Ketua ITD UNAIR, Prof. Inge Lusida, dr., Ph.D. saat ditemui di ruang kerja. (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Pada tahun 2016, Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR kembali mendapatkan penghargaan dari Dirjen Kelembagaan IPTEK DIKTI. Sebelumnya, lembaga riset di bidang penyakit tropik infeksi UNAIR tersebut telah meraih penghargaan sebagai Pusat Unggulan IPTEK(PUI) sejak tahun 2012. Namun, kali ini yang membedakan adalah PUI-Perguruan Tinggi (PUI-PT) dengan ciri khas Perguruan Tingginya, dibagi menjadi Orientasi Produk (OP) dan Orientasi Sains (OS).

“2016 ini Kemenristekditi mengumpulkan PUI yang berasal dari Perguruan Tinggi dan memisahkan orientasinya, menjadi pusat unggulan IPTEK orientasi produk yang disebut PUI-PTOP, kemudian ada pusat IPTEK yang berorientasi Sains yang disingkat PUI-PTOS,” ujar Prof. Inge Lusida, dr., Ph.D.

“Proses perpindahan tersebut tidak terjadi begitu saja, namun melalui seleksi bertahap yang cukup ketat, dan akhirnya dikategorikan menjadi 3 grup berdasarkan kualitas kemampuannya,” imbuhnya.

Ketua ITD UNAIR tersebut menjelaskan, bahwa kategori yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti ini disesuaikan dengan kelayakan PUI dari suatu Perguruan Tinggi. Target kinerja bagi PUI dibenahi hingga akhirnya layak sebagai sebuah lembaga Perguruan Tinggi dengan status Pusat Unggulan.

Prof Inge menekankan bahwa proses seleksi tersebut tidak mudah. Pasalnya ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk dapat ditetapkan sebagai PUI-PT.

“Jadi tahun ini pesertanya masih dibatasi dulu, berdasarkan tahun sebelumnya yang sudah ditetapkan sebagai pusat unggulan, dan ditambah beberapa perguruan tinggi yang dianggap layak untuk berkompetisi menjadi pusat unggulan. Perlu ditekankan ini bukan begitu saja, tetapi melalui seleksi,”ujar Guru Besar bidang Mikrobiologi Klinik FK UNAIR tersebut.

Mengenai tahap seleksi tersebut, Dr. drh, EduardusBimoAksono, M.Kes bersama dengan Dr. Ahmad Fuad Hafid, Apt, yang ikut terlibat dalam pengisian borang assessment dan pembuatan proposal PUI-ITD UNAIR menambahkan, ada tiga tahap dalam penentuan PUI-PT. Tahap pertama, seluruh Universitas yang diundang mengisi Borang Assesment dan melaporkan capaian target kinerjanya padatahun 2015 untuk dinilai.

“Lalu tahap kedua, mereka diundang untuk melakukan presentasi proposal tahun 2016.Tahap pertama dan kedua itu sudah ada yang gugur, terus kemudian yang tidak gugur ini dikategorikan menjadi 3 cluster (kelompok,- red)), dimana ITD-UNAIR termasuk dalam cluster 1,kemudian di tahap ketiga, diundang untuk membuat proposal kegiatan tahun 2016, dimana tahap ini sangat menentukan jumlah besar dana yang akan diberikan,” ujar Sekretaris Pusat Informasi dan Humas UNAIR tersebut.

Seraya mengamini penjelasan Bimo, Prof Inge menambahkan, dalam tahap pengajuan proposal, target kinerja yang diajukan harus mencakup tiga tahun.“Nah, ini arahnya semacam pembinaan menuju ke STP (Science Technology Park,-red),” imbuhnya.

Dengan ditetapkannya ITD UNAIR sebagai Pusat Unggulan di bidang kesehatan dan obat pada Jumat, (3/6) lalu, Prof Inge berharap agar support dana yang diberikan dapat menunjang perkembangan ITD UNAIR, sehingga ITD UNAIR memang layak diberikan predikat unggul dalam skala nasional maupun internasional.

“Ini penghargaan yang bergengsi, dengan demikian kita dapat dikenal oleh internasional dan nasional, support dana yang diberikan juga akan menunjang perkembangan kita didalam penelitian guna menghasilkan berbagai produk atau pun publikasi internasional.,” pungkasnya.(*)

Penulis : Dilan Salsabila

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone