Group musik beraliran folk asal Surabaya, Silampukau, saat menjadi pengisi acara pada acara "Balada Kota" yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP, UNAIR, Sabtu (28/5) (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Liriknya tertata apik. Menggambarkan khas hiruk pikuk sehari-hari warga Surabaya. Percintaan mudamudi juga tak luput dipotret oleh musisi indie bernama Silampukau.

Lagu ‘Si Pelanggan’ menjadi lagu pembuka Silampukau ketika menghibur para penonton di Aula Soetandyo, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Sabtu (28/5).

“Dolly, yang menyala-nyala di puncak kota/yang sembunyi di sudut jalang pria di Surabaya/Dulu, di temaram jambon gang sempit itu/aku mursal masuk, keluar, dan utuh sebagai lelaki/”. Lagu pembuka berjudul ‘Si Pelanggan’ seketika membangkitkan mood penonton. Tepukan tangan dan sorakan seketika diluncurkan untuk duo musisi yang sedang menguasai panggung saat itu.

Adalah lirik dan musik karya Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening yang berhasil membius penonton siang itu. Duo musisi itu lantas menyanyikan kembali tujuh lagu hits berikutnya untuk memanjakan telinga pendengar.

Diantaranya adalah Bola Raya, Lagu Rantau, Puan Kelana, dan Doa 1. Penonton pun tak sungkan untuk menyanyi bersama dengan iringan gitar melodi yang dipetik kedua musisi yang berhasil memotret kehidupan Surabaya menjadi sebuah album.

Sesekali duo Kharis dan Eki itu melontarkan candaan kepada para penonton untuk mencairkan suasana. “Kali ini, kita bicara hubungan bilateral dua negara,” canda Kharis. Maksudnya, duo musisi itu akan mendendangkan lagu berjudul Puan Kelana. Lagu yang diciptakan pada tahun 2014 itu mengisahkan tentang seorang puan yang mengagumi romantisme Kota Paris, Prancis. Namun, tidak bagi Silampukau.

Di sebuah liriknya “Mari, Puan Kelana/Jangan tinggalkan hamba/Toh, hujan sama menakjubkannya/Di Paris atau di tiap sudut Surabaya/”, tersirat, kota mana pun di dunia memiliki inti cerita dan keindahannya masing-masing.

Dua penonton yang duduk di sebelah saya, Arina dan Desy, menuturkan kesukaannya pada musisi indie Surabaya yang telah memiliki dua album ini. “Awalnya suka dengan lagu Malam Jatuh di Surabaya. Saya dengar kok enak. Akhirnya keterusan dengerin lagu-lagunya Silampukau yang lainnya,” tutur Arina.

“Sama sih. Lagu-lagunya menceritakan tentang kehidupan Surabaya,” timpal Desy.

Potret Surabaya

Lirik-lirik puitis itu tercipta dari berbagai topik obrolan yang datang dari warung kopi milik Eki. “Kakehan cangkruk, dan kakehan disambati, terus akhire dadi lagu. (Kebanyakan nongkrong dan ada banyak keluhan yang datang. Akhirnya, kita bikin lagu). Mungkin kita cangkruk di warung yang salah. Karena cangkruk kita bukan di mal mal gitu,” tutur Kharis seraya tertawa.

Di warung kopi itulah, mereka biasa membicarakan tentang kehidupan sehari-hari khas warga perkotaan. Kharis menampik apabila percakapan itu selalu tentang hal-hal yang serius dan berbobot.

Potret Surabaya pada lagu-lagu Silampukau memang tak sepenuhnya manis. Mereka berusaha menggambarkan wujud Kota Pahlawan secara apa adanya. Hiruk pikuk jalanan, lokalisasi Dolly, kemacetan Jalan Ahmad Yani. Jelas, Surabaya masih jauh dari harapan kenyamanan.

“Ada nggak sih kota yang ideal? Jelas nggak ada. Kita jatuh cinta dengan rumah kita karena kita mengembangkan perasaan dan imajinasi kita terhadap tempat itu sendiri. Bukan karena tempatnya. Surabaya jelas bukan tempat ideal. Kita cinta Surabaya apa adanya,” cerita Kharis.

Lirik-lirik manis tapi kritis itu dibalut dengan nuansa musik folk. Jari jemari dan kemampuan bermusik mereka beradu dengan senar gitar untuk mengiringi lirik yang terinspirasi dari kehidupan di Surabaya. Mengapa gitar dipilih sebagai instrumen utama?

“Kalau musik punk, nanti ini kesannya semuanya salah pemerintah. Padahal nggak gitu juga. Musik folk ini, buat kami, lebih fleksibel,” tutur Kharis yang juga lulusan Sastra Indonesia UNAIR tahun 2009.

Usai meluncurkan full album terbaru mereka bertajuk Dosa, Kota, dan Kenangan pada tahun 2015 lalu, grup musik Silampukau yang berarti burung kepodang dalam bahasa Melayu ini banyak memperoleh tawaran panggung di berbagai kota di Indonesia. Duo musisi yang pernah menelurkan album EP Sementara Ini pada tahun 2009 ini juga pernah diminta untuk mengisi panggung di Makassar, Jakarta, Bali, dan Surabaya, tentu saja. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone