HIMAHI adakan Simulasi Sidang PBB Bahas Perkembangan Dunia Maritim

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suasana Simulasi Sidang AYMUN (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Universitas Airlangga kembali mengelar acara simulasi sidang PBB yang dinamakan Airlangga Youth Model United Nations (AYMUN). Tema yang diangkat kali ini adalah “The Evolving Maritime World”. Dalam simulasi tersebut dibahas mengenai isu-isu internasional terkini dengan mengupayakan upaya-upaya solutif dalam penyelesaian masalah. Mekanisme sidangnya pula, dibuat pula model tiga dewan, yaitu WTO, UNEP, dan UNSC.

Bertempat di Crown Prince Hotel Surabaya, kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 3 hingga 5 Juni tersebut sangat variatif, mulai dari panel diskusi, city tour, simulasi sidang, membuat draft resolusi dan pemberian penghargaan.

“Simulasi sidang kali ini membahas isu-isu internasional dan mekanisme penyelesaian masalah seputar isu perkembangan dunia maritim,” ungkap Tara Wardhani, salah satu panitia.

Dalam sesi diskusi panel pada hari pertama, peserta AYMUN mendapatkan materi tentang isu-isu perbatasan, pencairan es di wilayah arktik, dan isu penting lainya seputar perkembangan dunia kemaritiman. Materi langsung diberikan oleh para ahli, diantaranya Prof. Dr. Makarim Wibisono, MA-IS. MA, Gracia Paramitha, S. Hub. Int., M. Si, dan Komandan Guspurla Koarmatim Laksamana Pertama TNI ING Ariawan, S. E., M. M.

Dalam salah satu sesi pembukaan, Prof Makarim Wibisono berpesan kepada peserta AYMUN, bahwasanya generasi muda harus melek informasi terkait diplomasi Indonesia, khususnya dinamika sengketa Laut China Selatan.

“Saatnya generasi muda meneruskan perjuangan diplomasi Indonesia,” tandas guru besar Hubungan Internasional UNAIR.

Pada hari yang sama pula, peserta AYMUN ditugaskan untuk menyampaikan faktor-faktor penyebab isu terkait dan posisi negaranya dalam isu tersebut secara umum. Pada sore harinya,  kegiatan dilanjutkan dengan sesi city tour Surabaya ke tempat yang memiliki nilai historis, seperti Tugu Pahlawan, Hotel Majapahit, Monumen Kapal Selam, dan Monumen Bambu Runcing.

“Adanya Panel Discussion pada hari pertama ini sendiri berguna untuk memberikan pemahaman lebih sebelum kemudian para peserta melakukan simulasi sidang PBB,” jelas Btari Istighfarrah, selaku ketua panitia AYMUN.

Hari kedua, peserta mulai fokus pada simulasi sidang yang membahas resolusi-resolusi isu yang sebelumnya sudah difokuskan. Dalam sesi ini pula, peserta sidang dapat mengajukan solusi-solusi terhadap isu yang juga mempertemukan kepentingannya sebagai negara. Dalam mekanisme sidang di setiap dewannya, peserta sidang pun antusias, sebagaimana terlihat dari serunya perdebatan dan sikap mentingkan kepentingan negaranya atas isu kemaritiman.

Hari ketiga, sidang diarahkan pada perumusan draf resolusi mengenai isu-isu yang dibahas. Rumusan draf-draf tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi pemungutan suara untuk memilih draft yang akan digunakan sebagai hasil akhir dari sidang tersebut. sidang ini kemudian diakhiri dengan closing party yang diselenggarakan di Restoran Mahameru Surabaya. Penutupan tersbut juga terdapat pemberian penghargaan pada peserta yang mampu membawa role play-nya sebagai negara dengan sesuai dan diplomatis.

Penulis: Ahalla Tsauro

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu