Lewat GELIAT UNAIR, Pupuk Kepedulian Terhadap Kematian Ibu Hamil dan Bayi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. drg. Nyoman Anita Damayanti, MS., Penggagas GELIAT UNAIR Saat Memberikan Materi Talkshow Di Grand City Surabaya (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Banyaknya angka kematian dari ibu hamil dan bayi di Surabaya patut untuk diberi perhatian lebih. Hal inilah yang kemudian menuntun Dr. drg. Nyoman Anita Damayanti, MS., untuk menggagas program GELIAT UNAIR (Gerakan Peduli Ibu dan Anak Sehat Universitas Airlangga). GELIAT UNAIR adalah program kerjasama antara UNAIR dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) sebagai bentuk kepedulian terhadap tingginya kasus kematian para ibu hamil.

“Siapa lagi yang mampu membantu warga kita kalau bukan dari kita sendiri. UNAIR itu sudah punya semuanya, mahasiswa juga ribuan, satu saja mau mendampingi ibu hamil untuk terhindar dari kematian itu sudah bagus,” ujarnya dalam sebuah acara talkshow di Exhibition Hall Grand City Surabaya, Kamis (12/5).

Menurut Nyoman Anita, yang melatarbelakangi penggagasan GELIAT UNAIR ini adalah tingginya angka kematian ibu hamil dan anak di Kota Surabaya. Pasalnya, Kota Surabaya merupakan penyumbang tertinggi kematian ibu hamil dan bayi di Jawa Timur.

“Sebanyak 5793 bayi meninggal dalam setahun di Surabaya, ini merupakan kasus tertinggi di Jawa Timur,” imbuhnya.

Nyoman Anita menjelaskan bahwa penyebab utama dari kematian ibu hamil adalah lambatnya ibu hamil untuk mengenali  adanya gejala atau masalah dalam kehamilannya. Hal tersebut karena didasari atas kurangnya informasi tentang kehamilan kepada ibu hamil.

“Memang hamil didalam keluarga itu merupakan hal yang biasa, tapi pasti ada penyakit yang mengiringi kehamilan itu. Karena banyak ibu-ibu hamil yang mungkin kurang tau mengenai kehamilan, maka akan terlambat untuk mengenali gejala atau masalah kehamilan, dan inilah yang menjadi penyebab kematian,” jelasnya.

Staf pengajar di FKM UNAIR tersebut menyayangkan kurangnya kepedulian terhadap kematian ibu hamil tersebut.  Ia mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa kematian ibu hamil merupakan bagian dari takdir.

“Kepedulian kita pada kematian ibu itu belum terlalu kuat, dianggap bahwa kematian itu dianggap memang sudah takdir. Tidak itu salah besar, karena ada penyakit yang mengiringi, maka harus ditindak secara medis,” kata Nyoman Anita.

“Orang yang jatuh karena kecelakaan pesawat akan ramai diperbincangkan, tapi ribuan ibu hamil meninggal tak banyak yang peduli,” imbuhnya memberi keluhan

Melalui Program GELIAT UNAIR yang sebagian besar relawannya merupakan mahasiswa dan dosen UNAIR tersebut, Nyoman Anita berharap dapat menurunkan kematian ibu hamil di Kota Surabaya. Memang menjadi sebuah kenyataan bahwa kematian ibu hamil akan selalu terjadi, namun baginya akan selalu ada kesempatan untuk mencegah kematian.

“Mimpi saya itu, kita semua sebagai kalangan akademisi mau peduli, UNAIR sudah punya semuanya, kita punya dokter, kita punya spesialis, kita punya bidan, tapi yang penting adalah bagaimana kita mau merangkul masyarakat.” pungkasnya. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu