Mahasiswa UNAIR Sukses Kembangkan Pelestarian Bahasa Jawa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Anggota Karang Taruna yang bergiat dalam Sanggar PANDOWO, di Desa Bandungsekaran, Kec. Balongpanggang, Gresik. (Foto: Dok Tim PKM)

UNAIR NEWS – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM) Fakultas Keperawatan (FPk) Universitas Airlangga berhasil mendirikan Paguyuban Pranoto Adicoro Jowo (PANDOWO) sebagai pembelajaran untuk mempertahankan budaya Bahasa Jawa dari keterpurukan ditengah arus modernisasi. Hal itu sudah dibuktikan pada Karang Taruna (Kartar) “Insan Mandiri” Dusun Wadang, Kec. Balongpanggang, Kabupaten Gresik.

Sebanyak 20 remaja anggota Kartar tersebut setelah diberi materi pembelajaran selama delapan kali pertemuan, dan pertemuan terakhir sebagai event project, yaitu praktik langsung pada suatu acara resepsi pernikahan dan penyuluhan, sekarang para remaja generasi muda itu menjadi tim dan berani berkolaborasi dengan senior pranoto adicoro di desa itu yang sudah professional, yaitu Sdr. Edi Pranoto.

Diah Priyantini, ketua Tim PKMM beranggotakan lima mahasiswa FPk UNAIR ini menjelaskan, bahwa latar belakang kegiatannya hingga lolos mendapatkan dana hibah dari Dirjen Dikti Kemenristek Dikti untuk membiayai pengabdiannya ini, karena sasarannya yang sangat positif yaitu untuk menegakkan kembali kekayaan Nusantara khususnya mempertahankan “bahasa ibu”, dalam hal ini Bahasa Jawa dari ketergerusan modernisasi.

Seperti diketahui, kondisi bahasa Jawa saat ini semakin berkurang aplikasinya di masyarakat. Selain diduga akibat modernsiasi juga ada alasan karena dalam Bahasa Jawa itu terdapat banyak tingkatannya dan dianggap kuno. Ini ironis, sebab Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keragaman budaya, diantaranya bahasa. Selain Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, di Indonesia terdapat 748 bahasa ibu (yaitu seseorang menggunakan bahasa untuk pertama kalinya), termasuk di dalamnya Bahasa Jawa yang jumlah penutur aslinya menempati urutan ke-15 dunia.

Meskipun di era sekarang juga dituntut untuk menguasai bahasa internasional, tetapi remaja sebagai agent of chage diharapkan tidak melupakan bahasa Ibunya, karena bahasa ibu merupakan kekayaan Nusantara yang harus tetap dipertahankan.

Berawal dari keadaan demikianlah lima mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) UNAIR itu bergiat setelah menemukan pergeseran kondisi dalam sisi berbahasa di wilayah Gresik itu. Adab krama anak muda kepada orang yang lebih tua sudah mengalami penurunan. Padahal di organisasi Kartar “Insan Mandiri” itu juga memiliki beberapa kegiatan, termasuk grup Tari dan Musik, namun keberadaan grup tersebut hanya aktif di awal kepengurusan, karena tingkat kontribusi remaja yang cenderung menurun.

“Berangkat dari kondisi yang seperti itulah kami bergiat,” kata Diah Priyantini, didampingi keempat rekannya: Dluha Mafula, Della Febien Prahasiwi, Tri Lestyorini, dan Lailaturohmah Kurniawati. Mereka berlima dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM) ini berusaha memperbaiki kondisi, khususnya dalam krisis budaya Jawa di Kartar itu dengan membuat kegiatan bernama PANDOWO (Paguyuban Pranoto Adicoro Jowo).

Pelaksanaan pembelajaran di dalam Sanggar PANDOWO oleh Tim PKMM UNAIR. (Foto: Dok Tim PKM)
Pelaksanaan pembelajaran di dalam Sanggar PANDOWO oleh Tim PKMM UNAIR. (Foto: Dok Tim PKM)

Idealnya, Kartar sebagai organisasi generasi muda seharusnya mampu melakukan pergerakan yang unggul. Sehingga bersama PANDOWO, Diah Dkk ingin memperbaiki kondisi krisis budaya Jawa ini dengan fokus kegiatan pada peningkatan peran remaja dalam pelestarian Budaya Bahasa Jawa di kalangan remaja.

Mengapa harus memilih dengan pranotoadicoro (MC berbahasa Jawa)? Dijelaskan bahwa pemilihan pranotoadicoro itu sebagai fokus dalam peningkatan pengetahuan Bahasa Jawa bagi remaja, sasarannya agar remaja itu kelak mampu menggantikan seniornya sebagai pembawa acara sekaligus pelestari bahasa. Selain itu pembelajaran dengan pranotoadicoro akan lebih menyenangkan karena disertai praktik menjadi pembawa acara secara langsung, sehingga ada nilai lebihnya yaitu berlatih public speaking.

“Tingkat partisipasi peserta tercatat aktif, responnya juga positif. Hal itu dibuktikan dengan terbentuknya sanggar seni PANDOWO sebagai bentuk kegiatan lanjutan dari program PKM ini. Jadi sekarang kami merasa bangga karena masyarakat sasaran bisa mengembangkan apa yang sudah kami berikan,” kata Diah mewakili rekan-rekannya.

Bagi Ketua Kartar Insan Mandiri, Pendik Ivanto, kegiatan PANDOWO ini sudah memberikan dampak positif bagi anggotanya. Buktinya Kartar yang dulunya saat kumpul-kumpul jarang melakukan hal yang bermanfaat, sekarang menjadi lebih aktif dan bermanfaat.

Harapan kedepan, Tim PKMM FPk UNAIR ingin keberlanjutan kegiatan positif pengembangan Bahasa Jawa –yang sekarang diadaptasi menjadi Sanggar PANDOWO sebagai wadah kegiatan remaja di Desa Bandungsekaran Kab. Gresik untuk terus meningkatkan potensi mereka, sehingga Bahasa Jawa akan tetap terjaga ditengah modernisasi sekarang ini. (*)

Penulis : Bambang Bes

 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu