Mahasiswa D3 Radiologi Ubah Limbah Jadi Karya Kreatif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR NEWS – Para mahasiswa UNAIR tidak pernah miskin kreatifitas. Salah satunya, yang dilakukan pemuda-pemudi dari D3 Radiologi Fakultas Vokasi. Mereka mengkreasi limbah atau barang bekas menjadi karya sarat manfaat.

Semua itu bermula saat dosen di mata ajar kewirausahaan semester IV memberi mereka tugas. Sejumlah 53 mahasiswa yang dibagi menjadi empat kelompok itu wajib membuat hasta karya. Produk tersebut mesti realistis untuk dibisniskan. Maka itu, mereka juga harus membuat bisnis plan yang rasional.

“Mereka tidak boleh asal buat barang tanpa tahu mau disalurkan ke mana. Konsepnya mesti jelas,” kata Deni Yasmara, M.Kep. Ns., Sp.Kep.M.B, penanggung jawab mata ajar kewirausahaan. Selain Deni, terdapat tiga dosen lain. Yakni, Drs Puspandam Katias, MM, Firly Irhamni, SE. MM., dan Budi Prijo Witjaksono SST.

Yang menarik, limbah yang dipakai berasal dari bidang mereka sendiri. Dengan demikian, perpektif kewirausahaan yang dijadikan pedoman tidak jauh dari program studi yang digeluti.

Limbah yang dikreasi tersebut antara lain berupa film rontgen yang sudah rusak, botol cairan kontras, karton pembungkus film rontgen, dan lain sebagainya. Memang, untuk “membisniskannya” dalam skala besar, perlu koordinasi dengan sejumlah stake holder. Baik di tingkat pusat hingga daerah.

Tapi, rencana tersebut bukan tidak mungkin. Mengingat, jaringan program studi radiologi yang sudah luas dan branding kampus UNAIR yang kuat. Bukan mustahil pula, suatu saat mereka akan ikut meramaikan pekan atau pameran handicraft berbahan dasar limbah.

Apa saja bentuk produk yang para mahasiswa itu sudah hasilkan? Berikut ulasannya.

Lilin Souvenir

Lilin Souvenir (Foto: Istimewa)
Lilin Souvenir (Foto: Istimewa)

Salah satu kelompok yang menamai diri mereka Gift by Us ini membikin lilin souvenir. Bentuknya mungil. Bahan limbah yang dipakai adalah botol-botol kecil cairan kontras. Cairan tersebut kadang dipakai atau dioleskan pada bagian tubuh yang akan difoto rontgen.

“Kami pikir bentuk botol kontras itu lucu. Pasti menarik kalau dihias dan dijadikan barang. Nantinya, bisa dipakai jadi souvenir pernikahan atau kenang-kenangan,” kata Alifi Dika, salah satu anggota Gift by Us.

Mereka pun mulai menganalisa tentang apa yang bisa diciptakan dari botol-botol tersebut. Akhirnya, diputuskan untuk membuat lilin souvenir.

Cara pembuatannya cukup sederhana. Botol diisi dengan bahan lilin. Memang, yang dipakai bukan bahan lilin yang biasa digunakan untuk penerangan saat mati lampu. Melainkan, dari parafin yang umumnya dipakai sebagai bahan bakar para petualang atau orang berkemah. Biar dapat dibentuk, parafin dipanaskan terlebih dahulu agar cair.

Pengisian botol memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Sebab, supaya indah, parafin harus dicampur dengan pewarna. Tak hanya itu, parafin mesti dibuat berlapis-lais dengan warna yang berbeda.

Misalnya, lapisan terbawah berwarna merah. Maka, parafin cair berwarna merah dibiarkan mengeras terlebih dahulu selama beberapa menit. Setelahnya, baru dituangkan parafin hijau atau warna lain di atasnya. Begitu terus sesuai jumlah warna dan lapisan yang diinginkan.

Tidak semua lapisan dibuat vertikal. Ada juga yang diagonal. Dengan demikian, tiap pengisian parafin, botol mesti dimiringkan beberapa menit. Dalam tahap itulah kesabaran ekstra dibutuhkan.

Sumbu yang digunakan adalah benang wol. Benang ditanam memanjang ke dasar botol sebelum parafin dituang. Kalau pengerasan parafin sudah beres, lilin souvenir tinggal dikemas dalam kotak-kotak plastik kecil ditambah hiasan pemanis mata.

“Ini kan souvenir. Jadi, fungsinya memang hiasan. Bukan untuk penerangan. Fokus kami, membuat barang ini selucu dan semenarik mungkin,” tambah Nuraida Yulianti, kawan Alifi.

Dalam bisnis plan Gift by Us,  satu lilin souvenir dibandrol dengan harga Rp 8 ribu.

Tas Imut dan Tempat Ponsel

Tas Kecil dan Tas Ponsel (Foto: Istimewa)
Tas Kecil dan Tas Ponsel (Foto: Istimewa)

Bahan dasarnya adalah film bekas rontgen yang sudah rusak atau tak terpakai. Dilipat sedemikian rupa untuk membentuk tas kecil dan tempat telepon seluler (Ponsel). Bahkan, bisa pula dikreasi menjadi wadah komputer jinjing. Ukurannya, bisa disesuikan dengan kebutuhan.

“Melipat film harus teliti. Soalnya, kalau keliru, bekas lipatan terdahulu bakal terlihat,” kata Agus Hamdani, salah satu anggota kelompok yang menamai dirinya dengan sebutan Catty Flame.

Untuk membuat prototipe tersebut, kata Hamdani, kelompoknya memakai film bekas yang ada di rumah. Kebetulan, film tersebut sudah sangat lama tidak tersentuh dan rusak. Bisa dibilang, barang itu sudah menjadi sampah.

Saat ditanya kesulitan lain untuk membuat kreasi ini, anggota lain bernama Yolanda Pangestu tidak banyak mengeluh. “Seperti yang dikatakan Hamdani, melipat-lipat film butuh kecermatan dan ketelatenan. Kalau bentuk awalnya sudah jadi, baru ditambahi aksesori pita atau bunga untuk mempercantik. Bisa direkatkan pakai lem dengan tetap menjaga kerapian,” ungkap dia.

Per satu buah kerajinan, harga yang dipatok sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu. Tergantung  ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan.

Lampu Hias

Lampu Hias (Foto: Istimewa)
Lampu Hias (Foto: Istimewa)

Sepintas, modelnya seperti lampion. Bentuknya kotak persegi panjang dengan tinggi sekitar 50 cm. Bahan dasarnya, karton pembungkus film. Kalau diperhatikan, presisi kotak tersebut tak kalah dengan buatan pabrik.

Ada dua prototipe yang dibuat kelompok bernama Sentolop Corp tersebut. Pertama, bermotif lampu belajar. Untuk menegaskan esensi barang ini yang memang berupa: lampu hias. Kedua, bertingkat vertikal dengan cat warna hitam. Ada kesan berundak sehingga lampu yang dihasilkan berpendar dengan tekstur selang-seling.

“Di dalam frame yang kami buat itu diberi lampu LED yang tidak gampang panas. Pastinya, tetap butuh kabel dan aliran listrik,” ujar Nur Aisyah Arie, salah satu pembuat lampu hias tersebut. “Konsumen kami adalah pecinta hiasan rumah. Bisa pula, restoran atau kafe yang ingin memberi suasana berbeda di tempatnya,” kata Irfan Rizkiansyah, rekannya.

Ditambahkan mahasiswi lain di kelompok tersebut bernama Sheilla Aulia Usman, pembuatan karya ini butuh ketekunan. Sebab, mereka mesti membuat bentuk-bentuk kotak persegi panjang dari karton. Artinya, semua mesti dipermak simetris dan berlapis agar kokoh. Biar tampak indah dan tidak terlihat sembarangan. “Kerjasama tim dan keseriusan adalah kuncinya,” ujar dia.

Bila dijual, harga per lampu hias berkisar Rp 80 ribu per buah.

Kenang-kenangan, Kado, atau Hantaran Pernikahan

Kado film siluet (Foto: Istimewa)
Kado film siluet (Foto: Istimewa)

Pernah melihat mas kawin berupa jejeran uang yang diatur dalam pigura? Meski tidak sama persis, karya kali ini memiliki sedikit kesamaan dengannya. Ada kemiripan konsep dengan pigura macam itu. Namun, bahan dasar dan bentuknya lebih kompleks. Karya ini diproyeksikan sebagai kado, kenang-kenangan, atau hantaran pernikahan.

Yang menarik, di dalamnya terdapat filuet: film siluet. Ya, ada siluet yang berbentuk wajah orang dan dikreasi dengan film bekas tak terpakai. Bentuk siluet itu bisa dibuat sesuai peruntukkan.

Misalnya, jika kado ini untuk seorang perempuan berjilbab, siluetnya bisa dibentuk seperti dia. Kalau kado ini untuk hadiah pernikahan, hantaran, atau pelengkap mas kawin, siluet bisa dibentuk sepasang kekasih: satu laki-laki dan satu perempuan.

Tak hanya bahan dasar siluet yang berasal dari limbah, frame pun diambil dari karton pembungkus film. Untuk memperkuat, karton dibuat berlapis-lapis. “Kami dapat bahan film dari IRD dr Soetomo atas bantuan seorang instruktur (pengajar),” kata Celyna Meytha, salah satu anggota kelompok WTF 13, kreator karya ini.

“Kado ini bisa dilengkapi ucapan: Happy Wedding, Happy Birthday, Happy Graduation, dan lain sebagainya. Sesuai kebutuhan. Siluet dan hiasan tambahan seperti pita atau bunga-bunga di dalam kado pun bisa divariasi,” imbuh Indriani Wijayanti, rekan Celyna.

Potongan-potongan compact disc tak terpakai ditempel di sekeliling frame. Gunanya, menambah kesan artistik. Penggarapan bagian ini tergolong rumit. Sebab, memotong compact disc dengan gunting biasa membutuhkan tenaga ekstra. Maklum, karya ini bukan buatan pabrik yang didukung peralatan canggih. Semua dilakukan manual dan dengan perlengkapan seadanya.

“Meski demikian, totalitas kami tidak perlu dipertanyakan,” ujar Syahidah Bahu, salah satu anggota WTF 13 seraya tersenyum.

Kerumitan detail karya ini membuatnya dilabeli dengan harga lebih mahal dari tiga karya lain. Yakni, sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per buah. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu