Menggali Kearifan Lokal Bumi Kediri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
2. Suasana Dialog Dan Studium General dengan Tema “Menggali Kearifan Lokal dalam Tradisi Masyarakat Indonesia”. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Alam dan cerita sejarah membentuk nilai-nilai budaya. Masyarakat, sebagai subjek budaya, bertugas untuk mewarisi nilai-nilai serta melestarikannya hingga anak cucu. Kearifan lokal itu terjaga agar keharmonisan manusia, budaya, dan alam tetap seimbang.

Begitulah yang terjadi di masyarakat Kediri, tepatnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar. Desa yang terletak di kaki Gunung Kelud tersebut menyimpan salah satu mitos yang diyakini oleh masyarakat hingga sekarang. Mitos mengenai asal muasal Gunung Kelud yang tak lepas dari cinta Lembu Sura. Cintanya bertepuk sebelah tangan oleh Dewi Kilisuci. Amarah Sura yang berkecamuk akibat ulah Kilisuci, oleh masyarakat diyakini sebagai penyebab letusan Kelud.

Untuk meredam amarah Sura dan Kelud, setiap tahunnya masyarakat menggelar ritual sesaji. Ketika masih terdapat kawah, masyarakat menyumbangkan hasil bumi dengan cara melarung. Ketika area kawah telah ditumbuhi Anak Gunung Kelud, ritual pun berubah. Namun, ritual itu masih berlangsung setiap tahunnya.

Kediri tak hanya menyimpan satu kearifan lokal. Seni jaranan ialah salah satu kesenian yang masih eksis dan digemari masyarakat Kediri hingga saat ini. Seni jaranan dimainkan mulai dari anak-anak kecil hingga dewasa. Pada saat pementasan seni jaranan berlangsung, warga sekitar berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan. Mereka menonton dan larut dalam dua pertunjukan jaranan yang berlangsung pada Sabtu malam (14/5).

Pementasan dan cerita film mengenai Kelud dan Kediri ini merupakan bagian dari kegiatan study excursie (SE) tim Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) Direktorat Pendidikan Universitas Airlangga (UNAIR). Kegiatan SE merupakan agenda tahunan yang diperuntukkan bagi mahasiswa jenjang sarjana yang sedang mengambil MKWU, seperti Pendidikan Kewarganegaraan, dan Agama. Kegiatan SE bertujuan untuk memperkenalkan keberagaman dan kearifan lokal yang terdapat di suatu daerah.

Dialog dan studium general bertema “Menggali Kearifan Lokal dalam Tradisi Masyarakat Indonesia” menjelaskan kepada peserta SE mengenai Kelud, tradisi, dan seni jaranan. Dialog tersebut dihadiri oleh Camat Ngancar, Kepala Desa Sugihwaras, serta tokoh masyarakat, di halaman Gedung Teater dan Museum Gunung Kelud.

Keberadaan Kelud bukanlah bencana bagi warga sekitar. Alam di dataran tinggi memberikan anugerah kehidupan bagi mereka. Beragam profesi pekerjaan yang bisa diterapkan di sana, seperti petani, pelayan penginapan, hingga pemandu wisata. Meski Kelud tercatat pernah menumpahkan magmanya berulang kali sehingga meruntuhkan sendi perekonomian masyarakat sekitar, mereka tak menganggap itu sebagai ujian walau ada sedih yang tersisa.

1.Pelakon Seni Jaranan Senterewe Memainkan Aksinya Dihadapan Ratusan Mahasiswa UNAIR, Penduduk Sugihwaras, Turis di Gedung Teater Dan Museum Gunung Kelud. (Foto: UNAIR NEWS)
1. Pelakon Seni Jaranan Senterewe Memainkan Aksinya Dihadapan Ratusan Mahasiswa UNAIR, Penduduk Sugihwaras, Turis di Gedung Teater Dan Museum Gunung Kelud. (Foto: UNAIR NEWS)

“Letusan bukanlah bencana bagi kami karena Kelud telah memberikan berkah juga. Setiap pemerintah memberikan catatan kepada kami, masyarakat sudah siap lahir batin. Kelud sudah mengayomi masyarakat sekitarnya. Meski letusan tapi juga rezeki karena tanaman-tanaman kami subur,” tutur Sukemi, Kades Sugihwaras.

“Apabila PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, -red) sudah menetapkan statusnya naik, masyarakat sudah tata-tata barang. Surat-surat berharga disimpan. Jadi, ketika Kelud meletus, masyarakat sudah siap,” imbuh Sukemi.

Terkait dengan seni jaranan, Sukemi mengatakan, tradisi untuk melestarikan salah satu kesenian khas Kediri itu juga sudah diturunkan hingga anak cucu. “Meski kembang kempis, seni ini harus tetap dilestarikan. Bahkan, anak TK (taman kanak-kanak) juga ada yang menjadi anggota jaranan,” tutur Sukemi.

Sukemi benar. Ketika dialog berakhir, acara malam hari itu ditutup dengan pementasan seni jaranan senterewe. Sebagian besar pelakonnya adalah anak-anak usia sekolah menengah pertama, dan sekolah dasar. Mereka memainkan tarian jaranan dengan lincah dan energik. Aksi-aksi mereka mendapatkan kemeriahan tepuk tangan dari penonton.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Sambil menahan dinginnya udara Kelud, penonton masih setia memberikan atensinya kepada pelakon seni jaranan Kediri.

Memang, kearifan lokal seharusnya tak lekang oleh derasnya arus zaman. (*)

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu