Kunjungi UNAIR, AIC Bahas Kerjasama Penelitian dan Ajang Research Summit

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suasana diskusi antara Delegasi AIC dengan UNAIR, membahas tentang kerjasama riset kolaborasi dan event Researh Summit. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Dalam rangka mengembangkan riset kolaborasi, UNAIR kembali menerima kunjungan dari The Australia Indonesia Centre (AIC). Badan yang mewadahi kerjasama riset antar perguruan tinggi di Australia dan Indonesia tersebut membahas kerja sama pada Senin, ( 13/6).

Dalam kunjungannya, AIC yang diwakili oleh Prof. Richard Price selaku Direktur Penelitian AIC, dan Katrina Reid selaku AIC Research Officer, diterima oleh UNAIR melalui International Office and Partnership (IOP) dan perwakilan dari Fakultas di lingkungan UNAIR. Pertemuan yang dilaksanakan di ruang Sidang Pleno, Gedung Manajemen UNAIR tersebut membahas mengenai kerjasama antara empat Perguruan Tinggi (PT) di Australian dengan UNAIR.

“PT Australia yang kerjasama itu ada empat PT, Monash University, Australia National University, The University of Melbourne dan The University of Sydney. Sedangkan di Indonesia ada tujuh PT, salah satunya ya UNAIR,” ujar Margaretha, S.Psi., P.G.Dip.Psych., M.Sc, selaku Deputi IOP UNAIR.

AIC memiliki empat bidang dalam tema riset kolaborasi, yaitu bidang energi, bidang infrastruktur, bidang kesehatan, dan bidang agrikultur. Dalam hal tersebut, AIC akan bekerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang yang telah ditentukan. UNAIR menjadi salah satu universitas yang diajak kerjasama dengan AIC, pasalnya UNAIR memiliki keunggulan di bidang kesehatan.

“Terdiri dari empat cluster (bidang,- red). UNAIR sebagai leader di cluster health,” ujar Margaretha.

Dalam kesempatan tersebut, AIC menginginkan agar kerjasama dibidang riset dapat diperluas lagi, sehingga semakin banyak peneliti di UNAIR yang berminat untuk mengembangkan kerjasama riset dengan Collaborator di Australia, terutama dari empat Universitas ternama di Australia.

“AIC ini sudah disepakati oleh Kemenristekdikti sebagai bentuk kerja sama yang unggul, artinya Kemenristekdikti akan menyediakan pendanaan jikalau terjadi kerja sama riset,” ungkap Margaretha. “Kalau semakin banyak peneliti UNAIR mau terlibat disini, itu akan memperluas kesempatan peneliti UNAIR untuk menggunakan dana Kemenristekditi untuk kolaborasi riset internasional,” imbuhnya.

Meskipun demikian, Margaretha menjelaskan beberapa kendala yang ditemui saat sedang melakukan riset kolaborasi,  salah satunya adalah perbedaan minat dari peneliti. Pasalnya selama ini seorang peneliti akan memiliki ide penelitian yang berbeda dengan yang lainnya.

“Riset kolaborasi adalah hal yang diinginkan namun tidak mudah untuk dilaksanakan, karena itu butuh proses. Harus ada persamaan minat bagi peneliti, sama-sama dibidang kimia tapi dalam bidang apa, kan harus di matching kan istilahnya,” jelasnya.

Selain membahas tentang riset kolaborasi AIC, pertemuan tersebut juga membahas event Research Summit, yaitu pertemuan oleh berbagai peneliti dari Australia dan Indonesia. Margaretha menjelaskan, tujuan diadakannya Research Summit adalah agar peneliti di Indonesia dan Australia saling sharing informasi yang didapat terkait riset mereka selama ini.

“Rencananya diadakan pada Bulan Agustus tahun ini, di Surabaya,” tandasnya.

Margaretha berharap, para peneliti UNAIR dapat menggunakan kesempatan event perkumpulan para peneliti tersebut guna menampilkan karya penelitian mereka selama ini.

“Paling tidak untuk memperkuat recognition global, jadi pengakuan dari internasional,” jelasnya. “Artinya research summit ini bisa dijadikan ajang bagi peneliti di UNAIR yang pernah bekerjasama dengan peneliti di Australia untuk menampilkan karyanya,” imbuhnya mengakhiri. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu