Shafia Khairani, perempuan asal Lombok yang ingin berkontribusi untuk tanah kelahirannya. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Meniti karir sebagai dosen, seorang pengajar, tampaknya menjadi tujuan karir Shafia Khairani. Itulah yang hendak digapai oleh Shafia, setelah terpilih sebagai wisudawan terbaik jenjang S-2, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga. Ia lulus S2 dari program studi Ilmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner.

”Syukur kalau dapat berkesempatan untuk berkontribusi kepada almamater tercinta ini. Nanti begitu ada lowongan menjadi dosen, semoga saja saya diberi kesempatan,” kata wisudawan dengan IPK 3,96 yang nyaris sempurna itu.

Demi mencapai impiannya itu, gadis kelahiran Lombok 21 Oktober 1991  ini tak sekadar mengandalkan nilai ijazahnya, tapi ia merasa cukup matang dalam mempersiapkan modal kompetensi untuk menjadi seorang guru. Semasa kuliah S-1 Pendidikan Dokter Hewan di FKH UNAIR tahun 2010, Shafia juga menjadi wisudawan terbaik jenjang sarjana pada wisuda periode Maret 2014.

Bukan itu saja, ia juga merengkuh prestasi sebagai Mahasiswa Berprestasi FKH UNAIR selama tiga periode berturut-turut yaitu tahun 2011, 2012, dan 2013. Kemudian pernah menjadi asisten dosen di Departemen Patologi, dan Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UNAIR tahun 2012-2013. Ia juga hobi menulis dan sering mengikuti lomba menulis di level nasional maupun internasional. Antara lain pernah menjuarai ajang Essay Scientific Meeting di Universitas Indonesia (UI).

“Menang nggak menang itu urusan belakangan, yang penting menulis,” katanya.

Dalam penelitian tesisnya, Shafia mengangkat permasalahan tentang cacing hati (Fasciola gigantica) pada sapi berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi dan histopatologi. Ia ungkapkan bahwa prevalensi cacing hati mencapai angka 99%.

“Sejak skripsi itu, saya selalu melakukan penelitian di Lombok. Saya memiliki prinsip bahwa di mana pun saya berada atau ditugaskan nantinya, saya tetap bisa berkontribusi untuk tanah kelahiran saya meskipun tanpa harus kembali ke sana,” kata Shafia bertekad bulat. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istigfaricha
Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone