Workshop Creativepreneurship Metro TV Bagi Tips Sukses di Era Ekonomi Kreatif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suasana gerbang masuk bazar dan Creativepreneurship yang bertempat di Airlangga Convention Centre (ACC) Universitas Airlangga (Foto: Alifian Sukma)

UNAIR NEWS – Menjadi pemuda yang kreatif di era sekarang merupakan sebuah tuntutan, untuk itulah Universitas Airlangga dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar acara yang bertajuk ekonomi kreatif. Acara yang masih dalam bagian dari  Mata Najwa on Stage Surabaya melahirkan pemuda-pemuda kreatif yang bergerak dalam berbagai bidang.

Mewakili Rektor UNAIR, Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH), Drs. Suko Widodo, M.Si., menyampaikan bahwa di era ekonomi kreatif ini diperlukan otak-otak yang cemerlang.

“Jika mau mendalami ekonomi kreatif, Surabaya ini merupakan kota yang tepat untuk belajar, karena orang Surabaya ini berani-berani,” jelasnya.

“Di Surabaya ini, setan saja berani di makan, makanya ada rawon setan,” imbuhnya yang dibarengi tawa para hadirin.

Selepas membuka sambutan, acara berlanjut dengan sesi berbagi inspirasi dari para pemateri. Acara yang digelar di Airlangga Convention Center (ACC) UNAIR pada Kamis, (14/4) tersebut dipandu oleh Merry Riana dan Robert Harianto. Pada acara tersebut wanita yang kisah hidupnya sempat diangkat di layar lebar tersebut berpesan kepada para hadirin bahwa ada tiga tips menjadi orang muda yang sukses, yakni partisipasi, open mind, dan aksi.

“Ketiganya merupakan perpaduan yang harus dilakukan kalau mau sukses, perlunya berpartisipasi, membuka fikiran, dan yang terpenting adalah mengambil aksi,” jelasnya.

Setelah memberikan sedikit motivasi untuk menghangatkan suasana, tak lama kemudian Merry dan Robert mempersilahkan tiga pemuda Surabaya yang bisa dibilang sudah sukses di bidangnya masing-masing walaupun masih berumur belia, ketiganya yaitu; Abimanyu Gusti, Chef Ken, dan Ade Putra. Abimanyu adalah seorang model dan pengusaha di bidang fashion, chef Ken adalah salah satu finalis di program Master Chef Indonesia season 2 sekaligus pemilik restaurant Pipe and Barrel  , sedangkan Ade Putra adalah owner dari toko pusat oleh-oleh haji dan umrah Nabawi.

Peserta Creativepreneurship melakukan yel-yel yang dipandu oleh pembawa acara Meri Riana (Foto: Alifian Sukma)
Peserta Creativepreneurship melakukan yel-yel yang dipandu oleh pembawa acara Meri Riana (Foto: Alifian Sukma)

Ketika ditanya mengenai tips untuk sukses, ketiganya sepakat bahwa kuncinya terletak pada modal dan pengetahuan. Namun ketiga pemuda tersebut punya cara masing-masing dalam menjalankan bisnisnya.

“Semua branding harus ada faktor x, yaitu yang membedakan produk kita dengan produk yang lain, jadi ada ciri khasnya,” ujar Abimanyu.

Berbeda dengan Abimanyu, Chef Ken justru menekankan pada faktor pengalaman seseorang dalam menjalankan bisnisnya.

“Selain modal dan ilmu, bagi saya pengalaman kerja itu penting,”jelasnya.

Banyak orang yang terkejut dengan keputusan karir yang diambil oleh chef Ken, pasalnya sebelum tenar dengan keahliannya dibidang kuliner, dia sempat menjadi seorang General Manager (GM) di sebuah perusahaan. Alih-alih menikmati posisi kerja dengan gaji yang besar,dia justru memilih menjadi seorang koki yang handal.  Namun menurutnya hal tersebut adalah pengalaman yang berarti baginya.

Tiga pemuda Surabaya yang bisa dibilang sudah sukses di bidangnya masing-masing walaupun masih berumur belia, ketiganya yaitu; Abimanyu Gusti, Chef Ken, dan Ade Putra (Foto: Alifian Sukma)
Tiga pemuda Surabaya yang bisa dibilang sudah sukses di bidangnya masing-masing walaupun masih berumur belia, ketiganya yaitu; Abimanyu Gusti, Chef Ken, dan Ade Putra (Foto: Alifian Sukma)

“Jadi GM emang besar gajinya tapi saya juga butuh waktu, terutama untuk kluarga saya. Jadi GM selama 6 tahun dan gak pernah ambil cuti jadi stress saya, tapi sekarang sudah bebas. Freedom,” ungkapnya.

Berbeda dengan Ade Putra, pemilik toko pusat oleh-oleh haji dan umrah itu mengungkapkan bahwa ide yang unik akan menentukan keberhasilan seseorang.

“Ide saya berawal dari keinginan untuk bantu jamaah haji dan umrah, supaya mereka lebih sungguh-sungguh buat ibadah, gak khawatir sama oleh-oleh nya karena bisa beli ditempat saya,” ujarnya.

Ketiganya sepakat, bahwa untuk menjadi seorang yang sukses diusia belia, memang dibutuhkan pengorbanan serta ketekunan. Sering kali seorang pengusaha melalui masa kegagalan. Namun semua orang pasti dapat melewatinya dan melangkah maju untuk sebuah kesuksesan.

Penulis: Nuri Hermawan dan Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu