Lokakarya PKM-GT Bedah Proposal Sebelum Didaftarkan ke PIMNAS

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suasana lokakarya PKM-GT. Seorang anggota TPK Agus Widyantoro sedang memberikan pengarahan. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Dalam menyongsong Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2016, Dirmawa Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan Lokakarya Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT), Jumat (8/4). Dalam acara itu hadir puluhan Tim PKM-GT yang terdiri dari ratusan mahasiswa, serta dua anggota Tim Pembina Kemahasiswaan (TPK) Agus Widyantoro, SH., MH., dan Dr. Eduardus Bimo Aksono, drh., M.Kes yang memberi pengarahan.

Dalam lokakarya itulah “dibedah” belasan judul PKM-GT yang dirancang akan diajukan mahasiswa UNAIR untuk diseleksikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Pendaftaran proposal PKM-GT ini akan ditutup pada 29 April 2016 ini. Sehingga dengan lokakarya ini diharapkan rancangan proposal PKM-GT yang akan diajukan menjadi lebih baik, lebih “melangit” tetapi tetap membumi, serta semakin tajam dalam penulisannya, sehingga akan semakin banyak tim yang lolos PIMNAS ke-29 tahun 2016.

”Biasanya untuk PKM-GT ini dari UNAIR rata-rata ada 40-an proposal yang didaftarkan. Mudah-mudahan tahun ini lebih banyak,” kata Afri Andiarto, Staf Bagian Kemahasiswaan UNAIR.

Menurut rencana, PIMNAS Ke-29/2016 ini akan dilaksanakan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada agenda rutin ilmiah tahunan itu, dari UNAIR terdapat 167 judul PKM yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). PKM yang didanai itu terdiri 64 PKM-Penelitian (PKM-P), 33 PKM-Pengabdian Masyarakat (PKM-M), 43 PKM-Kewirausahaan (PKM-K), dan tiga judul PKM-Teknologi (PKM-T), dan 24 PKM-Karsa Cipta (PKM-KC).

Dalam pengarahannya, Agus Widyantoro, SH., MH mengatakan banyak peristiwa yang terjadi dan bila dianalisis akan sangat menarik untuk ditawarkan suatu solusinya. Disinilah PKM-GT disodorkan. Namun tidak hanya sekedar menawarkan ide/gagasan, tetapi juga harus dengan rincian nilai lebih,  pertimbangan “plus-nya”, manfaatnya dan aplikasinya, termasuk nilai ekonominya.

”Banyak sekali permasalahan yang menunggu solusi itu. Misalnya, mengapa banyak orang bunuh diri? Di kota-kota banyak orang hidup kleleran. Bagaimana mengatasi banyak kecelakaan yang selalu terulang setiap H-7 dan H+7 hari Raya. Itu semua persoalan psikologi, persoalan ekonomi, budaya, dsb,” kata Agus, dosen FH yang sering menjadi Pimpinan Kontingen PIMNAS UNAIR itu.

Ditambahkan oleh Dr. E. Bimo Aksono, dalam PKM-GT itu sah-sah saja menyodorkan gagasan yang “terbang tinggi” atau “mimpinya” apa, tetapi tetap harus membumi. Artinya gagasan itu bisa direalisasikan dengan nilai manfaat yang signifikan, sehingga tidak hanya “diangan-angan” dan sulit diwujudkan. Sehingga kreativitas yang ada akan merekomendasikan kekuatan naskah PKM-GT itu.

Karena itu, kata dosen FKH UNAIR itu, penyusunan penulisan PKM-GT harus benar-benar sistematis dan runtut. Mulai dari pendahuluan yang tidak “bertele-tele”, gagasan, substansi gagasan, solusi yang ditawarkan, perannya dalam solusi atas masalah, termasuk peran pemerintah, dst.

”Karena tujuan PKM-GT ini antara lain untuk menumbuhkembangkan karya tulis dalam bentuk gagasan atau adu kreatif. Jadi akan mengadu ‘mimpi-mimpi’ orang,” kata Bimo Aksono, yang juga Sekretaris Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR itu. (*)

Penulis : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu