Kebun Binatang Mini ala Fakultas Kedokteran Hewan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Salah satu ular yang menjadi peliharaan FKH UNAIR saat setelah bangun dari tidurnya (Foto: Alifian Sukma)

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga tak hanya memiliki fasilitas akademik yang menunjang kegiatan belajar mahasiswa, tetapi juga berbagai fasilitas pendukung yang unik. Salah satu fasilitas penunjang unik yang dimiliki oleh FKH UNAIR adalah kebun binatang mini.

Layaknya kebun binatang pada umumnya, instalasi satwa itu dihuni oleh tiga hewan yang berbeda. Di FKH UNAIR, hewan-hewan yang dipiara itu adalah iguana (Iguana iguana), kucing (Felis catus), dan ular (Boa constrictor imperator). Secara rinci, iguana yang dimiliki terdiri dari 11 ekor iguana dewasa, 8 ekor anak iguana, dan 11 telur iguana. Hewan ular terdiri dari 2 pasang jantan dan 2 pasang betina. Kucing yang dipelihara juga terbilang belasan.

Hewan-hewan itu sebagian berasal dari milik mahasiswa yang menaruh minat terhadap hewan-hewan melata. Contohnya, iguana. “Awalnya, karena ada minat dari mahasiswa FKH yang juga bergabung dengan komunitas lain di luar. Mereka ingin mendirikan suatu mini zoo yang ada di kampus. Akhirnya, kita berdiskusi dengan teman-teman lain dan dosen. Dan, usul kita diterima,” tutur Fajar, salah satu perintis penangkaran iguana.

Dalam pemeliharaan iguana, mahasiswa secara bergantian memberi makan sayur-sayuran sejenis kangkung, sawi, dan kecambah. Setiap harinya, kebutuhan pangan sebelas ekor iguana dicukupi dengan 20 ikat kecil kangkung, dan kecambah seharga Rp5ibu – Rp10 ribu. Terkadang, mahasiswa juga memberikan wortel kepada iguana.

Iguana-iguana yang dipelihara oleh FKH UNAIR. (Foto: Alifian Sukma)
Iguana-iguana yang dipelihara oleh FKH UNAIR. (Foto: Alifian Sukma)

Lain iguana, lain pula dengan ular. Menurut Fajar, salah satu keuntungan dalam memelihara ular adalah jadwal makan dan buang kotoran yang tidak perlu setiap hari. “Kita bisa ninggal sewaktu-waktu. Ular makannya kan dua minggu sekali. Makannya tikus gede yang putih itu satu ekor. Itu cukup dua minggu. Jadi, kita tidak perlu perawatan setiap hari seperti iguana yang harus kita kasih makan. Kalau mau buang kotoran itu sekitar sepuluh hari sekali,” tutur Fajar.

Fajar mengatakan, keempat ekor itu membawa gen albino. Sehingga, jika dikawinkan, mereka akan menghasilkan anakan yang albino juga. Ular yang dipelihara memiliki panjang sekitar 150 sentimeter. Kedua pasang ular itu ditaruh di dalam sebuah lemari kaca berukuran 2,5 meter.

Begitu pula dengan hewan piaraan seperti kucing. Menurut Reza Indra Pahlevy, selaku Ketua Divisi Pet pada Kelompok Minat dan Profesi Veteriner Pet and Wild Animal, kelompoknya kini tengah memelihara belasan kucing yang berkeliaran di sekitar kampus. Program memelihara kucing liar itu baru berjalan sejak awal Mei 2016.

Belasan kucing itu ditempatkan di tiga home range (daerah jelajah), yakni di salah satu sudut lantai dua, di lantai satu yang berdekatan dengan kandang iguana, dan di sudut hall lantai satu. “Untuk merawat kucing ini, kita sediakan home range dulu. Awalnya, kita lakukan pengenalan selama dua minggu. Baru mereka akan menetap di sini biar kucingnya nggak explore, atau cari pasangan di luar kampus,” tutur Reza.

Pada daerah jelajah, kucing disediakan rumah kayu, tempat makan dan minum, serta bak pasir. Secara teori, daerah jelajah juga merupakan sumber makan bagi hewan. Reza mengatakan, di daerah jelajah di sudut hall lantai satu, ada satu kucing pejantan dan enam kucing betina.

Salah satu spot yang sengaja disiapkan untuk kucing liar yang dipelihara oleh FKH (Foto: Alifian Sukma)
Salah satu spot yang sengaja disiapkan untuk kucing liar yang dipelihara oleh FKH (Foto: Alifian Sukma)

“Ada bak pasir untuk menampung kotoran kucing agar kucing itu punya insting kalau buang kotoran, ya, di pasir. Ada tempat air minum dan makanan. Kenapa tempat makanan agak lebar (nampan, red), karena kita melatih agar kucing itu tidak bertengkar. Karena di sini banyak keluhan kucing jantan sama jantan bertengkar,” imbuh Reza.

Tingkatkan kompetensi

Melihat mahasiswa yang begitu menyayangi hewan, Wakil Dekan II FKH UNAIR Dr. Mufasirin, drh., M.Si, mengatakan bahwa pimpinan FKH bangga dengan keaktifan anak didiknya. “Mereka memiliki kompetensi tidak hanya pada hewan-hewan domestik tetapi juga hewan liar. Ini merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh dokter hewan lulusan UNAIR,” tutur Mufasirin.

Menurutnya, keberadaan kelompok minat cukup penting dalam mewadahi minat mahasiswa. Bagi Mufasirin, mahasiswa tidak hanya wajib menjalani kurikulum pendidikan yang telah diatur, tetapi juga harus mengembangkan kemampuan diri melalui kelompok minat. Sebagai pimpinan, ia juga mendukung kegiatan mahasiswa, salah satunya melalui fasilitas tempat, pendanaan, dan kegiatan diskusi.

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu