Berkat Ejekan Sejawat, Prof. Rachmah Ida Jadi Gubes Bidang Kajian Media Pertama di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR NEWS – Pada periode tahun 1997, Kajian media atau media studies belum begitu populer di Indonesia. Dibandingkan dengan studi public relation, media studies yang termasuk kajian di bidang ilmu komunikasi tersebut kurang diminati oleh mahasiswa. Namun hal tersebut tak menyurutkan semangat seorang “Kartini” asal komunikasi UNAIR ini, Prof. Dra. Rachmah Ida, M.Comms, PhD, Dosen pengajar Sarjana (S1) dan Magister (S2) Ilmu Komunikasi UNAIR yang menempuh studi medianya hingga doctoral di negeri kanguru, Australia.

Banyak rintangan yang dihadapi oleh Rachmah Ida sebelum menentukan pilihannya untuk melanjutkan pendidikan di bidang media studies. Dia bercerita, bahwa suatu saat masih menempuh pendidikan master media studies di Edith Cowan University,Australia, dirinya sempat dijadikan bahan ejekan oleh teman sejawatnya, lantaran bidang studi yang ia pilih tidak akan laku di Indonesia.

“Saya pernah di olok sama senior saya, karena ilmu saya yaitu media cultural studies dianggap tidak akan pernah laku di Indonesia, saat itu saya diam saja,” kenang wanita yang telah menempuh pendidikan doctoral di Curtin University of Technology, Australia.

Namun kini, Industri media mulai berkembang dan pendidikan ilmu komunikasi di Indonesia mulai tertarik dengan media cultural studies. Ketika kajian media sedang booming, banyak orang yang beralih ke kajian media studies ini. Apa yang telah diperkirakan oleh kolega seniornya tidak terbukti. Hal ini yang kemudian menjadikan Rachmah Ida semakin mantap untuk mengajukan diri menjadi guru besar di bidang kajian media pada Desember 2014. Terlebih saat itu Rachmah Ida menjadi guru besar di bidang kajian media pertama di Indonesia.

“Ketika saya mengajukan guru besar saya, maka kajian media adalah bidang studi yang selama ini saya tekuni menjadi major saya di antara dosen-dosen Ilmu Komunikasi di tanah air yang dominannya mengambil studi Ilmu Komunikasi,” ungkap wanita yang kini masih aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat tersebut.

Selain aktif di bidang penelitian dan pendidikan, Rachmah Ida juga merupakan Ibu bagi putrinya, Zahra Tiara Aisya,19 tahun. Walaupun terbilang sibuk oleh penelitian dan mengajar mahasiswanya, Rachmah Ida tak ingin perhatian kepada buah hatinya luput begitu saja. Dia bersama suaminya ingin membesarkan dan mengasuh anaknya mulai dari kecil hingga kini sebagai mahasiswi.

“Sebagai Ibu bagi seorang putri saya menjadi Ibu yang nurturing (mengasuh,-red) dan membimbing akidahnya, sekaligus “best friend” baginya,” ungkap wanita asli Surabaya tersebut.

Mengartikan Kesetaraan Gender

Menurutnya, kesetaraan gender adalah konsep di mana ada pengakuan atas hak-hak asasi yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki. Hak asasi ini meliputi hak untuk hidup, hak atas pendidikan, hak atas pekerjaan yang layak, hak memilih dan dipilih dalam kehidupan politik, dan pokok-pokok hak asasi lainnya.

“Selama ini memang kita berjuang untuk perempuan, karena perempuan menjadi kaum yang tidak diuntungkan oleh konstruksi budaya/kultur dan konstruksi sosial politik di masyarakat,” ujarnya.

Rachmah Ida menyayangkan masih banyak perempuan yang tidak mendapat gaji atau pendapatan yang sama dengan laki-laki di bidang pekerjaan publik. Juga masih banyak hal lainnya di mana hak-hak perempuan tidak terpenuhi sebagai makhluk sosial yang asasi.

“Jadi kesetaraan gender itu menurut saya adalah memberikan hak-hak yang proposional dan adil baik kepada perempuan dan laki-laki,” jelasnya.

Selain itu, Rachmah Ida juga mengeluhkan guyonan masyarakat yang terkadang justru mengurangi nilai dari kesetaraan gender. Cohtohnya seperti laki-laki yang bisa naik genteng memperbaiki rumah, berarti perempuan juga harus bisa naik genteng memperbaiki rumah.

“Saya selalu sedih jika pengetahuan tentang harus adilnya memperlakukan perempuan dan laki-laki dijadikan bahan guyonan, bahkan di dunia akademik,” keluhnya.

Dia berharap agar kedepan, perempuan di Indonesia memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara menyeluruh melalui kelompok belajar masyarakat. Hal tersebut agar menjadikan perempuan tidak hanya pintar, namun juga lebih kreatif dan aktif sehingga suarannya dapat didengar. Perempuan juga harus mampu mengartikulasikan kepentingannya, dan tidak diwakili oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan perempuan tapi tidak menyuarakan suara perempuan.

“Saya ingin perempuan Indonesia punya dignity dan self-determinism untuk menentukan identitasnya sebagai perempuan, mau menjadi ibu, istri, atau apapun identitas yang ingin disandangnya secara bebas tanpa harus dilekatkan pada peran-peran sosial dan cultural subjek lainnya,” pungkasnya. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu