Pentingnya Memadukan Seni Fotografi dengan Dunia Akademisi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Yuyung Abdi Saat Memberikan Materi Di Convention Hall Grand City Surabaya (Foto: Dilan Salsabila )

UNAIR NEWS – Dunia fotografi hari ini memang tengah naik daun, kemajuan teknologi ditengarai menjadi faktor tersendiri bagi pencipta maupun pecinta hasil jepretan kamera, hal inilah yang kemudian semakin meramaikan jagat seni. Menanggapi hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Pariwisata UNAIR mengadakan workshop dan kompetisi fotografi pada Sabtu, (16/4). Bertempat di Convention Hall Grand City Surabaya, acara tersebut berlangsung bersamaan dengan agenda besar yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, The 17th Majapahit Travel Fair East Java Marine Tourism.

Pada workshop yang bertajuk Eksotika Bahari tersebut menghadirkan fotografer Jawa Pos, Yuyung Abdi. Laki-laki yang sering memberikan kuliah di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR tersebut menjelaskan bahwa pentingnya memadukan seni fotografi dengan dunia akademisi.

“Selama ini yang orang tahu dunia fotografi terlepas dari akademisi, saya ingin hal ini nantinya bisa berkaitan dengan akademisi, jadi ada sekolah fotografer hingga pendidikan doktoral,” ungkapnya.

Menyinggung mengenai tema “Eksotika Bahari” yang menjadi fokus diskusi,  fotografer yang sudah menggeluti dunia lensa kamera selama 20 tahun tersebut menekankan pentingnya menghadirkan sebuah emosi demi mewakili sebuah gambar yang dihasilkan.

“Untuk menghasilkan gambar yang berkualitas carilah sudut yang berbeda dari foto lainnya, selain itu ikatkan sebuah emosi saat memotret, dan ketika memilih lokasi yang diambil, lihat posisi dan waktunya” imbuhnya.

Acara tersebut juga mendatangkan pendiri komunitas Matanesia, Mamuk Iswantoro. Laki-laki yang akrab disapa om Mamuk tersebut menjelaskan bahwa dalam fotografi tidak sekedar berbicara mengenai hasil pemotretan saja. Baginya fotografi juga menyangkut beberapa hal yang mendukung berlangsungnya pengambilan gambar.

“Fotografi itu tidak sekedar sebuah gambar matahari terbit, tapi apa yang ada didalamnya juga,” tegasnya.

Meski tema tentang bahari menjadi fokus, laki-laki yang menyukai objek foto seputar seni dan budaya ini justru menunjukkan sisi lain yang jarang menjadi perhatian para pecinta dunia fotografi. Ia mencoba menunjukan kepada para hadirin bahwa ada sebuah alternatif pemotretan, misalnya sejarah, budaya, seni, dan rumah-rumah di kota tua.

“Jangan mengambil objek gambar yang sudah terkenal, cari sisi lain yang belum eksis, asal tetap ada nilainya,” pungkasnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu