Putri Indonesia 2014 Jemput Gelar Sarjana Hukum Usai Kontes Kecantikan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Elvira Devinamira saat ditemui kru Newsroom UNAIR (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Gadis bertubuh semampai itu baru saja menyelesaikan kuliah pada siang hari itu. Ia berjalan menuruni tangga sembari menyibakkan rambut panjang dan tersenyum manis ke arah kami. “Hallo! Akhirnya kita ketemu ya,” sapa Elvira Devinamira kepada kru Newsroom UNAIR yang menemuinya siang itu.

Ia baru saja selesai mengikuti kelas ‘Hukum Arbitrase’ di salah satu ruangan di lantai tiga Gedung A Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Mata kuliah itu ia selesaikan sebagai prasyarat yudisium untuk menyelesaikan kuliah strata satu Ilmu Hukum.

Sejak ia memenangkan kontes ratu kecantikan bergengsi Putri Indonesia 2014, Elvira harus menunda kesibukan kuliahnya selama satu setengah tahun. Maklum, usai dinobatkan menjadi Putri Indonesia 2014, Elvira terus menempa diri dengan berbagai latihan dan kesibukan menuju ajang Miss Universe 2014.

Setelah kompetisi tersebut rampung, ia tak bisa langsung melanjutkan kegiatan perkuliahan. Banyak konferensi pers dan tawaran yang mengalir padanya. Baginya, itu momentum jarang yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.

“Waktu itu saya mikir kesempatan nggak datang dua kali. Sayang kalau nggak diambil. Sekarang udah agak lega karena bisa membagi waktu,” ujar pemenang Best National Costume pada ajang Miss Universe 2014 itu.

Setelah rangkaian ajang kecantikan itu selesai, Elvira kembali pada rutinitasnya sebagai mahasiswa. Meski ia kini tengah menjalani berbagai kesibukan sebagai entertainer, Elvira melakukan perjalanan Jakarta – Surabaya pulang pergi secara teratur seminggu sekali. Tahun 2016 ini, gadis dengan tinggi 1,78 meter ini memiliki target untuk menyelesaikan kuliah strata satunya.

“Saya masih memiliki tanggungan dua mata kuliah untuk memenuhi SKS (satuan kredit semester)  sebagai prasyarat yudisium. Tema skripsi saya nggak jauh-jauh dari pariwisata dan kebudayaan di Indonesia,” ujarnya ketika ditemui di Gedung A, FH UNAIR.

Bergelut dalam dunia modelling dan mengikuti kontes ratu kecantikan ternyata bukan murni keinginan Elvira. Ibu Elvira, Henida Prabawati, telah mendorong kemampuan non-akademis Elvira sejauh ini.

Because of my mom. Karena menurut beliau, hardskill akademik saya udah cukup. Dulu saya juga cum laude. Sekarang waktunya untuk menggali potensi di luar perkuliahan. Saya percaya rida Allah adalah rida orang tua,” tuturnya.

Masakan dan kumpul bareng keluarga adalah dua hal yang paling ia rindukan khususnya ketika ia berada di Miami, Florida, Amerika Serikat, untuk mengikuti karantina Miss Universe 2014. “Yang paling saya rindukan ketika itu adalah makanan dan masakan keluarga. Di sana saya tidak bertemu siapa-siapa selama satu bulan. Not even my family,” tutur perempuan kelahiran 28 Juni 1993.

Cantik

Bagi Elvira, Miss Universe bukan hanya soal ajang kecantikan semata. Lebih dari itu, kompetisi Miss Universe melibatkan kepribadian dan potensi diri.

“It’s not just about beauty. It’s about personality, and how you behave yourself. Pada ajang itu, saya tidak merepresentasikan Elvira, tapi ini tentang Indonesia. Kalau kamu dipanggil, mungkin selanjutnya mereka tidak ingat namamu. Tapi ingat Indonesia,” ujarnya seraya mengingat tentang perjuangannya ketika mengikuti Miss Universe 2014.

Dalam sesi wawancara dengan juri, Elvira bercerita tentang penegakan hukum di Indonesia. “Saya mengatakan bahwa hukum di Indonesia sangat melindungi wanita. Wanita memiliki derajat yang sama dengan pria. Tidak ada kesenjangan hukum antara pria dan wanita. Kita adalah civil law, negara yang patuh hukum,” kenangnya.

Miss Universe adalah kompetisi internasional yang memberikan banyak pengalaman berkesan bagi Elvira. Ia mengaku bahwa meskipun kompetisi tersebut telah berakhir sejak awal tahun 2015 silam, namun hubungan baik dengan sesama kontestan tetap terjalin hingga kini. Ia dan kawan-kawannya sesama kontestan Miss Universe sering berkumpul untuk mengadakan reuni.

“Bertemu dengan 88 orang dari berbagai belahan dunia adalah yang paling berkesan buat saya. Dengan itu saya menjadi punya banyak teman. Tiap saya pergi ke negara-negara dari berbagai belahan dunia, ada teman yang bisa saya temui,” ujarnya senang.

Keberlanjutan studi

Kini, selain tetap menjalani rutinitas di bidang entertainment, Elvira berfokus pada keberlanjutan studinya. Ia berencana untuk bisa yudisium dan mengikuti prosesi wisuda di tahun ini. Mengikuti wisuda dan memakai toga, adalah keinginannya saat ini untuk membanggakan orangtuanya.

Ditanya mengenai cita-cita, dulu ia sempat berkeinginan untuk menjadi diplomat. Namun, kini ia sadar bahwa untuk menjadi diplomat membutuhkan proses yang cukup sulit. Ia juga harus meninggalkan banyak hal jika menekuni bidang profesi tersebut.

“Untuk keberlanjutan studi, mungkin saya tetap di Jakarta. Saya cuma menggunakan hukum ini untuk defence saya. Di entertainment bisnis, hukum bisnis, perjanjian kontrak iklan, movie deal. Jangan asal main tanda tangan. Saya selalu baca, memastikan bahwa tidak ada pelanggaran-pelanggaran. Ketelitian itu karena hukum adalah bidang studi saya. To me, hukum dipakai dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya tentang karir dan jabatan,” paparnya.

Berbagai prestasi yang telah diraih Elvira tak lepas dari perjuangan dan kerja keras yang ia lakoni. Seperti motto hidupnya, “Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha”.

“Apapun yang akan kalian lakukan dan cita-citakan, pasti memang harus ada pengorbanan dan usaha. Mungkin memang akan terasa pahit di depan, tapi akan menjadi manis di belakang. Karena tidak ada hal di dunia ini yang sia-sia,” pungkasnya. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor: Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu