Wabah Flu Burung Hambat Perekonomian Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Iswahyudi, drh., M.P., saat memaparkan disertasinya di Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Selama Indonesia masih belum terbebas dari virus flu burung, selama itu pula Indonesia akan terkekang dari ekonomi dagang ternak. Pasalnya, sejak memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Indonesia belum bisa mengekspor hasil ternak karena belum dinyatakan bebas dari penyebaran virus tersebut.

Hal inilah yang kemudian mendorong Dr. Iswahyudi, drh., M.P untuk menulis disertasi berjudul “Karakterisasi Asam Amino Virus Flu Burung di Pulau Jawa Periode 2012-2015 sebagai Landasan Kebijakan Pengendalian Penyakit Flu Burung di Indonesia”. Disertasi tersebut diuji dan dipertahankan saat sidang terbuka di Ruang Tanjung Adiwinata, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Senin, (30/5).

“Penyakit flu burung di Indonesia sejak tahun 2003 sampai sekarang belum selesai, sehingga kami ingin mengetahui karakter virus yang ada di Indonesia itu seperti apa. Sehingga penyakit flu burung itu kedepannya bisa diselesaikan sebagaimana negara lainnya yang sudah bebas dari flu burung,” jelas pria kelahiran Lamongan tersebut.

Sebagaimana yang ia utarakan dalam disertasi miliknya, Iswahyudi mengemukakan bahwa virus flu burung di Indonesia selama ini memang selalu bermutasi. Menurutnya, untuk mengendalikan flu burung, harus ada kebijakan khusus untuk pemutakhiran master seed dalam proses vaksinasi.

“Seharusnya ada standart khusus untuk pemutakhiran master seed ini, agar vaksin yang didapatkan lebih kompatibel di lapangan,” seru Iswahyudi.

Dalam kesempatan tersebut, Iswahyudi berkomentar bahwa kebijakan pemerintah yang menetapkan adanya kompensasi terkait pengendalian penyakit pada hewan memang sudah tepat, namun implementasinya masih kurang maksimal. Ia menyarankan agar sebuah kebijakan yang masih berkaitan dengan flu burung, diberikan anggaran yang cukup.

Ia memberikan contoh data, vaksinasi membutuhkan hampir 57 juta dosis untuk setiap tahunnya. Namun, pemerintah hanya mampu menyiapkan 4 hingga 5 juta dosis saja.

“Kenapa pemerintah tidak bisa menyediakan, karena pembagian anggaran masih belum bisa merata. Di satu sisi, ketika penyakit itu sudah meloncat dari hewan ke manusia, akan diselesaikan dengan segera. Sedangkan, kalau penyakit itu masih menjangkiti hewan, maka akan dianggap itu penyakit yang biasa,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur tersebut.

Ketika disanggah mengenai dampak flu burung terhadap ekonomi, ia menanggapi bahwa negara Indonesia merupakan gudang ternak unggas. Saat perunggasan Indonesia mulai carut marut oleh wabah flu burung, ada tiga kerugian yang dialami oleh warga dan negara. Pertama, kehilangan proses produksi. Pasalnya, penyakit flu burung memiliki angka kematian seratus persen.

“Kalau unggasnya sudah mati, apa yang mau diproduksi,” jelasnya.

Kedua, kerugian akan menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia. Pasalnya, sebagian besar mata pencaharian masyarakat Indonesia memiliki latarbelakang sebagi peternak. Sedangkan ketiga, sumber daya alam Indonesia tidak akan dimanfaatkan dengan baik, khususnya dalam persaingan perdagangan bebas.

“Kalau saja Indonesia sudah bebas dari flu burung, maka Indonesia menjadi raja telur tingkat dunia, mereka (negara lain,-red) tidak bisa menerima produk kita karena kita belum bebas dari penyakit flu burung,” terangnya.

Iswahyudi berharap agar Indonesia dapat segera terbebas dari wabah flu burung.  Dengan cara mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang sudah diatur, yaitu dengan memenuhi syarat dan ketentuan yang dibutuhkan.

“Untuk itulah alasan kami melakukan penelitian ini, Karena Indonesia belum bebas, dipasar nasional kita juga belum bisa apa-apa,” seru Iswahyudi. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu