Dua Kali Gagal Seleksi, Lutvy Arsanti Wakili UNAIR di Ajang Mawapres Nasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Lutvy Arsanti, Mahasiswa D3 Bahasa Inggris Fakultas Vokasi UNAIR (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pernah gagal dalam seleksi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres), tidak jadi penghalang bagi Lutvy Arsanti untuk mencapai harapannya. Dua kali gagal dalam ajang seleksi, kini mahasiswa jurusan D3 Bahasa Inggris Fakultas Vokasi UNAIR tersebut berkesempatan untuk mewakili UNAIR dalam ajang Mawapres tingkat Nasional.

Ditanya mengenai tekat untuk menjadi Mawapres, mahasiswa yang akrab disapa Lutvy tersebut mengungkapkan bahwa langkahnya ingin menjadi Mawapres bermula saat mengikuti  PPKMB di awal mahasiswa baru. Mahasiswa yang mulanya tidak memiliki minat dalam organisasi tersebut akhirnya mulai menjajaki dan mencoba untuk mengikuti ajang melatih kepemimpinan sebagai salah satu syarat untuk menjadi Mawapres.

“Awalnya penasaran saat ada pemateri mengenai Mawapres waktu PPKMB dulu, dari itu saya mulai pahami persyaratannya apa saja yang diperlukan, salah satunya harus aktif organisasi yang mulanya hal yang kurang saya minati,” jelasnya.

Tekat untuk menjadi Mawapres tidak dilaluinya dengan mudah, berbagai tantangan telah ia hadapi. Terlebih saat berkesempatan untuk maju ke tingkat nasional kali ini harus diterima saat tengah menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat meraih gelar Ahli Madya. Ia mengaku, sempat ada keinginan untuk menolak tawaran Garuda Sakti untuk melanjutkan langkahnya ke ajang nasional.

“Awalnya setelah dapat kabar dari garuda sakti ya mau mundur, karena takut bentrok dengan TA,” imbuh mahasiswa yang hobi menulis dan mendengarkan musik tersebut.

Rasa ingin mundur mahasiswa kelahiran Mojokerto, 8 Agustus 1995 dari ajang Mawapres Nasional bukan tanpa sebab. Pasalnya, selepas lulus dari D3 Bahasa Inggris, ia berencana akan alih jenis ke program Strata 1.

“Karena setelah lulus Diploma saya mau lanjut ke S1, jadi butuh persiapan yang matang juga,” tegasnya.

Dibalik berbagai hal yang memberatkan langkah untuk maju ke tingkat nasional, mahasiswa peraih IPK 3.72 tersebut memiliki trik dan cara tersendiri untuk membagi berbagai tugasnya tersebut. Selain lihai dalam mengatur waktu, Lutvy juga memiliki motivasi bahwa kesempatan itu tidak datang untuk yang kedua kalinya.

“Kesempatan itu hanya sekali, ya harus dimaksimalkan,” tegasnya.

Tidak hanya motivasi dan kecerdasan dalam manajemen waktu, baginya mental juga perlu dipersiapkan. Berbekal dari cerita seniornya yang memiliki pengalaman yang sama, tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk mundur dari Mawapres demi tugas akhir. Sebab itulah di akhir perbincangan ia menegaskan betapa pentingnya untuk mempersiapkan segala hal sejak dini termasuk untuk menjadi Mawapres.

“Berbekal pengalaman tersebut, penting untuk menyiapkan semua hal sejak dini, semua memang tidak bisa dadakan, termasuk untuk menjadi seorang Mawapres,” pungkasnya.        (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu