. Sedangkan mereka yang mengalami mata lelah akan merasakan gejala tidak nyaman saat melihat dan terasa perih. Selain itu, hal tersebut juga bisa berdampak pusing. Menurut dr Randy, penggunaan gadget memang tidak bisa dihindari. Meski demikian, sudah layaknya pemakaiannya mampu dibatasi.

Jawa Pos, 23 Juni 2016 halaman 36

Air Kelapa untuk Lapisan Pelindung Otak

Lima mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (FST UNAIR) berhasil  membuat durameter atau lapisan pelindung otak, dan sumsum tulang belakang yang berbahan dasar air kelapa. Durameter yang dibuat bersifat biocompatible (dapat diterima tubuh), sehingga aman untuk digunakan. Kelima mahasiswa tersebut adalah Inas Fatimah, Fadila Nashiri, Karina Dwi Saraswai, Andini Isfandiary, dan Fathania. Ide membuat lapisan pelindung otak itu didasari pada banyaknya kasus gegar otak. Di Indonesia, kasus gegar otak menempati urutan keenam dengan presentase penderita mencapai 0,4 persen dari total penduduk. Durameter ciptaan mahasiswa teknobiomedik dibawah bimbingan Dr, drg, Prihartini Widiyanti Mkes, ini terbuat dari selulosa bakteri dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum yang difermentasi dengan media air kelapa. Selulosa bakteri merupakan polimer alami yang bersifat biodegradable (limbah yang dapat terurai oleh makhluk hidup) yang memiliki kekuatan mekanis yang tinggi.

Jawa Pos, 23 Juni 2016 halaman 28

Penulis : Afifah Nurrosyidah
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu