Rektor UNAIR Ajak Calon Mahasiswa Termuda Berbincang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Rania Ifadha calon mahasiswa termuda FK UNAIR bersama Ibu berbincang dengan Rektor UNAIR Prof Nasih (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Salah satu yang menarik perhatian dalam proses pendaftaran ulang calon mahasiswa baru Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Airlangga Convention Center, Universitas Airlangga, Selasa (31/5), adalah kehadiran Rania Tasya Ifadha. Gadis berusia 15 tahun itu berhasil diterima pada program studi S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, UNAIR, tahun angkatan 2016.

Rania jauh-jauh datang dari Semarang, Jawa Tengah, ke UNAIR dengan didampingi oleh ibunda tercinta, Suhartini. Mereka tiba di Surabaya sejak Senin (30/5), dengan diantar sang ayah Hasanudin. Namun, sang ayah tidak bisa menemaninya daftar ulang karena harus bergelut dengan pekerjaannya sebagai pelayar.

Di hadapan ribuan calon mahasiswa baru UNAIR, Rektor Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, mengundang Rania dan ibunda untuk sejenak berbincang. “Saya undang calon mahasiswa baru Universitas Airlangga yang lahir pada bulan Februari tahun 2001. Berarti dia baru berusia 15 tahun dan diterima di Fakultas Kedokteran,” undang Rektor UNAIR yang disambut dengan tepukan tangan hadirin.

Rania menuturkan, tekad menjadi dokter sudah tertanam sejak ia masih kecil. Ia tak ingin profesi dokter hanya sebatas cita-cita. Rania juga berkeinginan untuk hidup mandiri dan bersekolah di luar provinsi tempat ia tinggal. Setelah mendengar reputasi prodi S-1 Pendidikan Dokter FK UNAIR yang baik, maka ia memutuskan untuk mendaftar pada prodi tersebut.

“Pertama sih, ada tekad dalam diri sendiri. Dari kecil saya ingin menjadi dokter, apalagi Pendidikan Dokter UNAIR memiliki akreditasi A. Selain memang udah minat, saya juga ingin mencoba ke tempat lain yang jauh dari rumah,” cerita Rania.

Setelah diterima di FK UNAIR, Rania berharap agar ia bisa menjalani kuliah dengan lancar dan bisa menjadi dokter yang baik bagi masyarakat. “Semoga saya bisa menjadi dokter yang baik, menjalankan amanah, dan bisa membantu orang,” imbuh Rania.

Sejak usia dua tahun, Rania sudah duduk di bangku PAUD (pendidikan anak usia dini). Kemudian pada usia lima tahun, Rania mulai belajar di bangku sekolah dasar (SD). Ketertarikannya pada program kelas akselerasi dimulai sejak ia diterima di salah satu sekolah menengah pertama di Semarang. Pada saat itu, ibunya mencoba memantik minat Rania untuk mendaftar pada program kelas akselerasi.

“Waktu SD-nya belum akselerasi. Pas SMP, saya ingin mencoba. Alhamdulillah, keterima. Kok, SMA ingin lagi. Ya saya daftar,” cerita Rania dengan didampingi ibunda.

Dalam kesempatan wawancara bersama wartawan, Rektor UNAIR mengatakan pihaknya tak akan memberikan perlakuan khusus secara akademik maupun finansial kepada Rania. “Kalau perlakuan khusus, nanti dikira diskriminasi. Rania juga membayar tergantung UKT juga. Kalau berasal dari keluarga kaya, ya, berarti termasuk kelompok UKT VII,” canda Rektor UNAIR.

Namun, Prof. Nasih tidak menampik akan memberikan bantuan psikologis kepada Rania, mengingat usianya yang masih amat belia tapi sudah akan menjalani kuliah. Menurut Prof. Nasih, hal ini wajar karena berdasarkan usia Rania, ia seharusnya masih belajar di bangku SMP.

Prof. Nasih juga mengingatkan kepada Rania agar dirinya aktif bersosialisasi dengan rekan-rekan mahasiswa lainnya. “Di perguruan tinggi, tidak hanya sebatas kemampuan akademik yang ditonjolkan, maka Rania nanti perlu menyeimbangkan diri dengan cara berorganisasi, dan pelatihan. Kalau akademik, saya sudah yakin dengan kemampuan Rania. Ada bidang lain yang juga perlu ditekuni,” pesan Rektor. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu