Equilibrium, Eksplorasi Tema dalam Sastra Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Buku Cerpen (Foto: Koleksi Bramantio)

UNAIR NEWS – Di Universitas Airlangga, sudah banyak sastrawan yang telah memperkenalkan karya-karya mereka pada publik, baik dari mahasiswa, alumni, atau bahkan dosen. Tak jarang pula acara bedah buku dilaksanakan di area kampus untuk mengapresiasi hasil karya mereka. Seperti yang baru saja digelar pada Jumat, (03/05), di Ruang Siti Parwati Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR  untuk menyambut dan mengapresiasi sebuah kumpulan cerpen hasil tangan seorang dosen Sastra Indonesia, Bramantio, S.S., M.Hum., yang bertajuk Equilibrium. Equilibrium merupakan karya pertama Bramantio yang diterbitkan secara indie melalui penerbit Ar-Ruzz Media pada 29 Februari 2016. Dalam kumcer yang memiliki ketebalan 162 halaman tersebut, terdapat sembilan cerpen yang disusun secara berurutan sesuai dengan abjad, yaitu: “Anomali”, “Bizarroseania”, “Chimera”, “Doppelganger”, “Equilibrium”, “Fabelofobia”, “Grotesque”, “Hominivorax”, dan “Inkubus”.

Bedah buku yang dihadiri oleh para mahasiswa dan dosen, mendatangkan pembedah dari alumni Sastra Indonesia, yakni Arief R. Hakim. Melalui catatannya Arief menyampaikan bahwa Equilibrium mengingatkannya pada James Joyce. Ia menemukan adanya kegenitan serupa Dubliners yang merayu pembaca dengan alusi-alusi, baik yang biblikal, mitologis, atau sosiokultural.

“Kegenitan saya temukan melalui karakter-karakter dengan nama Idirs, Christian, Ahmad, Aleph yang menggiring pada suatu hal yang transenden, demikian dengan Cerberus, Chimera, atau Vishnu,” jelas Arief.

Proses Kreatif Equilibrium

Selama berproses, Bramantio mencatat apapun yang dianggapnya menarik dari bacaan, film, atau keseharian. Hal-hal tersebut selanjutnya diolah ketika berada dalam kondisi yang baik, yakni tidak sedang lelah, suntuk, marah, sedih, atau mengerjakan hal lain. Baginya, menulis bukanlah kerja sampingan sehingga menuntutnya untuk bisa fokus dalam berproses.

“Cerpen-cerpen dalam Equilibrium sebagian lahir satu dasawarsa lalu. Bertahun-tahun kemudian mereka dengan caranya masing-masing datang dan pergi serupa hantu yang senantiasa dirindukan untuk tumbuh terus-menerus hingga wujud paripurna,” tuturnya.

Ahli naratologi tersebut tidak pernah menyangka bahwa yang terberat sepanjang proses penyelesaian buku ini bukan menemukan celah dan cahaya untuk mengatasi kebuntuan dan kegelapan gagasan. Bukan pula merumuskan rangkaian kata yang merengkuh dan menghidupi momen.

“Seperti halnya menjalani hidup, yang terberat adalah mengikhlaskan. Mengikhlaskan cerita-cerita ini membentangkan jalan hidupnya sendiri,” imbuhnya.

Bagi Bramantio, pemilihan tema dalam Equilibrium dianggap sebagai suatu hal yang absolut. Ia merasa nyaman dengan tema-tema yang masih jarang dipahami oleh orang awam. Ia mengaku tidak suka melakukan riset dan karena itu pula tidak suka menggarap tema-tema kontekstual. Selain itu, ia menganggap pemilihan mitos atau fenomena yang terjadi di belahan dunia lain sangat menarik dan membuka banyak peluang interpretasi baru.

“Saya ingin sastra Indonesia lebih kaya eksplorasi tema cerita dan perspektif penceritaan, melihat banyak hal melalui mata yang tidak itu-itu saja. Harapan untuk buku saya ke depan, semoga ia berumur panjang dan mendapat jalan yang lapang,” katanya.

Sebelum menciptakan sebuah karya sastra, sebelumnya Bramantio dikenal sebagai seorang kritikus sastra yang berkompeten. Naskah kritiknya pernah meraih predikat pemenang ketiga dalam Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2007 dan predikat pemenang pertama dalam Sayembara Telaah Sastra Dewan Kesenian Jakarta pada 2009. Dengan latar belakang seorang kritikus, Bramantio menganggap bahwa kritikus juga perlu memiliki keterampilan dalam mengolah kata-kata secara tertulis.

“Mereka (kritikus) seharusnya mampu menyampaikan gagasannya tentang apapun dengan baik, tidak sekadar secara lisan, tetapi juga tulis,” tutupnya. (*)

Penulis : Lovita Martafabella
Editor  : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu