Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.Comm., alumnus program studi S-1 dan S-2 Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga. (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Everyone can be public relations (setiap orang bisa menjadi humas). Ungkapan itu disampaikan oleh Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.Comm., selaku alumnus program studi S-1 dan S-2 Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Kini, alumni UNAIR itu telah diberi amanah untuk mengemban tugas sebagai Kepala Unit Informasi dan Kehumasan di Universitas Brawijaya Malang.

Ia sebelumnya tak pernah menduga bahwa ia akan didapuk menjadi kepala humas di universitas tersebut. Ia mengetahui jabatan baru tersebut pada prosesi pelantikan pejabat baru di institusinya. Terkait dengan jabatan kehumasan itu, ia mengatakan bahwa pada prinsipnya setiap orang adalah humas bagi dirinya sendiri.

“Bagi saya, kita semua bisa jadi PR, tetapi kita harus memastikan kita berdiri di maqam yang mana. Ketika orang sudah mengenali berbagai maqam tersebut, everyone can be PR, setidaknya untuk dirinya sendiri,” tutur Anang.

Semasa kuliah di prodi S-1 Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR, Anang mengakui bahwa dirinya bukanlah sosok mahasiswa yang berada pada puncak prestasi bidang akademik. Ia lebih tertarik untuk bergabung dengan berbagai organisasi mahasiswa. Ia pernah tercatat sebagai Wakil Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa FISIP UNAIR pada saat itu.

“Pada saat itu, saya mulai mengerti tentang pentingnya melakukan interaksi sosial dan jejaring komunikasi dengan sesama mahasiswa antarfakultas. Ketika sudah masuk ke BPM UNAIR, saya juga aktif dalam organisasi BPM lintas universitas. Waktu itu ada mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, IKIP Surabaya, dan UB. Pada waktu itu kita melakukan demonstrasi tentang pemberhentian sumbangan dana sosial berhadiah (SDSB),” ujar Anang yang meraih indeks prestasi kumulatif sebesar 3,06 pada lulus kuliah S-1.

Walaupun ia disebut sebagai orang yang pandai beretorika pada saat mahasiswa, ia merasa bahwa dirinya merupakan seorang yang pendiam pada saat studi di bangku sekolah menengah atas. Tak jarang, temannya sedikit banyak merasa heran dengan bidang yang ditekuni Anang.

BACA JUGA:  Menuju World Class University, Mahasiswa UNAIR Study Visit ke NUS

Pada semasa kuliah, ia pernah bergabung sebagai reporter di WARTA UNAIR. Pada tahun 1994 – 1995 di masa ia bergabung, tabloid bulanan WARTA UNAIR berada di bawah Airlangga University Press (AUP).

“Pasti di awal-awal edisi itu ditemukan nama saya. Direkturnya waktu itu Pak Yan Yan Cahyana. Waktu itu dengan kakak kelas S-2 di Komunikasi Bu Lestari, dari Sastra Pak Susilo. Kita bertiga garap itu semua. Terbit setiap bulan sekali. Pokoknya kita lumayan menyesuaikan dengan ritme yang penuh deadline karena kami hanya bertiga pada waktu itu,” tutur Anang yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Penyiaran Informasi Daerah Jawa Timur.

Sebagai reporter WARTA UNAIR, doktor lulusan salah satu universitas di Australia bersama rekannya memerankan fungsi kehumasan. Segala macam aktivitas, prestasi, dan pemikiran para sivitas akademika UNAIR tak luput olehnya.

Membangun reputasi

UNAIR tengah diberi target oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristke-Dikti) untuk menembus peringkat 500 besar perguruan tinggi top dunia. Sebagai salah satu alumni UNAIR yang memiliki kiprah baik, Anang mengatakan bahwa UNAIR telah memiliki banyak potensi untuk menuju ke arah sana. Namun, hal yang perlu ditingkatkan dan dijaga adalah reputasi dan komitmen.

“Menguatkan kalangan internal itu penting. Kalau kita bicara soal perguruan tinggi kelas dunia, artinya kita berbicara reputasi dan komitmen. Untuk membangun reputasi, kita harus berbasis pada kebenaran,” tutur Anang.

Ia pun melanjutkan, ketika reputasi dan kondisi internal telah diperbaiki dan ditingkatkan, maka upaya UNAIR takkan berarti apabila publik tak mengetahui usaha tersebut.

“Ketika apa yang sudah dibangun secara bersama-sama dengan konsisten, tidak akan berarti apa-apa, kalau tidak disampaikan ke publik. Peran humas adalah perlu mendiseminasikan informasi agar publik mengetahui jungkir balik universitas dalam menjaga kualitas,” imbuh Anang. (*)

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Nuri Hermawan

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone