Hadapi MEA, FKp UNAIR Perkuat Kompetensi Perawat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dokumentasi Rumah Sakit UNAIR (Foto: RSUA)

UNAIR NEWS – Perawat merupakan salah satu profesi medis yang turut terdampak dengan adanya persaingan global. Pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), perawat dari negara-negara ASEAN diijinkan untuk melakukan praktik di Indonesia. Agar perawat asal Indonesia bisa bertahan dan juga melakukan ekspansi ke luar negeri, maka kompetensi yang dimiliki perlu diperkuat.

Menurut Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Prof. Nursalam, S.Kp., M.Nurs, perawat Indonesia memerlukan banyak perbaikan kompetensi untuk bersaing di era pasar bebas. Oleh karena itu, institusi pendidikan keperawatan di Indonesia harus bertanggung jawab dalam mencetak perawat yang berkualitas.

“Kompetensi yang harus dibangun adalah kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor. Setelah itu, hal yang perlu dikembangkan adalah membangun jejaring. Kami (pimpinan FKp UNAIR, -red) membangun jejaring di luar negeri. Itu adalah sasaran kita,” tutur Prof. Nursalam.

Jejaring yang telah dilakukan oleh FKp diantaranya berupa kerjasama pertukaran mahasiswa dan riset. Universitas Avans, Belanda, dan Universitas Rhode Island merupakan dua perguruan tinggi asing yang telah bekerjasama dengan FKp UNAIR.

Selain itu, untuk bersaing di era pasar bebas, maka perawat perlu menguasai kompetensi di bidang keilmuan, penguasaan bahasa asing, dan teknologi. Prof. Nursalam juga mengingatkan masyarakat untuk mengubah kultur ‘bertahan’.

“Kan ada kebiasaan agar seseorang tak perlu mencari ilmu atau bekerja jauh-jauh dari tempat tinggal. Itu juga penting untuk diubah,” ungkap Prof. Nursalam.

Menyeragamkan kualitas

Di Indonesia terdapat sekitar 313 institusi yang menyelenggarakan pendidikan keperawatan. Jumlah tersebut tersebar di berbagai jenjang, mulai dari diploma hingga profesi. Sehingga lulusan pendidikan keperawatan di Indonesia terbilang cukup banyak.

Namun, Prof. Nursalam yang juga lulusan pendidikan doktoral di UNAIR ini mengatakan bahwa kualitas pendidikan keperawatan berdasarkan akreditasi masih cukup bervariasi. Guru Besar Keperawatan UNAIR itu mengatakan sebanyak 5% institusi pendidikan keperawatan terakreditasi A, 25% terakreditasi B, dan 70% masih terakreditasi C.

Pada akhir tahun 2015, program studi S-1 Pendidikan Ners FKp UNAIR memperoleh akreditasi A dari asesor Lembaga Akreditasi Mandiri – Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM – PTKes). Dari pelaksanaan uji kompetensi perawat tahun 2015, tingkat kelulusan calon perawat lulusan FKp UNAIR mencapai 98%.

Senada dengan Prof. Nursalam, Laily Hidayati, S. Kep, Ns., M.Kep, staf pengajar Departemen Keperawatan Medikal Bedah dan Kritis, FKp UNAIR, mengatakan bahwa kualitas institusi pendidikan keperawatan di Indonesia seharusnya diperbaiki agar menghasilkan lulusan sarjana keperawatan yang berkualitas.

“Kompetensi perawat itu seharusnya sama, baik yang dari Surabaya maupun di Papua, sehingga kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat juga sama baiknya untuk Indonesia,” tutur Laily. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu