Bekal Lolos SBMPTN, Tidak Sekedar Pintar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Para Peserta Beasiswa Perintis Pena Bangsa Bersama Pemateri Sesaat Selepas Acara. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Menjadi jujugan dalam berbagai kunjungan dari SMA di Indonesia merupakan agenda rutin dari UNAIR, selain sebagai bentuk kepedulian UNAIR kepada masyarakat, kegiatan tersebut juga merupakan bentuk tanggung jawab institusi dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Namun ada yang berbeda dengan kunjungan hari ini, Jumat (20/5). Jika biasanya UNAIR melalui Pusat Informasi dan Humas (PIH) menerima kunjungan dari intitusi pendidikan, kali ini UNAIR menerima kunjungan dari lembaga sosial YDSF (Yayasan Dana Sosial Al-Falah) yang tengah mengadakan learning camp bagi siswa SMA se-Jawa Timur yang terpilih mengikuti program tersebut.

Yusuf Adi, selaku perwakilan rombongan menjelaskan, bahwa kedatangannya bersama 83 anak yang mendapat Beasiswa Perintis Pena Bangsa ke UNAIR tersebut, merupakan bagian dari program pendidikan persiapan SBMPTN.

“Ini adalah adik-adik binaan kami angkatan ke-4, yang kami bina dalam persiapan SBMPTN, mulai belajar soal-soal tes, try out, out bond, dan salah satunya adalah kunjungan kampus ini,” jelasnya.

Acara yang berlangsung di Aula Kahuripan Kampus C UNAIR tersebut, dihadiri oleh Drs. Bambang Edy Santoso dari PIH yang menjelaskan informasi seputar UNAIR. Selain itu, Imam Siswanto, M.Si., selaku perwakilan Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) UNAIR yang menjelaskan seputar SBMPTN. Pada penjelasannya Imam yang juga panitia SNMPTN-SBMPTN pusat tersebut menegaskan pentingnya sikap terampil, teliti, dan hati-hati dalam mengerjakan soal-soal SBMPTN. Pasalnya, dalam SBMPTN, ia mencontohkan, jika satu soal pada satu mata pelajaran yang diujikan tidak dijawab oleh peserta, secara otomatis peluang untuk lolos akan amat tipis.

“Pintar saja tidak cukup, makanya kalian semua harus terampil dan cermat dalam mengerjakan soal-soal SBMPTN,” tegasnya.

Dosen Kimia UNAIR tersebut juga kembali menegaskan, bahwa dalam mengerjakan soal model PBT (tes tulis, -red) memang memerlukan ketelitian yang lebih dibandingkan test model CBT (on line, -red), pasalnya sekitar 10% peserta gagal hanya karena kesalahan dalam mengisi data dan penghitaman lembar jawaban.

“Biasanya kalau dengan tulis, peserta ada yang salah mengisi tanggal lahir dan tanggal ujian, memang ini kelemahannya, belum lagi menghitamkan jawaban,” pungkasnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu