Profesor Leiden University: Di Indonesia, Kriminalnya Banyak, Penjaranya Sedikit

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto bersama dengan Prof. Dr. Adriaan Bedner, guru besar asal Van Vollenhoven Leiden University (tengah) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Program Studi Magister Sains Hukum dan Pembangunan (MSHP) Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga kembali mengadakan seminar dengan menggandeng profesor asing. Seminar bertajuk “Stadium General: Legal Research and its Development” dihadiri oleh Prof. Dr. Adriaan Bedner, guru besar asal Van Vollenhoven Institute for Law, Government and Development, Faculty of Law, Leiden University.

Ini merupakan kali ketiga profesor asal Belanda tersebut hadir berbagi ilmu kepada mahasiswa UNAIR. Selain Prof Adriaan, hadir pula sebagai pembicara Herlambang Perdana Wiratraman, S.H., M.A., sekretaris Pusat Kajian Hukum Hak Asasi Manusia atau lebih dikenal dengan Center of Human Rights Law Studies (HRLS) UNAIR.

Pada kesempatan ini, Prof Adriaan memberikan materi mengenai Beasiswa Bidang Humum Indonesia dan Yurisprudensi sebagai Kendala untuk Lembaga Hukum Transplantasi. Materi ini merupakan karyanya yang diterbitkan dalam Hague Journal on the Rule of Law. Penelitian hukum merupakan prinsip penting untuk mengetahui bagaimana hukum di suatu negara mengambil peran penting dalam pelaksanaan program pembangunan. Ia juga menyinggung mengenai fragmentasi pemerintahan, korupsi, gangguan sistem politik, dan banyak hal lainnya.

Profesor yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik tersebut juga memaparkan mengenai bagaimana kondisi penegakan hukum di Indonesia dan Belanda. Salah satunya mengenai fenomena kriminalitas dan jumlah penjara yang ada di dua negara tersebut.

“Di Belanda, banyaknya jumlah penjara dapat memicu penurunan tingkat kriminalitas. Sedangkan di Indonesia, kejahatan kriminal banyak jumlahnya, akan tetapi sedikit sekali penjaranya,” ungkap Prof Adriaan.

Sebagai bentuk dari Tri Darma Perguruan Tinggi, seperti yang disampaikan oleh Herlambang, hasil dari seminar ini dapat menjadi bahan pengembangan keilmuan hukum di Indonesia.

“Seminar ini ditujukan untuk memberikan inovasi pada penelitian hukum, mengembangkan keilmuan hukum. Selain itu untuk menumbuhkan kepekaan hukum, serta isu-isu keadilan sosial,” kata Herlambang.

“Menghadirkan dosen tamu yang berkualitas penting untuk dilakukan. Mengingat, hal tersebut untuk menunjang perkembangan keilmuan, khususnya pada Sekolah Pascasarjana,” ujar Dr. H. Suparto Wijoyo, Koordinator Program Studi MSHP.

Sebelum menghadirkan profesor dari Universitas Leiden, MSHP juga pernah mendatangkan dosen tamu dari Universitas Osaka, Jepang, yang membahas mengenai pembangunan lingkungan. Prodi yang baru yang telah berjalan tiga tahun tersebut bertekad untuk dapat dikenal serta memiliki jaringan dan kolega dari berbagai kampus bukan hanya di Indonesia, namun juga di dunia.

Suparto juga mengatakan bahwa di Leiden, MSHP merupakan program yang diimpikan. MSHP menjadi satu-satunya program di Indonesia yang menawarkan bidang ilmu hukum saintifik yang kontekstual, serta melihat pembangunan yang dinamis. Oleh karena itu, MSHP dan Leiden telah sepakat menjalin kerjasama yang baik. Bahkan, Prof Adriaan bersedia menerima tawaran untuk memberikan kuliah tamu, menjadi konsultan, serta menjadi pembimbing tesis di MSHP.

“Harapanya, pada prodi MSHP ini mahasiswa tidak hanya menjadi magister yg terampil dalam regulasi, tetapi juga terampil di bidang development policy. Negara ini membutuhkan orang yang memahami hukum dalam konteks pembangunan,” kata Suparto.

Terjalinya hubungan baik antara prodi MSHP UNAIR dan Universitas Leiden salah satunya karena faktor kedekatan keilmuan dan telah adanya kecocokan. Selain itu, terdapat dosen UNAIR yang pernah menorehkan prestasi ketika masih melangsungkan studi di Leiden. Faktor itu yang membawa relasi tersendiri antara MSHP UNAIR dan Universitas Leiden. (*)

Penulis : Ahalla Tsauro
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu