Ramadhan, Momentum Penyadaran Diri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
REKTOR Universitas Airlangga Prof. Moh Nasih mengawali ceramah “kultum” dalam tradisi sehabis salat Dhuhur di masjid “Ulul ‘Azmi”, Kampus C UNAIR, Senin (6/6). (Foto: Bambang ES)

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak., mengajak kepada kita, khususnya jemaah Masjid Ulul ‘Azmi Kampus C UNAIR untuk benar-benar bisa memanfaatkan bulan suci Ramadhan 1437 H ini untuk meningkatkan ibadah dan kecintaan kepada Allah SWT. Mengapa hal itu ditekankan, karena yang bisa memuliakan diri kita ini selain kita sendiri juga  Allah yang memberi kesempatan.

“Allah memberikan kesempatan kepada kita melalui bulan Ramadhan ini harus bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin,” kata Rektor dalam “Kultum” (Kuliah tujuh menit) perdana di Masjid “Ulul ‘Azmi” Kampus C UNAIR, Senin (6/6). Kultum ini merupakan kesempatan pertama mengawali tradisi Ramadhan di UNAIR setelah masjid bantuan Alumni UNAIR itu diresmikan Jumat (27/5) lalu.

Menurut Guru Besar Bidang Akuntansi FEB UNAIR ini, kalau ingin mulia di hadapan Allah maka tidak ada jalan lain selain harus memanage nilai-nilai kecintaan kita kepada Allah. Misalnya rela berkorban untuk tidak terlalu mencintai dunia (hubbud dunya), menjaga kehormatan untuk tidak berbuat tercela semisal menjadi koruptor, dan tidak melakukan perbuatan hina.

“Karena itu mari kita kelola cinta kita kepada Allah secara sadar bahwa kita ini hamba-NYA, dan bukan hamba dunia. Sebab hubbud dunya secara berlebihan bisa merusak kemuliaan kita dihadapan Allah,” lanjut Rektor.

Disebutkan bahwa hal diatas merupakan satu dari dua hal yang harus bisa kita atasi, setidaknya momentum itu dimulai pada Ramadhan bulan yang penuh hikmah ini. Hal yang kedua adalah posisi kita sebagai konsumen pada dunia yang mengarah pada kapitalistik dan sosialisme, dimana kedua paham tersebut tidak berkembang sesuai ajaran Islam.

”Kapitalisme itu mengarah kepada kepentingan dunia, yang merangsang untuk cinta dunia secara berlebihan,” tambahnya.

Peringatan itu sudah terjadi, yakni sebanyak 20% penduduk Indonesia sudah menguasai 80% kekayaan alam Indonesia. Harta kekayaannya tidak saja tidak habis untuk tujuh turunan, tetapi mungkin juga untuk belasan turunan. Artinya, hanya 20% kekayaan alam Indonesia saja yang harus dibagi untuk 80% penduduk Indonesia lainnya. Inilah yang juga mengakibatkan ketimpangan sosial ekonomi dan jurang kaya-miskin yang semakin lebar.

”Karena itu di bulan Ramadhan inilah sebenarnya kita diajarkan dan diharapkan untuk tahu diri, dan melalui puasa sesungguhnya Allah mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhiratnya. Harta benda dan kekayaan bukan segala-galanya, dan puasa mengajarkan kita untuk tidak menjadi hamba dunia,” demikian Prof. Moh Nasih dalam ceramah kultumnya. (*)

Penulis : Bambang Bes
Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu