Drh. Erni Suyanti Musabine, alumni FKH UNAIR angkatan 1994, si penyelamat perdana harimau Sumatera tahun 2007, dalam seminar “Ekoturisme” oleh WANALA UNAIR, Minggu (10/4). (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS - Pemberdayaan masyarakat adalah faktor penting dalam menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan. Pernyataan itulah yang bisa disimpulkan dari pelaksanaan “Seminar Ekoturisme: Conservation through Responsible Tourism”, yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) Universitas Airlangga, di Aula Kahuripan, Kantor Manajemen UNAIR, Kampus C Mulyorejo Surabaya, Minggu (10/4).

Konsep ekoturisme banyak dikenal oleh masyarakat. Namun, tak banyak yang bisa mengartikan atau memahami konsep ekoturisme sendiri. Nurdin Razak, pengajar pada prodi D-III Pariwisata, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR, mengatakan ada tiga ciri ekoturisme, yaitu konservasi alam, memberdayakan masyarakat lokal melalui ekonomi, dan edukasi.

Sayangnya, wacana ekoturisme yang terlanjur beredar hanyalah mengacu pada wisata alam. Padahal, konsep ekoturisme yang terpenting adalah pemberdayaan masyarakat. Ia contohkan bagaimana melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan pariwisata Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

“Saya ubah perspektif dia. Contohnya ada tukang ojek. Saya bilang ke dia, kalau ada sarang elang, beritahu ke saya lalu saya kasih uang Rp 150 ribu. Dengan begitu, dia akan menunda untuk memburu sarang elang itu. Begitu seterusnya, sampai saya berhasil mendatangkan pengunjung untuk melihat sarang burung tersebut,” tutur Nurdin.

Bagi Nurdin, warga juga perlu diberdayakan dengan kompetensi dan pengetahuan untuk memaksimalkan potensi kekayaan alam dan kekhasan lokal di tempat mereka tinggal. Bila warga sudah memiliki kompetensi yang dibutuhkan, warga akan memberikan pelayanan terbaik kepada para turis.

“Ketika warga sudah bisa berbahasa Inggris, misalnya, ia akan memandu turis mancanegara. Ia kenalkan lingkungan alam itu kepada turis. Ia bisa mengajak turis berkeliling untuk melihat aktivitas warga. Nantinya disitu turis akan mendapatkan pengalaman baru alias transfer knowledge. Apabila turis merasa senang, kemungkinan mereka akan berkunjung lagi ke tempat yang sama,” ujar Nurdin.

Nurdin Razak, pengajar D-III Pariwisata, FISIP UNAIR dalam seminar “Ekoturisme” yang diselenggarakan UKM WANALA, Minggu (10/4). (Foto: Bambang Bes)
Nurdin Razak, pengajar D-III Pariwisata, FISIP UNAIR dalam seminar “Ekoturisme” yang diselenggarakan UKM WANALA, Minggu (10/4). (Foto: Bambang Bes)

Wisata bahari juga bisa dikelola dengan mengedepankan konsep ekoturisme. Ada banyak peluang yang bisa digarap dengan memanfaatkan kekayaan pesisir, bawah laut, dan budaya daerah pesisir. Ia mengambil contoh kapal kebanggaan suku Bugis, Pinisi. Kalau para turis bisa diajak untuk berpartisipasi atau sekadar melihat cara pembuatan kapal, itu bagus.

BACA JUGA:  Menganut Filosofi Rumput, Ahyanizzaman Sukses Jadi Direktur BUMN

Namun sekali lagi ia tegaskan bahwa konsep ekoturisme tidak sekadar tentang wisata menikmati alam bebas, tetapi bagaimana melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi melestarikan lingkungan dan menjaga kearifan lokal.

KONSERVASI GAJAH DAN EKONOMI LOKAL

Alumni Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR, Drh. Erni Suyanti Musabine, yang dikenal secara luas sejak tahun 2007 menyelamatkan belasan harimau Sumatera yang terancam punah– juga memberikan presentasinya. Ia sepakat dengan konsep ekoturisme tadi, alumni FKH UNAIR tahun 1994 ini menegaskan bahwa masyarakat sekitar adalah benteng terakhir dalam pelestarian alam. Jadi, salah satu strategi untuk menjaga kelestarian alam adalah menjalankan konsep ekoturisme.

Perempuan yang akrab disapa Yanti ini menunjuk contoh beberapa kegiatannya selama bertugas pada Wildlife Conservation Veterinarian, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Ia dan timnya pernah membuat program yang dinamai Work Camp, yaitu program wisata yang melibatkan turis mancanegara untuk mengikuti aktivitas mahout atau pawang gajah.

“Pada program ini, kami mengajak turis asing bekerja sebagai relawan untuk konservasi gajah Sumatera dengan mengikuti aktivitas mahout. Para turis ini kami ajak ikut memandikan gajah, memberikan susu kepada anak gajah, dan merawat gajah sebagaimana yang dilakukan oleh mahout,” kata perempuan kelahiran Nganjuk (Jawa Timur) ini.

Pada program work camp itulah ia melibatkan masyarakat sekitar sebagai pemandu, dan memasak makanan untuk turis. Yanti juga punya alasan sama dengan Nurdin, yaitu sasarannya memutar roda ekonomi masyarakat local sebagai nilai plus ekoturisme.

Selain dua pembicara, seminar ini juga menghadirkan perwakilan Greenpeace Indonesia sebagai salah satu Non Government Organization (NGO) yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Dari Greenpeace diwakili oleh Annisa Rahmawati. Greenpeace juga memamerkan 14 buah foto yang bercerita tentang deforestasi dan masyarakat yang menolak kerusakan lingkungan. (*)

Penulis : Defrina Sukma Satiti
Editor : Bambang Bes

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone