Mardiana dan Wilda Jadi Wisudawan Terbaik Berkat Pekerjaannya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR NEWS – Sejak awal melakukan penelitian untuk tesisnya, Mardiana Lelitawati selalu menghindari penelitian berbasis molekuler. Ia khawatir penelitian itu menelan biaya yang tinggi. Namun ia akhirnya bisa menuntaskan tesisnya dan menjadi wisudawan terbaik jenjang magister pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, periode Maret 2016.

Mardiana Lelitawati wisudawan terbaik jenjang magister pada Fakultas Kedokteran dengan IPK 3,85 (Foto: Istimewa)
Mardiana Lelitawati wisudawan terbaik jenjang magister pada Fakultas Kedokteran dengan IPK 3,85 (Foto: Istimewa)

Dalam pengerjaan tesisnya, penghobi traveling, novel dan drama Korea ini mengambil kesempatan bergabung dengan payung penelitian dosen, sehingga dapat menekan biaya penelitiannya.

“Bagi teman-teman yang akan melakukan penelitian, tidak ada salahnya untuk bertanya dulu ke dosen pengampu mata kuliah. Siapa tahu bisa bergabung dengan payung penelitian yang dibiayai DIPA UNAIR atau sponsor lain,” kata peraih IPK 3,85 ini.

Setelah mendapat area penelitian, gadis asal Blitar ini dengan mantap melanjutkan proses penelitian mengenai gen penyandi resistensi terhadap  antibiotik pada bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA). MRSA merupakan bakteri Staphylococcus aureus yang mendapat insersi gen SCCmec sehingga menjadi resisten terhadap antibiotik golongan B-laktam.

Bidang ilmu yang ia tekuni sekarang sedikit berbeda dengan ilmu yang ia tempuh ketika S-1. Dalam proses adaptasinya, Mardiana harus tekun mempelajari dan menyesuaikan diri dengan materi dan berbagai istilah di bidang kedokteran yang masih cukup asing baginya.

“Saya berpikir bagaimana kalau saya mengambil bidang baru tanpa meninggalkan bidang ilmu yang saya tempuh ketika S-1 dulu, yaitu Biologi. Saya kemudian mantap menjatuhkan pilihan pada prodi Ilmu Kedokteran Dasar FK UNAIR,” cerita Mardiana, yang merasa ilmunya lebih bermanfaat saat ia mempelajari berbagai jenis dan karakteristik penyakit dan pencegahan yang disebabkan bakteri, virus dan jamur.

“Ketika ada keluarga, teman, atau tetangga yang sakit dan dicurigai disebabkan mikroorganisme, paling tidak saya bisa menyampaikan informasi penyakit yang diderita itu. Itulah mengapa saya memutuskan mengambil prodi Ilmu Kedokteran Dasar minat studi mikrobiologi,” kata Mardiana.

Menikmati Studi Sambil Mengajar

Wilda Prihatiningtyas wisudawan terbaik S2 Fak. Hukum UNAIR dengan IPK 3,93 (Foto: Istimewa)

SEMENTARA bagi Wilda Prihatiningtyas, mengajar sekaligus belajar di tempat yang sama merupakan sesuatu yang menguntungkan. Itulah yang dialami wisudawan terbaik S2 Fak. Hukum UNAIR dengan IPK 3,93 ini. Ia menempuh studi master di FH sambil membantu mengajar. Hampir 14 jam/hari ia habiskan waktunya sebagai dosen di Departemen Hukum Administrasi FH UNAIR, baik untuk mengajar, meneliti, seminar, pelatihan, membimbing skripsi, mendampingi mahasiswa mengikuti lomba, dan tugas-tugas lain.

“Baru pada malam harinya saya berpindah ke gedung B FH UNAIR untuk menjalani kuwajiban sebagai mahasiswa S2,” kata Wilda, alumni SMA V Surabaya ini yang menempuh S2 kurang lebih satu tahun setengah. Yang uniknya dari IPK itu mirip IPK-nya saat lulus S1. Entah kebetulan atau bagaimana, IPK-nya sama persis dengan ketika ia lulus S1 tahun 2013.

“Seperti merasa nostalgia saja,” cetus mahasiswi kelahiran Surabaya 1991 ini. Dosen hukum administrasi dan hukum lingkungan dan pemerintah daerah ini menulis tesis tentang “Kedudukan Gubernur dalam Penyelenggaraan Pemerintahan di Indonesia”.

Dalam konteks negara kesatuan, kedudukan Gubernur mempunyai peran vital dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pemerintahan. Di satu sisi gubernur punya fungsi sebagai kepala daerah otonom, disisi lain juga bertindak sebagai organ pemerintah pusat di daerah. Dalam pelaksanaannya, kedua fungsi ini menimbulkan kerancuan, baik dari organ pelaksananya, jenis urusannya, dan mekanisme pertanggungjawabannya.

“Dengan adanya kompleksitas permasalahan yang muncul di lapangan, menurut saya topik ini menjadi kajian menarik untuk dibahas, khususnya dengan pendekatan yuridis-normatif, karena hingga saat ini masih sedikit kajian mengenai pemerintahan daerah, khususnya mengenai gubernur ditinjau dari perspektif teoritis dan yuridis,” katanya.

Wilda berharap tesisnya kelak bisa dijadikan buku dan dapat menjadi rujukan mahasiswa yang mengambil mata kuliah pemerintahan daerah dan bagi aparat penyelenggara pemerintahan. Yang pasti, menjadi mahasiswa plus dosen baginya merupakan keuntungan tersendiri. (*)

Penulis : Sefya Hayu Ist, Moch Ahala Tsauro
Editor : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu