Prof. Dr. dr. Ari Sutjahjo, Sp.PD., K-EMD., FINASIM (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Di bidang endokrinologi, penyakit diabetes mellitus masih menjadi perhatian utama dalam hal pencegahan dan penanganan. Walaupun diabetes mellitus merupakan kasus terbanyak di bidang endokrinologi, namun kasus nodul tiroid –yang lebih dikenal sebagai benjolan di kelenjar gondok– belum mendapatkan perhatian khusus layaknya diabetes mellitus, walaupun jumlah kasusnya tidak dapat dikatakan sedikit.

Nodul tiroid merupakan suatu kondisi di mana secara klinis dikenal sebagai pembesaran kelenjar tiroid. Apabila seseorang mengidap penderita nodul tiroid, kelenjar tiroid akan mengalami perubahan secara struktural dan atau fungsional. Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Ari Sutjahjo, Sp.PD., K-EMD., FINASIM dalam orasi ilmiahnya berjudul ‘Pengelolaan Nodul Tiroid yang dapat Diterapkan pada Keterbatasan Sarana’. Orasi tersebut ia sampaikan pada prosesi pengukuhan Guru Besar Universitas Airlangga di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UNAIR, Sabtu (30/4).

“Oleh karena secara anatomi letak kelenjar tiroid berada di permukaan, maka nodul tiroid dengan mudah dapat terdeteksi dengan pemeriksaan fisik maupun dengan menggunakan saran diagnostik seperti ultrasonografi, scintigraphy, dan CT-Scan,” tutur Prof. Ari dalam orasi ilmiahnya.

Dalam hal menangani nodul tiroid, masyarakat perlu memahami gejala-gejala dan pengetahuan umum tentang penyakit yang menyerang kelenjar gondok itu. “Penyuluhan serta edukasi yang lebih banyak dan merata terhadap masyarakat terkait arti dari nodul tiroid, keluhan-keluhan yang dapat timbul akibat adanya nodul tiroid. Serta komplikasi yang dapat terjadi serta langkah apa yang perlu dilakukan akan sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” imbuh Prof. Ari.

Terkait dengan pendidikan medis, Prof. Ari menuturkan bahwa mahasiswa jenjang S-1 Pendidikan Dokter selayaknya diberi kesempatan lebih banyak untuk melakukan praktik di poli endokrinologi agar mendampingi para dokter. Sedangkan untuk pendidikan spesialis dua, ia mengatakan bahwa Indonesia masih kekurangan jumlah ahli di bidang endokrinologi, maka dari itu jumlah ahli endokrin perlu diperbanyak.

Proses Cepat

Prof. Ari bisa dikatakan sebagai pengajar yang berhasil mengurus persyaratan sebagai profesor hanya dalam kurun waktu satu pekan. Surat keputusannya sebagai guru besar berhasil ia sandang ketika ia berhasil mencapai kredit poin sebesar 1.050 dari 850 poin sebagaimana syarat pengangkatan guru besar.

Awalnya, ia tak bermaksud mengajukan berkas-berkas menjadi guru besar. Prof. Ari hanya ingin mengajukan surat pensiun mengingat ia sudah berusia ke-65 tahun pada tahun 2016. Namun, takdir berkata lain. Pihak FK UNAIR menganggap bahwa kredit poin yang ia miliki bisa mengantarkan dirinya menjadi guru besar baru di bidang ilmu penyakit dalam.

“Pihak fakultas melihat nilai saya mencukupi untuk proses guru besar, maka saya disarankan melengkapi berkas pengurusan itu. Saya pun mengajukan berkas ke kementerian pada awal Januari 2016,” ujar guru besar kelahiran 10 Februari 1951 itu.

Ia pun berhasil menyandang status guru besar hanya dalam total waktu satu bulan. Dirjen Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti Prof. Ali Ghufron menyetujui suratnya dalam waktu satu minggu, dan menunggu tanda tangan Menristekdikti sekitar tiga minggu.

“Akhirnya, surat keputusan diterbitkan per tanggal 1 Februari 2016,” tutur guru besar kelahiran Kediri itu.

Pada 30 April, Prof. Ari resmi dikukuhkan oleh Rektor UNAIR sebagai Guru Besar bidang Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNAIR. Sejak UNAIR diresmikan pada tahun 1954, Prof. Ari merupakan Guru Besar UNAIR ke-447. Sedangkan, sejak UNAIR berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), Prof. Ari merupakan guru besar ke-155. Prof. Ari juga menjadi Guru Besar FK UNAIR yang ke-106. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor : Dilan Salsabila

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone