Tunda Kelulusan demi Jadi Mawapres Nasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Amal Arifi Hidayat Mahasiswa program studi S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, UNAIR (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Menjadi mahasiswa berprestasi (mawapres) tingkat universitas merupakan kebanggaan tersendiri bagi Amal Arifi Hidayat. Amal ditetapkan sebagai mawapres pada bulan Oktober tahun 2015 lalu dengan IPK 3.64. Pada awal bulan Juni tahun 2016, Amal akan berlaga di ajang mawapres tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti).

Amal tak hanya sekali menjajal ajang mawapres di UNAIR. Mahasiswa program studi S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, UNAIR itu pernah mengikuti mawapres pada semester tiga dan berhasil menjadi juara I tingkat fakultas. Pada semester lima, ia dinobatkan menjadi juara II mawapres tingkat universitas. Pada semester tujuh, ia berhasil meraih juara I mawapres tingkat UNAIR dan akan mengikuti kompetisi mawapres tingkat nasional.

Meski sudah berkali-kali mengikuti ajang mawapres di kampus, ia mengaku tak pernah terobsesi dengan predikat bergengsi mahasiswa UNAIR itu. Namun, ketika ia berhasil menjadi mawapres, bagi Amal, merupakan sebuah pengalaman yang tak ternilai.

“Menurut saya, mawapres bukan seperti ajang kompetisi-kompetisi lainnya. Mawapres merupakan bentuk apresiasi dan bonus karena dalam proses seleksi harus mempertimbangkan prestasi-prestasi lain yang pernah diraih. Menjadi mawapres bukanlah suatu obsesi, tapi ini merupakan pengalaman yang tak ternilai. Saya ingin membuat UNAIR jadi lebih maju dan bisa menginspirasi banyak orang,” tutur Amal.

Kini, Amal sedang mempersiapkan diri dan karya ilmiah untuk menghadapi mawapres dari kampus-kampus lain. Tema karya ilmiah yang ditetapkan oleh Dikti dalam ajang mawapres tahun 2016 ini adalah ‘Inovasi untuk Daya Saing Bangsa’. Amal memiliki gagasan untuk membuat sejenis kuman yang bisa menyerang kuman-kuman tubuh yang resisten terhadap antibiotik.

Menurut pengalaman akademis dan kerja Amal di bidang kesehatan, tak sedikit pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo berada dalam keadaan kebal terhadap antibiotik. Hal ini menyulitkan tenaga medis dalam memberikan perawatan yang optimal terhadap pasien, mengingat perkembangan penemuan antibiotik berjalan lebih lambat daripada perkembangan kuman yang mengalami resistensi. Bila ini terus terjadi, kondisi demikian akan berimbas pada produktivitas masyarakat dan perekonomian negara.

“Ada sebuah bakteri, sebut saja dengan nama bakteri zombie. Bakteri ini bisa memakan bakteri-bakteri lain. Saya memaksimalkan kemampuan bakteri ini dengan mengubah komponen genetiknya sehingga bakteri itu bisa melawan bakteri-bakteri yang resisten,” ujar lelaki kelahiran 26 Desember 1996.

Selain mempersiapkan karya tulis, ia juga sedang membuat sebuah video klip yang menggambarkan tentang gagasan yang ia tuangkan dalam karya tulis. 

Jadi dokter

Tak sedikit anak kecil yang menjawab ingin jadi dokter ketika ditanya soal cita-cita. Begitu pula Amal. Ketika ia ditanya, Amal memang bercita-cita menjadi dokter sejak menjalani studi di bangku sekolah dasar. Bagi Amal, profesi dokter ibarat menyelam sambil minum air.

“Kalau pas TK (taman kanak-kanak) dulu saya ingin menjadi astronot, tapi kan nggak kesampaian karena susah. Hahaha. Saya memang memiliki passion di bidang kesehatan. Profesi dokter ini juga mengharuskan kita untuk menolong orang,” tutur Amal yang ingin menjadi dokter spesialis penyakit dalam.

Saat ini, Amal menjalani kesibukan sebagai dokter muda yang sedang melakukan praktik di RSDS. Meski demikian, ia belum menyandang gelar wisudawan sarjana kedokteran sebagaimana lazimnya. Amal mengatakan bahwa ia harus menunda waktu kelulusannya agar bisa membawa nama harum UNAIR di kancah mawapres nasional.

Selamat berjuang, Amal! (*)

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu