Tradisi Carok di Madura Alami Pergeseran Makna

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ketika Tim PKMP-SH melakukan wawancara dengan nara sumber kepolisian di sebuah Polsek di madura. (Foto: Dok Tim)

UNAIR NEWS – Benarkah “tradisi” carok pada masyarakat etnis Madura sekarang ini sudah mengalami pergeseran makna? Itulah faktanya yang ditemukan dalam penelitian Program Kreativitas Mahasiswa bidang Sosial Humaniora (Soshum) oleh lima mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR).

Fadillah dan empat temannya yaitu Fadhli, Lidya, Wildan dan Amanda, menemukan beberapa data baru yang belum pernah ditemukan dalam penelitian carok sebelumnya.

Seperti diketahui, mengutip Wikipedia, carok merupakan tradisi bertarung (berkelahi) yang disebabkan karena alasan tertentu yang berhubungan dengan harga diri kemudian diikuti antar kelompok dengan menggunakan senjata (biasanya celurit).

Tetapi Tim PKMP-SH yang lebih menekankan pada pergeseran makna carok itu sendiri, menemukan bahwa carok yang dulunya terjadi hanya karena hal-hal serius seperti perebutan perempuan, merebut isteri orang, rebutan tanah warisan, dan lain-lain, sekarang mengalami pergeseran dimana hanya karena salah perkataan atau menerima hinaan yang sepele saja bisa terjadi carok.

PKMP-SH yang meneliti tentang carok ini merupakan salah satu PKM yang bergerak di bidang penelitian dan berhasil memperoleh dana dari DIKTI. PKMP-SH tentang carok ini mengambil tema yang sangat sensitif, tetapi juga menarik yaitu tentang tradisi carok yang ada di Madura, Jawa Timur.

M Fadhillah membenarkan bahwa carok adalah tradisi pembelaan harga diri yang sudah menjadi budaya sangat melekat di daerah Madura, dimana disini jika ada seseorang yang merasa diinjak-injak harga dirinya ia akan menantang berkelahi orang yang menghinanya tersebut dengan menggunakan senjata celurit.

Carok ini bisa terjadi karena beberapa hal seperti jika ada seseorang yang istrinya direbut oleh orang lain, maka seseorang tersebut tidak segan-segan untuk menantang berkelahi orang yang mengambil isterinya.

”Sebab di daerah Madura harga diri adalah nomor satu dan sangat dijunjung tinggi, tetapi kelompok PKM-SH disini memberikan sentuhan baru dari penelitian-penelitian carok yang sudah ada sebelumnya,” katanya.

Karena itu tim PKMP-SH yang mengupas tentang carok ini, ingin memfokuskan pandangan orang-orang yang berada diluar Madura agar tidak memandang bahwa segala bentuk kekerasan yang dilakukan dengan menggunakan celurit di daerah Madura adalah tradisi carok dan juga ingin memperlihatkan data baru yang belum ada pada penelitian carok sebelumnya, misalnya tentang pergeseran-pergeseran tradisi carok pada sekarang ini yang sudah berubah dari tradisi carok pada awalnya. (*)

Penulis : Bambang ES

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu