Perwakilan dari FKH UNAIR turut serta dalam proses evakuasi paus terdampar di perairan Probolinggo. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS Sivitas akademika Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) turut berkontribusi dalam proses evakuasi mamalia jenis paus pilot yang terdampar di perairan Probolinggo, Jawa Timur. Dari 32 paus, sampai berita ini diturunkan ada 4 ekor yang sudah berhasil dievakuasi oleh tim gabungan FKH UNAIR, dinas, dan masyarakat setempat.

Sekitar dua tim yang terdiri dari 18 mahasiswa dan 3 dosen diberangkatkan dalam dua hari secara bergiliran oleh FKH UNAIR pada Rabu sore (15/6)dan Kamis pagi (16/6).

Salah satu pengajar FKH UNAIR yang turut mendampingi proses evakuasi paus adalah M. Yunus, drh., M.Kes., Ph.D. Ia mendapatkan laporan dari nelayan setempat, terkait adanya mamalia yang masuk ke perairan Probolinggo sekitar dua minggu lalu. Namun, pada saat itu, pihaknya belum mengetahui jenis mamalia yang dimaksud. Kebetulan, saat itu Yunus sedang mengadakan bimbingan teknis (bimtek) kepada pegawai perikanan dan kelautan wilayah setempat.

“Kita sempat prediksi, beberapa hari ke depan akan ada beberapa mamalia yang terdampar. Prediksi itu ternyata betul kejadian. Kami (FKH UNAIR, red) yang bekerjasama dengan dinas kelautan dan perikanan langsung berangkat atas persetujuan pimpinan FKH UNAIR,” tutur Yunus selaku ketua tim evakuasi dari FKH UNAIR .

Dalam proses evakuasi itu, tim penyelamatan gabungan terdiri dari akademisi FKH UNAIR, pihak dinas kelautan dan perikanan, kepolisian dan militer, kecamatan, dan warga setempat. Menurut Yunus, langkah pertama yang perlu dilakukan setelah diketahui ada mamalia laut terdampar adalah mensterilisasi wilayah sejauh seratus meter dari manusia.

“Mamalia laut itu sangat berbahaya kalau kita lakukan kontak langsung, karena badannya besar dan belum lagi kibasan ekornya. Di samping itu, mamalia laut juga berpotensi membawa patogen-patogen yang tidak kita ketahui, apakah dia sedang sakit sebagai carrier atau reservoir,” imbuh Yunus.

Setelah upaya sterilisasi area dilakukan, maka dilakukan penanganan mamalia. Kondisi paus yang terdampar di perairan Probolinggo bermacam-macam. Ada diantara mereka yang meninggal dan masih hidup. Yunus dan tim memprioritaskan untuk menyelamatkan paus yang masih hidup. Salah satu tantangan tim gabungan dalam evakuasi kali ini adalah lokasi paus terdampar yang nyangkut di muara perairan bakau.

“Kebetulan yang di pesisir Gending, lokasi pausnya terpencar, karena dia masuk ke muara-muara sungai yang bercabang. Nah, kesulitannya di situ. Pada bagian luar muara, perairan tergolong dangkal. Pas masuk ke dalam muara, perairannya juga agak dalam. Kondisi mereka ada yang bunting, tapi akhrinya induk dan anak mati. Ada juga yang mati entah karena capek atau stress. Ada yang masih hidup. Sebisa mungkin kepala mereka diarahkan ke laut, dan blow hole jangan tertutup air dan pasir,” tutur Yunus.

(Paling Kanan), M. Yunus, drh., M.Kes., Ph.D., salah satu dosen yang mendampingi tim FKH UNAIR yang mengevakuasi paus pilot di Probolinggo. (Foto: UNAIR NEWS)
(Paling Kanan), M. Yunus, drh., M.Kes., Ph.D., salah satu dosen yang mendampingi tim FKH UNAIR yang mengevakuasi paus pilot di Probolinggo. (Foto: UNAIR NEWS)

Dalam prosesnya, tim gabungan mengevakuasi paus sampai pukul satu malam. “Sampai nyemplung ke laut. Kasihan paus itu. Ada yang nyantol ke akar mangrove. Bayangkan, mamalia sebesar itu nyantol dan ada bagian tubuhnya yang terluka. Tapi kita lakukan evakuasi, karena kalau air laut surut bisa lebih susah lagi prosesnya,” imbuh Yunus.

Namun, karena malam sudah semakin larut dan air kian surut, satu ekor paus terdampar baru bisa diselamatkan pada Kamis pagi. Dari sembilan ekor paus yang sudah mati, para tim ahli langsung melakukan nekropsi.

Selain melakukan evakuasi, tim FKH UNAIR juga melakukan penelitian terhadap paus terdampar. “Selain untuk penelitian dan aspek medis, sekaligus sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa. Saat ini, sudah ada empat sampel paus yang sudah dinekropsi karena keterbatasan alat. Kita harus menyesuaikan keadaan setempat dan keadaan hewan,” ujar Yunus.

Berikutnya, akan ada pengujian sampel dari sisi patologi, parasit, dan serangkaian uji lainnya. Dari situ dapat terlihat, faktor-faktor yang membawa paus terdampar di perairan Probolinggo. “Ada banyak prediksi. Ada pasang rob yang tidak beraturan di wilayah Samudera Hindia dan membuat dia kebingungan. Kedua, rob ini membawa makanannya paus ke perairan dangkal, sehingga paus ini memburu sumber makanan. Ketiga, dia menghindar dari predator seperti Paus Orca. Keempat, dia bermigrasi dari suhu ekstrim ke suhu hangat,” tutur Yunus.

Meskipun sebanyak 9 ekor paus itu ditemukan mati akibat terdampar, Yunus mengatakan jumlah tersebut tergolong sedikit daripada mamalia-mamalia laut lainnya yang pernah terdampar. Hal ini juga berkat kerjasama tim gabungan, sehingga proses evakuasi yang berjalan cepat.

Salah satu mahasiswa FKH UNAIR yang turut mengevakuasi paus, Ma’ruf, mengatakan bahwa ini merupakan pengalaman menarik baginya. “Hal ini merupakan salah satu aktivitas learning by doing karena langsung mengobservasi dan mengevakuasi satwa liar air,” ujar ketua kelompok minat dan profesi veteriner pet and wild animal tersebut.(*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor : Dilan Salsabila

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone