Peri-peri Mengambil Nyawa Kami

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto: Anoopratnaker wikipedia.org

Di serambi masjid sebelah utara, aku duduk. Setelah berjamaah shalat ashar, aku memang biasa nongkrong sambil melamun di teras masjid. Kadang di sebelah utara, kadang selatan atau timur. Sesuai kenyamanan hati saja.

Langit mendung. Kelabu pekat. Sejurus lagi, pasti hujan. Aku senang melihat langit. Apapun keadaannya, menurutku, langit selalu indah untuk ditatap.

Tiba-tiba nampak di langit itu, gumpalan awan robek. Seperti ada sesuatu yang menembusnya dari angkasa. Sesuatu yang bercahaya tapi bukan cahaya menelusup dari awan menuju ke arahku. Sesuatu yang aneh, dengan kecepatan luar biasa meluncur ke hadapanku.

Dengan setengah takut, aku sudah berhadapan dengan barang yang ternyata adalah manusia, tapi bukan manusia. Perempuan, tapi bukan perempuan, bersayap, tapi pasti bukan siluman burung.

Dalam beberapa literatur dikatakan bahwa malaikat itu bersayap, tapi sumpah mati, sedikitpun aku tak menganggap orang yang bukan orang di depanku ini adalah malaikat. Dia lebih mirip peri yang hanya kuanggap merupakan tokoh rekaan orang-orang berimajinasi tinggi. Peri-peri yang biasa muncul di berbagai penampakan dalam karya seni. Atau peri-peri yang didongengkan pujangga.

Aku akui, angkat dua jempol, bahwa perempuan yang bukan perempuan di hadapanku ini indah, teramat indah. Dia bugil. Rambutnya panjang berwarna emas, dadanya besar berisi ranum gagah, kelaminnya tak berambut, badannya putih bersih, sayapnya dua helai kiri-kanan. Setiap helai terbagi atas dan bawah, yang bagian atas lebih lebar dua kali dari yang bawah, dengan warna emas keperakan. Kaki jenjang belalang, tubung langsing dan berhidung mancung nan  jelita.

”Ikut aku,” dia membuka percakapan dengan kurang sopan sebab tak memerkenalkan diri. ”Kamu siapa?” aku bertanya ramah.

”Aku adalah peri. Aku memimpin sepasukan peri-peri yang berjumlah ribuan. Kami turun ke bumi untuk menjemput orang-orang sepertimu,” jawab dia.

”Ribuan?” aku hanya melihat dia sendirian, berdiri tapi bukan berdiri di hadapanku. Kakinya tidak menyentuh tanah. Sayapnya bergerak-gerak pelahan, nampaknya sayap itulah yang memertahankannya tetap mengambang di udara.

”Pasukanku tak kemari. Mereka menyebar ke pelosok bumi, mencari dan menjemput orang-orang sepertimu. Setiap peri menjemput seorang,”

”Orang-orang sepertiku?”

”Ya, kalian orang-orang berhati mulia akan kami jemput untuk kami antar ke surga. Sebab, bumi akan kiamat. Dunia akan dimusnahkan sebentar lagi,”

”Orang mulia? Aku orang mulia? Yang benar saja,” sahut ku.

Meski sering mengumandangkan adzan, aku tetap tak merasa mulia. Kemarin di bioskop, aku beradu lumat lidah dengan seorang kawan perempuan. Seminggu yang lalu, hal yang sama kulakukan dengan kawan perempuan yang lain. Jadi, dari mana aku bisa dibilang mulia? Menggelikan.

”Siapa yang akan memusnahkan bumi?” aku bertanya dengan sedikit senyum geli. “Tuhan,” jawab dia.

”Dhuar!” guntur berbunyi mantap selepas kilat berkelebat. Gerimis turun. Seolah-olah, fenomena alam tersebut menjadi suara latar dari jawaban sosok yang mengaku peri: tuhan, sepersekian detik sebelumnya.

”Tuhan yang mana?” aku mencoba tetap tenang dan berwajah santai, meski jujur, aku mulai agak merinding.

”Tuhan ku dan Tuhan mu,”

”Dhuar!” guntur kembali bergemuruh. Kali ini lebih bergema. Rintik hujan lebih deras.

”Tapi, Tuhanku tak pernah sekalipun mengaku kalau punya makhluk sepertimu. Tuhanku tak pernah berkata bahwa orang-orang mulia akan dijemput peri naik ke langit. Dan Tuhanku tak pernah bilang kalau akan mengirim ciptaan yang serupa perempuan bugil bersayap untuk menemui seorang lelaki di serambi masjid. Semua tidak ada di kitab suci,”

Aku agak berdalil. Mendengar ucapanku sendiri, aku sedikit bangga. Tak disangka, aku bisa berucap sedemikian berani dan bijak.

”Kau banyak omong!”

”Dhuar,” lagi-lagi suara latar berupa guntur dan kelap-kelipan kilat mewarnai serta mendramatiskan suasana.

“Kau banyak bohong,” timpal ku. ”Buat apa kamu repot-repot mengantarkanku masuk surga. Aku orang kotor. Ke pesantren sana! Banyak pemuda dan orang-orang tua yang berilmu dan mulia,”

”Di pesantren lebih banyak orang munafik dan orang sombong. Orang-orang sok alim. Orang-orang yang merasa paling benar dan terpuji,”

Kali ini dia mengatai orang-orang pesantren. Memang, orang-orang pesantren lebih berpeluang angkuh. Sedangkan seburuk-buruk akhlak adalah angkuh. Maklumlah, orang pesantren memiliki kelebihan ilmu. Dan hanya orang-orang yang berkelebihan yang berpeluang angkuh.

”Persetanlah. Aku tak mau ikut. Kamu kira dengan tampilan ajaibmu, membuat aku takut? Tidak sedikitpun. Membuat aku takjub? Tidak sekejap pun. Aku tak percaya peri. Tuhan tak pernah menciptakan makhluk aneh sepertimu,”

Perempuan yang bukan manusia perempuan itu kosong menatapku. Beberapa detik berselang. Lalu, kembali berbicara.

”Ikutlah. Kalau kau tidak mau, tetap akan kupaksa. Surga menunggumu. Cepat. Pasukanku telah naik semuanya. Membawa orang-orang pilihan serupa kamu. Dan tak ada satu pun dari orang-orang itu yang mengajak berdebat sepertimu,”

Mungkin telah terjadi komunikasi telepati ketika dia hening sejurus tadi. Komunikasi antara dia dan pasukannya. Lantas dia dapat kabar, semua peri telah berangkat ke langit, kecuali dia. Ah, aku tak mau tahu. Yang jelas, aku mulai muak dengan makhluk sok hebat ini.

”Kalau kau memang utusan Tuhan, kau pasti bisa membawaku kemana pun kau pergi. Bahkan tanpa meminta izin padaku. Serupa jibril yang bisa membawa para nabi kemanapun yang diperintahkan Tuhan. Ku tantang kau! Kalau kau hebat, seret aku! Ke manapun. Ke surga yang kau katakan itu juga tak mengapa! ”

Dia lalu menggapai pergelangan tanganku. Dengan sigap ditariknya aku yang mulai meronta. Tak kusangka, dengan mudah dia membawaku menggelantung terbang. Sialan. Dia berhasil membawaku meninggalkan teras masjid. Kami menembus awan. Kopiahku terjatuh. Untung, aku memakai celana panjang, bukan memakai sarung. Jadi, aku tak perlu khawatir aurat bawahku terbuka kemana-mana.

“Hei, kita ke mana?” aku bertanya basa-basi. Sejak awal dia sudah bilang kalau ingin membawaku  ke surga.

“Tutup mulutmu. Sebentar lagi kesenangan abadi akan kau dapatkan. Bumi yang kau cintai ini akan hancur lebur. Sebuah asteroid raksasa telah dikirim Tuhan untuk menghantamnya. Kau termasuk orang-orang yang beruntung,”

Aku mulai ragu pada keyakinanku semula yang menganggap dia sekadar tukang bual. Sebab terbukti dia cukup sakti. Dia bisa membawaku menabrak berbagai lapisan bumi bagian atas. Ozon, atmosfer, dan akhirnya aku ke angkasa yang memerlihatkan bahwa langit tak lagi biru. Langit hitam pekat dengan entah berapa megatriliun bintang menaburinya.

Maka nampaklah ribuan peri lain. Masing-masing membawa seseorang dengan berbagai macam cara. Ada yang menenteng orang serupa yang terjadi padaku, dipegang dipergelangan tangan. Ada yang memeluk. Ada yang membiarkan orang yang dibawanya berpegangan di kakinya. Ada pula yang diletakkan di punggungnya yang bersayap. Dan masih banyak pose lain.

Terlihat pula bahwa peri-peri itu tak hanya berjenis perempuan yang bukan perempuan serupa peri yang datang menghadapku. Banyak juga yang lelaki namun bukan lelaki. Mereka pun berparas sama menawan dan gemilang. Yang lelaki tapi bukan lelaki bertugas membawa orang perempuan. Dan yang perempuan tapi bukan perempuan, tentu membawa orang lelaki, seperti aku.

Orang-orang yang sedang dibawa peri-peri terus naik ke langit entah di mana itu, jelas tergambar raut bahagia mereka. Ada yang tersenyum merekah seakan telah menghirup bau surga. Ada yang tertawa ringan dengan pandangan cemerlang seakan sudah bisa memandang halaman firdaus. Ada yang mulutnya komat-kamit mungkin sedang memuji-muji keagungan Tuhan. Intinya, mereka nampak sejahtera, kecuali aku.

Meskipun aku mulai bimbang, tapi aku tetap yakin bahwa Tuhanku tak pernah memersiapkan strategi pengiriman manusia ke surga macam ini. Perihal Dia punya kuasa mengubah apa saja termasuk mengubah jalan-jalan atau cara-cara ke surga yang telah terukir di kitab suci dengan strategi baru sesuai keinginanNya, itu hal yang sah-sah saja dan mungkin-mungkin saja. Sebab, Dia memang punya hak super prerogatif. Dia Tuhan. Dia berkuasa.

Namun, aku yakin seyakin-yakinnya dia tidak dan bukan zat yang zolim. Dia tak akan bertindak zolim dengan mengingkari janji-janjiNya yang termaktub di kitab suci.

”Aku ingin pulang ke bumi,” ucap ku lantang.

”Diamlah. Kita akan sampai sebentar lagi,” balas sang peri.

”Kirim aku kembali ke bumi. Persetan jika bumi akan hancur atau apapun, kembalikan aku ke bumi!” aku berontak.

Lamat-lamat ku dengar suara adzan, shalawat, dan pujian pada Tuhan dengan beraneka modelnya. Suara-suara itu, walau terdengar bertumpuk-tumpuk, namun jelas lafalnya Suara-suara itu kuyakini bukan dari tempat yang kata peri sedang kami tuju. Suara itu jelas datang dari bumi.

“Kembalikan aku! Kalian iblis! Kalian setan! Aku tak percaya kalian! Aku tak percaya dengan surga yang kalian janjikan!”

Selepas bersumpah serapah, aku menirukan suara-suara yang lamat-lamat kudengar tadi. Aku menirukan suara itu tidak dengan berbisik, namun dengan berteriak. Sekuat-kuatnya, sebisa-bisaku mengeluarkan suara. Mendengar itu, semua peri dan orang-orang yang mereka bawa menancapkan mata padaku. Lalu mereka tertawa. Tebahak dan menggelegar seakan menggoyang jagat. Seketika peri yang membawaku menghempaskanku ke arah bumi. Keras dia mementalkanku sehingga tubuhku terasa terlempar serupa kilat ketika hujan.

Dalam kecepatan yang teramat sangat ketika aku tertolak keras dari angkasa menuju bumi, aku masih sempat melihat peri-peri yang pada awalnya begitu rupawan, berubah seketika. Menjadi makhluk menjijikan. Menjadi figur yang mirip dengan iblis atau monster yang gambaran kebengisan dan keburukrupaannya biasa tertancap dalam imajinasi semua orang.

Bersayap api, bertaring panjang, berjenggot dan berkumis tak beraturan, bertanduk merah, berdaun telinga lincip, hidung babi, cakar di setiap jarinya dan tubuh berlendir memualkan. Sedangkan orang-orang yang dibawa oleh mereka, tak lagi berupa manusia. Melainkan berupa serupa dengan mereka. (*)

Berita Terkait

Rio F. Rachman

Rio F. Rachman

Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu