Prof. Johan Silan (paling kiri) didampingi Warek I UNAIR, Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH., FINASIM., (paling kanan) bersama peserta Indonesia Leg of 2nd ASIAN Undergraduate Summit “Smart Education in Communty Health” di Aula Kahuripan UNAIR. (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Penerapan kota cerdas (smart city) saat ini sedang menjadi perbincangan di berbagai belahan kota di dunia. Berbagai langkah untuk mewujudkan kota cerdas dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Hal itulah yang menjadi salah satu landasan diadakannya kegiatan Indonesia Leg of 2nd ASIAN Undergraduate Summit “Smart Education in Community Health”.

Indonesia Leg of 2nd ASIAN Undergraduate Summit berlangsung selama enam hari. Salah satu rangkaian kegiatannya yaitu memberikan gambaran mengenai konsep kota cerdas yang diterapkan di Surabaya. Sembilan mahasiswa National University of Singapore (NUS) dan sepuluh mahasiswa UNAIR terpilih berkesempatan mengikuti diskusi mengenai konsep kota cerdas yang diadakan di Aula Kahuripan UNAIR, Senin (13/6).

Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH., FINASIM., selaku Wakil Rektor I menuturkan, dengan dilaksanakannya kegiatan ini, mahasiswa yang hadir nantinya dapat lebih memahami beragam permasalahan yang terjadi di Indonesia, khusunya Surabaya. Bagi Prof Djoko, konsep kota cerdas yang diterapkan di Surabaya merupakan langkah berkelanjutan untuk menangani beragam masalah, seperti transportasi, infrastrukutur, dan kesehatan. Prof. Djoko juga mengatakan bahwa beragam solusi yang telah diterapkan untuk menangani beragam masalah yang ada di Suarabaya ini bisa menjadi media belajar bagi para peserta.

“Setelah ini kalian akan banyak belajar. Saya percaya kedepan kalian bisa melakukan hal lebih,” tegasnya.

Turut hadir dalam cara tersebut Ketua Badan Perencanaan dan Pembangunan  Kota (Bappeko) Surabaya, Agus Imam Sonhaji. Pihaknya mengatakan, langkah kota cerdas yang diterapkan Surabaya berangkat dari prakiraan tahun 2035 mendatang yang mana 70% penduduk dunia akan tinggal di kota. Ia menambahkan, masalah hari ini seperti air dan kemacetan sudah cukup membuat resah warga.

“Bisa dibayangkan, kalau kita tidak melakukan langkah kota cerdas mulai hari ini apa jadinya nanti?,” jelasnya.

Senada dengan ketua Bappeko, Prof. Johan Silas selaku pakar Planalogi Surabaya mengatakan, konsep kota cerdas meliputi banyak aspek dan tidak sekedar menggunakan kecanggihan teknologi saja. Langkah terobosan dalam dunia kesehatan, kelengkapan transportasi, dan berbagai hal yang menunjang perekonomian menjadi bagian penting kota cerdas.

“Kemampuan yang kalian miliki bisa untuk mewujudkan kota cerdas. Apapun, lakukan dan berikan bagi yang membutuhkan,” tegasnya.

Selepas acara, Anis Wulandari mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat menuturkan bahwa keikutsertaannya dalam acara tersebut selain memang merupakan bagaian dari studinya  juga ingin semakin memahami makna dari konsep kota cerdas.

“Materinya sangat membuka pikiran, sehingga kami tahu apa makna kota cerdas yang sebenarnya. Dengan begitu kami tahu bagaimana harus menempatkan diri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” jelasnya.

Senada dengan Anis, Dexter Thing selaku mahasiswa NUS mengatakan, selain sesuai dengan jurusannya, ia juga bisa mengetahui hal-hal yang sudah diimplementasikan di Surabaya dalam bidang kesehatan. Pengetahuan tersebut nantinya bisa ia bawa ke Singapura.

“Yang sudah disampaikan dalam materi ini memberikan arti yang sebenarnya dari makna cerdas. Hal-hal yang bisa diimplementasikan di Surabaya nantinya memang tidak serta-merta langsung kami aplikasikan di Singapura. Kami lihat dulu. Sehingga bisa cocok untuk masyarakat di sana,” jelasnya.

Ditemui di ruang kerjanya, Ketua International Office and Partnership (IOP) UNAIR Dian Ekowati, Ph.D., menuturkan, program kerjasama IOP dan Direktorat Pendidikan ini diadakan untuk memfasilitasi mahasiswa agar bisa mengasah kemampuan kearah global. Hal tersebut juga sebagai upaya mewujudkan visi UNAIR menuju kampus kelas dunia. Ia juga menambahkan, dengan adanya kegiatan tersebut mahasiswa UNAIR dan NUS bisa saling memahami konsep kota cerdas menurut negara mereka masing-masing.

“Pemahaman kota cerdas mereka memang berbeda. Dengan kegiatan seperti ini, kan jadi tahu konsep kota cerdas di Surabaya, begitu juga sebaliknya,” pungkasnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone