Dianna Suriani, Modeling Muda Alumni UNAIR (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Berkarir setelah lulus kuliah kadang tak melihat latar belakang pendidikan yang ditempuh sebelumnya. Biasanya, hobi yang diminati dan ditekuni semasa kuliah menjadi jalan penentu karir selanjutnya. Dianna Suriani adalah salah satunya.

Nana, sapaan akrab Dianna, ialah alumni Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, yang baru saja lulus pada tahun 2015 lalu. Namun, jauh sebelum dinyatakan sebagai alumni, ia sudah meniti karir sebagai seorang model.

“Awal Dianna benar-benar berkarir di dunia modeling saat tahun 2010 sebagai salah satu model hair show dan saat itu kontrak dengan mengikuti roadshow di Indonesia,” tutur pemilik nama panggung Diana Lo.

Nana mulai mengepakkan sayap menjadi model profesional setelah memenangkan lomba pada ajang pencarian model berbakat di Jakarta. Pada ajang yang diadakan oleh majalah Femina, Nana dinobatkan sebagai pemenang penghargaan khusus Best Catwalk Wajah Femina (WF) tahun 2012.

“Menang gelar Best Catwalk di ajang Wajah Femina 2012 membuat orang tua akhirnya merestui saya jadi model. Sejak itu karier modeling saya makin menanjak. Dari show di kampung halaman, Surabaya, hingga di Jakarta Fashion Week (JFW). Tahun lalu, saya bahkan mencicipi dunia modeling di Singapura,” tutur Nana, sebagaimana dikutip dari suatu media.

Usai dinobatkan menjadi pemenang, karir modeling Nana kian bersinar. Nana yang kini telah bergabung dengan salah satu agensi model ternama di Indonesia, yakni Wynn Models Indonesia.

Di tahun 2014, ia bahkan dipilih oleh agensi model yang menaunginya itu untuk mewakili Indonesia dalam rangkaian fashion show dan pemotretan untuk majalah lokal Singapura bernama Art Republik. Perempuan yang menjadi ikon wajah JFW tahun 2014 itu tinggal di Singapura selama dua bulan bersama model-model lainnya dari Rusia, Tiongkok, Jerman, dan Brasil.

Perempuan dengan tinggi 175 cm itu mengaku banyak mendapatkan pengalaman berkesan ketika harus berbaur dengan rekan sesama model profesional lainnya. Ia memetik banyak pelajaran berharga mengenai masalah profesionalisme.

“Pengalaman berkesan adalah saat modeling di Singapura selama dua bulan. Di sana, saya melihat banyak perbedaan dengan modeling  di Jakarta. Betapa waktu sangat dihargai sekali di luar Indonesia. Pengetahuan saya seputar profesionalisme juga bertambah, seperti bagaimana menjaga tubuh dan penampilan. Dengan saya bertemu teman-teman model internasional, kita bisa saling bertukar pengalaman dan informasi,” tutur perempuan kelahiran 6 Desember itu.

Menjadi pengajar

Semasa Nana masih menjalani studi di tingkat sekolah menengah atas, ia berkeinginan menjadi seorang astrolog. Setelah ia diterima di Sastra Indonesia tahun angkatan 2009, ia ingin sekali menularkan ilmu berbahasa Indonesia kepada orang asing.

“Sebenarnya Nana dulu waktu SMA ingin menjadi astrolog. Namun, ketika diterima di Sastra Indonesia, Nana dulu ingin sekali menjadi pengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Awalnya dulu ikut model adalah hobi, namun sekarang pekerjaan saya adalah model,” cerita Nana.

Di tengah waktunya yang terhimpit berbagai kesibukan, Nana masih menyempatkan waktu untuk membaca novel-novel sastra. Ia adalah penghobi bacaan karya Ayu Utami, Dewi ‘Dee’ Lestari, dan Paulo Coelho.

Menjalani kuliah di UNAIR adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidupnya. Ia mendapatkan teman-teman yang dekat dengan pribadinya, aktif berorganisasi dengan bergabung menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa FIB UNAIR. Ia lantas berpesan kepada adik-adik kelasnya untuk menikmati setiap momen selama di kampus.

“Pesannya, enjoy your class! Enjoy your moments in university,” tutur Nana.

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone