Kemenristekdikti-UNAIR Gelar Sosialisasi dan Monev Perizinan Peneliti Asing

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr Takako Utsumi saat memberikan materi (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sebagai upaya pegembangan dan transfer ilmu pengetahuan, pemerintah terus berupaya memperbesar peluang kerja sama yang dilakukan antara peneliti asing dengan peneliti Indonesia. Bertempat di Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggelar Sosialisasi dan Monev Perizinan Peneliti Asing, Kamis (28/4).

Hadir sebagai narasumber dalam sosialisasi ini Dr. Sri Wahyono selaku Kepala Seksi Administrasi Perizinan Penelitian Kemenristekdikti, Prof. Maria Lucia Inge Lusida, dr., M.Kes., Ph.D selaku Ketua Lembaga Penyakit Tropis UNAIR, dan Dr Takako Utsumi dari Kobe University. Sosialisasi ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor III UNAIR, ketua badan dan lembaga di lingkungan UNAIR, dekan, kepala kepolisian, dinas, badan, kantor imigrasi, serta balai taman nasional, dan beberapa rektor dari universitas di Jawa Timur.

Melalui sambutannya, Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D selaku Wakil Rektor III UNAIR mengatakan bahwa sosialisasi ini merupakan salah satu faktor yang turut serta dalam mendorong jumlah penelitian di lingkungan UNAIR. Banyaknya jumlah penelitian juga akan berpengaruh dalam mengantarkan UNAIR menuju peringkat 500 dunia.

Academic excellence, research excellence, community service excellence, dan university holding excellence merupakan faktor-faktor yang mampu mengantarkan UNAIR dalam menuju 500 besar dunia. Beberapa unit dan lembaga memiliki program sesuai bidang dan kewenangannya, termasuk LPT UNAIR,” ujar Prof Amin.

Dalam pemaparannya, Dr. Sri Wahyono mengatakan bahwa sejak tahun 2010 jumlah perizinan yang diterbitkan oleh Kemenristekdikti rata-rata lebih dari 500. Jumlah ini cenderung mengalami peningkatan tiap tahunnya. Sesuai mandat dari Direktur Jenderal Penguatan riset dan Pengembangan, jumlah tersebut diupayakan mampu mencapai jumlah 1000 perizinan di tiap tahunnya.

“Ada rata-rata 780 proposal yang masuk tiap tahun. Tapi ada filter dari kami. Ada juga proposal yang kami tolak, ada juga yang ditunda untuk merevisi proposal, melengkapi proposal, atau menambah dan mengganti mitra kerja,” ujar Sri Wahyono.

Pada kesempatan ini, Sri Wahyono mengatakan bahwa mekanisme perizinan ini diatur dalam Peraturan Pemerintah RI No. 41 Tahun 2006, Tentang Perizinan Melakukan Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga Penelitian Dan Pengembangan Asing, Badan Usaha Asing, Dan Orang Asing. Penelitian di Indonesia perlu diatur. Sebab menurutnya, Indonesia merupakan “laboratorium alam” karena memiliki potensi kekayaan serta letak geografis yang strategis untuk menjadi lahan bagi para peneliti asing.

Kata Sri Wahyono, minat peneliti asing kebanyakan terletak pada bidang ilmu hayati. Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat tinggi. Yang sering menjadi bahan penelitian yaitu objek yang berada di cagar alam, hutan lindung, dan taman nasional.

“Kontribusi peneliti asing cukup besar, khususnya untuk joint research dan join publikasi pada jurnal dan majalah internasional,” katanya.

Meski Indonesia harus menggenjot jumlah perizinan penelitian dari asing, namun dari kerjasama tersebut harus ada keseimbangan. “Jangan sampai dari kerjasama tersebut kita jadi “pembantu”. Itu penting. Sehingga MoU sebagai dasar dari kerjasama juga harus ditinjau,” paparnya.

Pada kesempatan ini, Prof. Soetjipto, dr., MS, Ph.D mantan Wakil Rektor III UNAIR ikut berkomentar tentang pentingnya meningkatkan kerjasama dengan pihak asing. Seperti yang pernah dilakukan LPT UNAIR. Berkat kerjasama dengan Kobe University, LPT UNAIR pernah mendapatkan bantuan dana dan operasional sistem, yang mana harga peralatan tersebut tidak terbeli dengan dana yang diberikan oleh UNAIR. Selain itu, di Indonesia, untuk mendapatkan peralatan seperti yang diberikan oleh Kobe University, perizinan dari kementerian cukup sulit.

Berdasarkan penuturan dari Prof Inge, saat ini telah banyak kerja sama yang dijalin antara LPT UNAIR dengan peneliti asing. Kerja sama tersebut baik dengan universitas, maupun dengan perusahaan asing. Agar kerjasama dapat dilihat hasilnya, minimal kerjasama dilakukan hingga 4 tahun.

“Kita harus berlaku sebagai partner yang selevel. Untuk junior mereka belajar. Tapi setelah itu kita harus tampil selevel,” pungkas Prof Inge. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor    : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu