Sally Atyasasmi. S.KM., M.KM., Saat Memberikan Materi Kuliah Tamu Di FKM UNAIR. (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Banyak masyarakat yang belum mengetahui tugas utama dan fungsi dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Sally Atyasasmi, S.KM., M.KM., dalam kuliah tamu yang bertajuk “Penganggaran Daerah di Bidang Kesehatan”, Rabu (11/5).

“Legislatif itu turun langsung ke bawah dan menampung aspirasi masyarakat kemudian didiskusikan dan dibacakan di sidang paripurna, jadi tupoksi kita itu adalah mengusulkan aspirasi di ranah kebijakan,” Ujar Sally yang juga merupakan Alumni FKM UNAIR tersebut.

Pada acara yang dilaksanakan di Aula Sumarto Danusughondo Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR, Sally yang merupakan Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro mengungkapkan tentang betapa pentingnya bagi mahasiswa untuk mengenal perwakilan legislatif yang telah dipilih oleh rakyat di masing-masing daerah. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi insan akademisi agar bisa memberikan masukan kepada pihak legislatif. Pasalnya, tidak semua wakil rakyat ahli dalam bidang tertentu, sehingga tetap membutuhkan masukan-masukan yang dapat membantu.

“Para wakil dari masyarakat itu kan memiliki latar belakang tertentu, misalnya saja ekonomi, maka dia bukan seorang ahli di bidang kesehatan, maka dari itu kita sebagai akademisi harus memberikan masukan yang dapat membantu para wakil kita, terutama dibidang kesehatan,” imbuhnya dihadapan para mahasiswa FKM yang mengikuti kuliah tamu.

BACA JUGA:  Mahasiswa Sejarah Gali Wawasan Hubungan Indonesia dan Jepang

Lulusan FKM UNAIR tahun 2011 tersebut juga menyayangkan kepada para pemegang kebijakan yang lebih banyak mengartikan perkembangan dan pembangunan hanya dari bukti fisik, misalnya sebuah gedung.

“Kita ini juga butuh pembangunan SDM, salah satunya ya di bidang kesehatan,” ujar perempuan asli Bojonegoro tersebut.

Menurut Sally, banyak sekali hambatan dalam pembiayaan kesehatan seperti kurangnya SDM, kurangnya dana yang tersedia, penyebaran dana yang tidak sesuai, pemanfaatan yang tidak tepat, dan biaya kesehatan yang makin meningkat. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan ketidakadaannya konsistensi dari program pemerintah.

“Setiap kali pemilihan wakil, mereka punya program yang berbeda jadi tidak bisa konsisten, padahal konsistensi ini penting supaya kita bisa maju ke langkah berikutnya,” terang Sally.

Di akhir acara, Sally berharap bahwa mahasiswa sebagai kalangan akademisi ikut serta dalam pembangunan Indonesia.

“Kita harus turut serta dalam pembangunan. Karena besar perannya dari teman-teman akademisi,” pungkasnya. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor    : Nuri Hermawan

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone