Hobi Berkuda Sejak Kecil, Mahasiswa Komunikasi UNAIR Wakili Jatim di PON Jabar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Zahlul Yussar saat tampil di Kejuaraan Basarnas 2016. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Tak banyak yang tahu, olahraga berkuda ternyata memiliki banyak sekali manfaat, selain menyehatkan badan, berkuda juga dapat dijadikan sebagai alternatif untuk terapi bagi penyandang Autis (gangguan otak penyebab sulit bersosial). Hal tersebut dikemukakan oleh Zahlul Yussar, mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom) UNAIR angkatan 2014, yang memiliki hobi berkuda sejak kecil.

“Untuk alternatif bagi Autis itu bisa diterapi dengan berkuda, terus sehat di badan.  Yang terpenting adalah berkuda merupakan salah satu sunnah rasul,” tuturnya.

Namun hobi berkuda bukan merupakan kegemaran yang umum. Tak banyak orang yang mengenal dan melakukan aktifitas berkuda, hal tersebut tak terlepas dari banyaknya pemikiran orang yang menganggap bahwa berkuda merupakan olahraga yang hanya bisa diikuti oleh orang yang mampu, pasalnya berkuda dianggap membutuhkan biaya yang mahal.

“Banyak orang yang beranggapan kalau berkuda itu butuh biaya yang mahal, padahal tidak,” tegas mahasiswa yang akran disapa Zahlul.

Demi menghilangkan paradigma masyarakat tersebut, Zahlul mendirikan sebuah kursus berkuda bernama “Ameg Stable Equestrian” di kawasan Balungdowo, Sidoarjo pada tahun 2015. Selain biaya pendaftaran yang terjangkau, pihaknya juga menyiapkan seluruh perlengkapan untuk berkuda bagi member yang sudah terdaftar, mulai dari sepatu khusus, pelindung kepala, dan lima ekor kuda milik Zahlul yang disediakan bagi member yang terdaftar. Kini, kursus kuda miliknya itu sudah memiliki anggota tetap berjumlah enam orang.

“Sudah kita siapkan semua fasilitasnya untuk berkuda, biar masyarakat tau kalo berkuda itu ternyata tidak membutuhkan biaya yang mahal,” tandasnya. “Ada enam member, ada yang usia delapan tahun, ada juga yang 27 tahun. Dan kuda ini milik saya pribadi,” imbuhnya.

Zahlul bercerita mengenai awal mula ia tertarik dengan hobi berkudanya. Awalnya ia hanya mencoba untuk menaiki ojek kuda atau yang biasa disebut dengan delman saat masih kecil. Karena sudah terlalu sering menaiki delman, akhirnya Zahlul tertarik untuk mengikuti sebuah kursus berkuda yang ada di Trawas, Mojokerto.

“Saya sekolah kuda ke Trawas, setelah itu ke Rimel (Nama sekolah kuda,- red)  yang ada di Taman Dayu, nah setelah itu saya semakin suka sama berkuda,” kenangnya.

Setelah mulai mahir dalam berkuda, Zahlul berpikiran untuk mengikuti sebuah lomba internal yang pada akhirnya ia mendapatkan juara 3. Karena prestasi tersebut, Zahlul mendapatkan hadiah dari orangtuanya sebuah kuda pribadi. Lalu kuda tersebut ia gunakan untuk mengikuti kompetisi, hingga orang tuannya memberikan sebuah kuda lagi untuk hadiah lainnya.

“Saya dihadiahi oleh papa saya seekor kuda betina, nah waktu dapat kuda itu kan dilatih terus, sampai bisa jadi kuda kompetisi dan akhirnya ikut kompetisi lagi, juara lagi, dibelikan kuda lagi, sampai akhirnya papa sama saya berpikiran untuk membangun kursus kuda sendiri,” ujarnya.

Zahlul Yussar sedang berlatih dengan kuda pribadinya. (Foto: Istimewa)
Zahlul Yussar sedang berlatih dengan kuda pribadinya. (Foto: Istimewa)

Wakil Jatim di PON 2016

Berbagai kompetisi pun telah diikuti oleh Zahlul, berbagai prestasi pun telah ia raih. Salah satunya yang paling bergensi adalah ketika ia menjuarai kompetisi Basarnas (Badan Search and Rescue Nasional) pada tahun 2014.

“Karena sudah mulai ikut kompetisi sejak SMA, saya ikut kejuaraan lebih dari sepuluh kali. Kalau yang paling bergengsi ya di Basarnas emporium lomba nasional , pada tahun 2014 desember,” kenangnya.

Pada tahun 2016, ia kembali mengikuti kejuaraan berkuda. Kali ini, ia mewakili Jawa Timur dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 yang akan dilaksanakan di Jawa Barat pada September mendatang.

“Saya mewakili Jawa Timur ikut event berkuda kategori jumping di PON yang diadakan di Bandung September nanti,” ujarnya.

Banyak kendala dalam mempersiapkan kejuaraan yang diadakan sekali dalam empat tahun tersebut, salah satunya adalah sulitnya membagi waktu antara berlatih dan mengikuti jadwal kuliah. Pasalnya Zahlul masih terdaftar sebagai mahasiswa aktif Ilmu Komunikasi UNAIR semester 4.

“Memang susah membagi waktu, karena masih kuliah. Kan latihan berkuda gak cuma sekali dua kali, kan harus rutin,” tegasnya.

Sebagai mahasiswa sekaligus atlit junior yang menjadi perwakilan bagi Jatim, Zahlul juga mengaharapkan adanya dukungan dari pihak kampus. “Kampus seharusnya dapat memanfaatkan potensi-potensi  mahasiswa yang juga sebagai atlit junior yang bisa sampai ke level internasional. Karena saya juga mengharapkan dukungan dari kampus,” pungkasnya. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu