Prof. Dr. Cholicul Hadi, M.Si (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – “Mengelola Inovasi dan Kreatifitas di Organisasi dengan Menggunakan Pendekatan Interdepedensi yang Berbasis Budaya Lokal” menjadi judul pidato orasi ilmiah Prof. Dr. Cholicul Hadi, M.Si., saat pengukuhan Gubes yang dilaksanakan di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen UNAIR, Sabtu (30/4). Guru Besar dalam Bidang Psikologi Industri dan Organisasi Fakultas Psikologi UNAIR tersebut, mengangkat unsur terpenting dalam sebuah organisasi yakni sikap saling bergantung, ia melihat bahwa kinerja pada sebuah kelompok atau organisasi dinilai lebih tinggi dengan pola kerja sama dan saling ketergantungan (interdepedensi, ­-red), baginya dengan adanya interdepedensi akan terbentuk pola-pola bagi para aktor yang otonom dan kompleks untuk mengelola kepentingan bersama.

Guru Besar ke-448 yang dimiliki UNAIR sejak berdiri pada tahun 1954 tersebut menambahkan, bahwa dalam konteks kekinian pelaku di dalam sebuah organisasi dituntut untuk mengembangkan sebuah inovasi dan kreativitas yang baginya terkadang membuat kecenderungan otonomi individual menjadi semakin kental.

“Jika kecenderungan otonomi individual terjadi maka akan mempersulit terjadinya kerjasama dan interdepedensi,” jelas Alumnus Psikologi UNAIR 1988.

Guru besar kelahiran Ngawi, 23 Maret 1964 tersebut juga menjelaskan bahwa istilah kreativitas dan inovasi dinilai lebih mendapatkan tempat dalam situasi kompetisi bebas dan global saat ini, dengan kreativitas dan inovasi baginya dunia organisasi bisa terus mempertahankan eksistensi.

Guru besar ke-156 UNAIR PTN-BH tersebut menilai bahwa kreativitas dan inovasi merupakan dua hal yang saling terkait, meski memiliki definisi berbeda keduanya memiliki hubungan yang sangat terkait. Meski demikian, bapak dua orang anak ini menegaskan bahwa dalam praktiknya di lapangan persoalan-persoalan semacam gesekan antaranggota yang muncul sering disebabkan oleh sebuah organisasi yang tidak mampu melakukan kedua hal tersebut (kreativitas dan inovasi, -red) secara konsisten dan tidak adanya dukungan dari anggota yang bisa memenuhi tuntutan persaingan.

“Untuk itulah dorongan kreativitas dan inovasi harus tetap dimaknai bukan dalam artian individualistik, tetapi kolektivitas kelompok, iniliah pentingnya interdepedensi,” jelasnya.

Pendekatan Interdepedensi

Pada pertengahan pidatonya, guru besar ke-4 yang dimiliki oleh Fakultas Psikologi UNAIR tersebut menegaskan bahwa interdepedensi dengan bentuk manajemen merupakan hal yang sangat diperlukan untuk mengelola kompleksitas relasi antarindividu dalam organisasi yang saat ini diwarnai dengan dorongan inovasi dan kreativitas yang otonom dan kompetitif.

Pendekatan Interdepedensi baginya memiliki akar tradisi budaya yang cukup kuat di Indonesia. Banyak istilah-istilah yang digunakan dalam masyarakat yang secara langsung merujuk pada pentingnya sebuah interdepedensi dalam sebuah organisasi.

“Istilah tiji tibeh (mati siji mati kabehi), holopus kuntul baris, rame ing gawe sepi ing pamrih, sejatinya merupakan bentuk dari nilai-nilai lokal yang mengakar di masyarakat kita, penting makanya menerapkan hal-hal yang demikian ini dalam organisasi,” tuturnya.  (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Dilan Salsabila

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone