Delegasi FKUA saat presentasi di ajang Hipotalamus Competition 2016 (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Makin maju teknologi di bidang kedokteran, makin kompleks pula efek samping yang dihasilkan ragam terapi pengobatan. Kondisi ini berseberangan dengan harapan banyak orang. Yakni, kesembuhan total tanpa efek samping berkepanjangan.

Untuk memenuhi keinginan tersebut, inovasi teknologi kedokteran terus dilaksanakan. Salah satu yang sedang dikembangkan di berbagai negara adalah metode terapi gen atau Micro RNA (disingkat MiRNA).

Walau metode itu masih terbilang awam di Indonesia, sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FKUA) justru menjadikannya inspirasi berkreasi. Mereka menggagas inovasi pengobatan menggunakan terapi gen dan mengaplikasikannya pada sejumlah kasus di Indonesia. Ide itu mereka tuangkan pula dalam bentuk poster ilmiah. Baru-baru ini, karya mereka berhasil menyabet sejumlah tropi dari beberapa ajang ilmiah berskala nasional.

Contohnya, yang diraih oleh  Maria Arni Stella dan Rizqy Rahmatyah. Mereka menjuarai Scientific Poster Competition di ajang Hipotalamus Competition 2016. Ajang kompetisi ilmiah tahunan ini  diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

Dua sekawan ini menawarkan gagasan tentang alternatif pengobatan menggunakan metode genetik berupa MiRNA 34a untuk penderita kanker paru. Tepatnya, dalam bentuk terapi inhalasi atau terapi hirup melalui nanobubble chitosan.

Sejauh ini, metode terapi penderita kanker paru umumnya melalui kemoterapi. Dalam prosesnya, bahan kimia dimasukkan melalui pembuluh darah. Ada pula terapi menggunakan radiologi. Pancaran sinar gelombang tertentu diarahkan ke titik tertentu untuk merusak sel kanker. Sayang, dua cara tersebut berpotensi menyebabkan efek samping yang sistemik. Antara lain, mual, muntah, kerontokan rambut, hingga kerusakan sel normal. Kondisi ini kerap membuat pasien merasa tidak nyaman. Akibatnya, penderita memilih putus obat dan berhenti melakukan terapi.

Ringankan beban pengidap kanker

Untuk meminimalkan efek samping terapi, Maria dan Rizqy memodifikasi metode terapi gen. Yakni, dengan menggabungkan mikroRNA 34a dengan nanobubble chitosan. Chitosan merupakan sebuah polisakarida yang dapat dimodifikasi dalam bentuk nanobubble. Dalam hal ini, nanobubble chitosan dimodifikasi agar bekerja lebih spesifik ke kanker sel paru.

Maria menjelaskan, terapi genetik ini menggunakan MiRNA 34a yang dimasukkan ke bubble berukuran nano. Selanjutnya, bubble berukuran nano tersebut dimasukan ke tubuh secara inhalasi atau dihirup langsung oleh penderita. Harapannya, setelah rutin terapi dengan cara ini, sel kanker ditekan pertumbuhannya hanya di area yang rusak. Sehingga, tidak menjalar ke bagian tubuh yang lain.

“Karena sifatnya pengobatan biomolekuler, targetnya lebih spesifik. Efek sampingnya minim. MiRNA ini banyak sekali macamnya dan sedang dikembangkan untuk berbagai macam penyakit seperti jantung koroner , diabetes, kanker,virus, penyakit autoimun, dan sebagainya” jelas Maria.

Seperti karakternya, secara spesifik metode Micro-RNA mampu mengaktifkan kematian sel yang berkelainan, serta mampu menekan pertumbuhan sel kanker. Tentu saja, dalam penyusunan gagasan tersebut, mereka berpedoman pada literatur dan hasil penelitian yang sudah banyak dilakukan di luar negeri.

Di Indonesia, metode terapi gen belum banyak digunakan. Sementara di luar negeri, sudah gencar dilakukan penelitian dan uji klinis. Maria mengaku ingin melakukan pendalaman lebih lanjut tentang hal tersebut. (*)

Penulis: Sefya
Editor: Rio F. Rachman

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone