Drh. Erni Suyanti Musabine, usai seminar di UNAIR (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Perempuan berkulit sawo matang dengan rambut dikuncir miring ini kembali menjejakkan kakinya di kampus almamater Universitas Airlangga. Ya, kampus ini pernah mendidiknya hingga menjadi sarjana Kedokteran Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Sekitar satu jam ia berhasil memukau ratusan peserta seminar Ekoturisme pada Minggu (10/4) ketika bertutur tentang pengalamannya menjinakkan satwa liar, terutama harimau, di hutan belantara Sumatera.

Atas prestasinya itu, tidak heran jika Erni Suyanti Musabine, sosok “Kartini” alumni UNAIR ini tengah menjadi perbincangan aktual di media massa di Indonesia. Ia tercatat sebagai penyelamat perdana harimau Sumatera secara hidup-hidup yang ia lakukan pada tahun 2007 lalu. Di berbagai media, termasuk tayangan televisi “Kick Andy” dan “Hitam Putih”, dokter Yanti, sapaan akrabnya, dikenal sebagai sosok yang berhasil menyelamatkan harimau Sumatera dari ancaman kepunahan.

Ia kini bekerja di Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Bengkulu, menangani bidang konservasi satwa liar. Hobi pada hewan liar ia tekuni ketika menjadi mahasiswa program studi Pendidikan Dokter Hewan FKH UNAIR tahun angkatan 1994. Pada saat ia menjadi mahasiswa, ia juga aktif pada Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) UNAIR. Ia mengakui, kesukaannya pada bidang satwa liar itu mulai timbul saat ia menonton film yang mengisahkan kehidupan satwa liar.

Dokter Yanti berkisah, saat pergi ke hutan dan melihat kondisi satwa liar, ia merasa trenyuh tentang minimnya pelayanan kesehatan terhadap satwa liar yang ada di hutan belantara. Saat hewan mengalami kesakitan karena berbagai sebab, tidak ada yang memberi pengobatan. Pikiran sederhana itu yang menginspirasi dokter Yanti untuk meniti karir di bidang konservasi satwa liar. Pada tahun 2002, dokter Yanti mulai bekerja sebagai relawan dokter hewan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) di kawasan Petungsewu, Kabupaten Malang.

“Ketika di Malang itu, saya menangani hampir semua satwa liar yang terancam punah, dari mulai wilayah barat sampai timur Indonesia, seperti burung, reptil, mamalia (orangutan, siamang, monyet),” katanya kepada UNAIR NEWS.

Tahun 2004 ia pindah ke Sumatera untuk meniti karir sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Kehutanan (pada saat itu) sampai sekarang. Ia masih berkiprah di bidang yang sama yakni konservasi satwa liar. Namun ketika sudah bergabung dengan Kemenhut, ia mulai fokus menangani mamalia besar, seperti orangutan, gajah, dan harimau. Terkadang, dokter Yanti juga menangani tapir dan beruang.

Penyelamatan harimau

Dari berbagai upaya penyelamatan satwa liar yang pernah ia tangani, ada beberapa pengalaman yang masih membekas hingga sekarang. Ia ingat betul bagaimana menyelamatkan harimau Sumatera untuk pertama kalinya pada tahun 2007 itu. Ia sangat berkesan, bahwa ternyata ini merupakan upaya penyelamatan harimau yang pertama kali dilakukan selama ini.

“Bagi saya, upaya penyelamatan gajah dan orangutan selalu menjadi pengalaman menarik. Beberapa pengalaman rescuing (penyelamatan) yang selalu saya kenang adalah upaya penyelamatan harimau Sumatera untuk yang pertama kalinya, yaitu tahun 2007,” terang perempuan asal Nganjuk ini.

Erni Suyanti, dengan sampannya ia membawa harimau yang sudah dilumpuhkan untuk dibawa ke lokasi konservasi dan perawatan. (Foto: Repro Bambang Bes)
Erni Suyanti, dengan sampannya ia membawa harimau yang sudah dilumpuhkan untuk dibawa ke lokasi konservasi dan perawatan. (Foto: Repro Bambang Bes)

Harimau Sumatera itu berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup-hidup. Penyelamatan harimau pada saat itu ia lakukan dengan peralatan yang sangat terbatas karena tak ada dukungan fasilitas. Dokter Yanti hanya menggunakan obat bius, tanpa alat suntik bius maupun syringe.

“Waktu itu untuk menyelamatkan harimau itu kami melakukan suntik langsung, karena desakan banyak orang,” tutur dokter Yanti mengenang tentang harimau pertama yang ia selamatkan dan kemudian diberi nama Putri itu. Saat itu hewan naas itu terkena jerat pemburu di sebuah perkebunan karet.

Pada tahun 2011, dokter Yanti kembali menyelamatkan harimau yang kena jerat pemburu di sebuah hutan produksi di Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Lokasi penyelamatan harimau yang cukup jauh itu juga cukup membekas di benaknya. Pada saat itu, dokter Yanti sedang berupaya menyelamatkan gajah. Tiba-tiba, ia mendapatkan informasi bahwa ada seekor harimau telah terjerat.

Untuk mencapai lokasi tersebut, dokter hewan kelahiran 14 September 1975 ini melangsungkan perjalanan selama tiga hari. Di hari pertama dokter Yanti mengendarai mobil, sisanya ia harus menempuh  jarak tempuh harus jalan kaki.

“Yang bikin saya terkesan adalah lokasinya yang jauh, tetapi harimau bisa diselamatkan. Kami melakukan amputasi di hutan dan dilanjutkan dengan transplantasi kulit,” tuturnya.

Pada tahun 2014, ia kembali menyelamatkan harimau Sumatera. Kali ini, ia dihadapkan pada kesulitan yang tinggi. Ia dan rekan satu timnya harus mencari harimau ke semak-semak. Harimau itu berhasil lepas dari jerat pemburu, namun kaki raja hutan itu masih terbebat kawat seling sehingga harimau berjalan ke mana-mana dan mendekam di semak-semak.

Setelah berhasil menyelamatkan belasan harimau dalam keadaan hidup, dokter Yanti dihadapkan pada kondisi serba sulit. Dari mana biaya perawatan satwa liar? Bagaimana biaya makan, pengobatan, dan perawatan kandang? Tak jarang dokter Yanti melakukan usaha sendiri, seperti menjadi pembicara seminar, presentasi, dan dukungan dana dari pihak luar.

Menepis rasa takut

Pernahkah ia dihinggapi rasa takut saat melakukan upaya penyelamatan hewan buas? Dokter Yanti tak menampiknya. Namun sebagai dokter hewan, ia harus mengenal perilaku alami berbagai jenis hewan liar yang bisa mengancam keselamatan dirinya itu.

”Setiap hewan itu punya perilaku alami. Misalnya harimau itu kalau menerkam selalu dari belakang. Jadi kalau ketemu ya bagaimana caranya kita berjalan pelan, atau berjalan mundur untuk menghadap ke harimau. Jadi wajib mengetahui perilaku kebiasaan hewan, selain itu bagaimana agar hewan tersebut merasa tidak terganggu apalagi merasa terancam,” ujar dokter Yanti.

Para binatang buas liar, kata Erni Suyanti, sebenarnya lebih memilih untuk lari jika berpapasan dengan manusia. Harimau berani mengancam keselamatan manusia itu, ternyata karena menurut kisahnya, ada yang karena konflik dan harimau merasa terpojok dan tak bisa melarikan diri dari kepungan manusia. Hewan juga bisa menyerang karena adanya gangguan, misalnya pencurian anak harimau yang dilakukan penduduk.

“Harimau itu punya insting yang hebat. Kalau bayinya diambil, maka sampai dimana pun induk harimau akan mendatangi orang yang mengambil itu. Penciumannya tajam sekali,” tutur dokter Yanti.

Sebaliknya, hewan liar juga bisa memberikan perlindungan kepada manusia. Misalnya, ketika dokter Yanti dan tim konservasi melakukan patroli ke hutan, dengan membawa serta gajah yang sudah dididik dan jinak, maka ketika bertemu gajah lain yang liar, si gajah patrol itu bisa melindungi petugas.

Yang pasti, hewan liar bukan menjadi satu-satunya ancaman bagi keselamatan dokter Yanti dan kawan-kawan. Ada dua ancaman bagi dokter Yanti dan rekan seprofesinya ketika melaksanakan tugasnya yakni pemburu dan penduduk sekitar hutan yang terlibat konflik dengan satwa. Oleh karena itu, tak jarang dokter Yanti dan rekannya dianggap sebagai ‘musuh’ pemusnahan satwa liar yang dilindungi.

Penulis : Defrina Sukma Satiti

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).