Prof. Maria Lucia Inge, Menyeimbangkan Peran Peneliti dan Ibu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR NEWS – Perempuan masa kini mengemban tugas yang tak ringan, perannya tak sekedar untuk memelihara dan merawat keluarga, tetapi juga melakoni pekerjaan sebagai wanita karir. Bahkan tidak sedikiri perempuan era sekarang menduduki kursi jabatan tertinggi di institusi yang dipimpin.

Ruang kerjanya ditata secara rapi dan sederhana. Prof. Maria Lucia Inge Lusida, dr., M.Kes., Ph.D telah menyempatkan diri di tengah-tengah waktunya yang padat. Ia berbagi cerita tentang karirnya sebagai peneliti sekaligus Ketua Institute of Tropical Disease (Lembaga Penyakit Tropik, -red) Universitas Airlangga, Surabaya.

Sejak Inge diterima sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran UNAIR pada tahun 1984, ia tak pernah membayangkan bahwa dirinya bisa menjadi peneliti sekaligus guru besar seperti sekarang.  Inge merasa dirinya seperti mahasiswa kedokteran pada umumnya, mulai mengikuti kuliah secara rutin dan berdiskusi dengan rekan sesama mahasiswa. Namun, usai ia menamatkan pendidikan sarjana kedokteran, ia tak sempat mengabdikan diri pada masyarakat.

“Saya harus bergantian dengan suami saya. Pada waktu itu suami saya pulang dari mengabdi, namanya Inpres pada waktu itu. Kalau saya berangkat, berarti saya harus berpisah lagi dengan suami. Jadi, saya langsung menjadi dosen dan mengajar,” tutur Inge dengan raut wajah tersipu.

Inge dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Mikrobiologi Klinik FK UNAIR pada tanggal 24 Juli 2010. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar UNAIR ke-388 dan ke-96 periode UNAIR sebagai Perguruan Tinggi Negeri – Berbadan Hukum (PTN-BH). Inge – yang pada saat dikukuhkan masih menjabat sebagai Sekretaris ITD UNAIR – membawakan orasi ilmiah berjudul “Peran Pemeriksaan Berbasis Biologi Molekuler dalam Upaya Penanggulangan Hepatitis B di Indonesia”.

Tak hanya kali ini dosen yang memulai karirnya pada tahun 1986 memiliki sederet penelitian dengan topik hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C. Tak kurang ada 26 judul penelitiannya yang telah terpublikasi mengambil topik hepatitis.

“Saya tertarik dengan topik biologi molekuler karena penyakit-penyakit di Indonesia yang disebabkan oleh infeksi jamur, virus, bakteri itu masih banyak sehingga saya tertarik untuk mengembangkan penelitian tentang biologi molekuler itu,” tutur doktor lulusan Universitas Kobe, Jepang itu.

Sejumlah judul penelitiannya yang dipublikasikan pada tahun 2015 antara lain “Hepatitis B virus infection in Indonesia 21(38): 10714 – 10720 World J Gastroenterol”, dan “A Deep-sequencing Method Detects Drug-Resistant Mutations in the Hepatitis B Virus in Indonesians 57:384-92 Intervirology”.

Sebagai periset aktif di lingkungan kampus, Inge tentu berharap agar pemerintah mendukung penuh iklim riset demi pengembangan dunia pendidikan. Apalagi, target untuk meraih predikat perguruan tinggi kelas dunia bukanlah yang mudah dicapai tanpa dukungan pemerintah.

“Sebagai dosen, kegiatan riset itu memang harus aktif. Dengan riset yang terus berjalan, maka pendidikan juga akan berkembang,” ujar Guru Besar bidang Mikrobiologi Klinik FK UNAIR ini.

Kepeduliannya terhadap dunia penelitian menjadikan Inge terus berkomitmen menjadikan ITD UNAIR sebagai Pusat Unggulan Ipteks Perguruan Tinggi (PUI-PT). Selain itu ia juga memiliki harapan besar terhadap lembaga-lembaga di lingkungan UNAIR agar bisa menyusul keberhasilan ITD UNAIR sebagai PUI-PT.

“Saat ini ITD UNAIR  sebagai satu-satunya wakil UNAIR sebagai PUI-PT, saya berharap ke depan akan ada lembaga-lembaga pada lingkungan fakultas di UNAIR yang menyusul sebagai PUI-PT,” tegasnya.

Seimbang

Meskipun Inge telah berada di puncak karir sebagai seorang guru besar, ia tentu membutuhkan dukungan dari keluarga khususnya pada posisinya sekarang. Ia harus mengurusi institut yang meraih predikat Pusat Unggulan IPTEK di bidang kesehatan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada bulan Desember 2015 lalu. Selain mengurus riset, ia juga masih aktif mengajar dan menjalani praktik dokter.

Menjadi perempuan memang bukan hal yang mudah. Perempuan diberi tanggung jawab untuk mengurus anak sejak kecil hingga tumbuh besar. Belum lagi apabila perempuan tersebut meniti karir dalam pekerjaan yang ditekuni.

Inge menekankan bahwa pendidikan adalah kunci utama bagi perempuan. Ia tak setuju apabila menempuh pendidikan setinggi-tingginya hanya boleh diakses oleh kaum laki-laki saja. Baginya, kesetaraan gender harus berlaku dalam dunia pendidikan.

“Kalau pada masa itu, Kartini memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Itu masih relevan hingga saat ini. Pendidikan bagi perempuan dan laki-laki tidak boleh dibedakan. Para perempuan adalah calon ibu. Ia akan mendidik generasi-generasi berikutnya,” tegas Inge.

Inge menuturkan bahwa memang tak mudah untuk menjalani berbagai tugas dalam waktu yang bersamaan, khususnya pada awal karir. Namun, ia kini sudah mengikuti ritme kerja di kampus dan di lingkungan keluarga. Bagi Inge, kunci utamanya adalah menyeimbangkan karir dan keluarga.

“Kalaupun perempuan itu berkarir, ya, keduanya harus berjalan dengan sukses. Keluarga harus tetap diperhatikan dan karir juga harus berjalan profesional. Memang bukan hal yang mudah apalagi masa awal-awal berkarir, tapi keduanya harus dijalankan secara maksimal karena waktu tidak akan membawa kita kembali,” tutur Inge. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu