Surabaya Tempo Dulu Simpan Sejarah Diskriminasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Tunjungan kompasiana.com

UNAIR NEWS – Pada permulaan abad 20, Surabaya bisa dikatakan sebagai kota yang maju. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya artikel seorang pelancong dari Makassar yang dipublikasikan di Surat Kabar Bintang Toedjoe pada tahun 1904. Pada artikel tersebut bertuliskan mengenai ungkapan kemegahan kota Surabaya dari si pelancong. Pernyataan itu dikemukakan oleh Dr. (Cand) Samidi, S.S., MA., dalam Seminar Internasional “On Urban History”.

Pada seminar yang dilaksanakan Selasa (5/4), Samidi menyampaikan tulisan disertasinya yang berjudul “Simbol Modernitas dan Gaya Hidup di Surabaya”. Kandidat doktor bidang sejarah tersebut juga mengatakan, bahwa saat itu Surabaya sudah menjadi kota industri, hal ini ditunjukkan karena sudah terdapat unsur hiburan, konsumsi yang mencakup food court, transportasi, serta komunikasi. Hal demikian yang menjadikan industrialisasi sebagai  simbol modernitas sebuah kota. Kondisi tersebut ia nilai sebagai penyebab terjadinya diskriminasi. Pasalnya, perbedaan gaya hidup yang dipraktikkan oleh golongan elit dan kelas bawah akan terlihat nyata. Beberapa faktor yang mencirikan gaya hidup golongan elit adalah distingtif, glamoritas, serta mahal.

“Golongan elit pasti akan memilih lingkungan sosialnya, masyarakat yang tergolong kelas bawah dilarang bergabung dengan mereka,”  ujarnya.

Dalam seminar yang berlangsung di Auditorium Siti Parwati FIB UNAIR tersebut, dijelaskan tentang keberadaan Societet di zaman kolonial. Baginya hal ini tersebut menjadi bukti awal dari bentuk diskriminasi di kota Surabaya.

Societet merupakan sebuah lembaga yang beranggotakan kaum elit eropa di Surabaya yang dianggap membedakan diri dari masyarakat kelas bawah. Pikiran mereka cuma senang-senang, terbebas dari beban, karena fokus mereka adalah materi duniawi,” imbuh dosen Ilmu Sejarah UNAIR.

Selain Societet, juga ditemukan Schouwburg yaitu gedung kesenian atau rumah komedi yang biasa digunakan untuk mementaskan kesenian eropa di kota Surabaya. Pengunjungnya juga di dominasi oleh orang eropa yang tergolong elit, sehingga akan ada pelarangan bagi non eropa. Memang di awal pembentukannya sempat ada perlawanan dari masyarakat setempat yang sudah memperkirakan bahwa akan terjadi diskriminasi. Namun organisasi tersebut masih tetap terbentuk.

“Walapun ada unsur-unsur penolakan ketika pembentukan organisasi, namun nyatanya tetap berlangsung,” paparnya.

Di akhir penjelasannya, Samidi mengungkapkan bahwa diskriminasi akan selalu ditemui hingga sekarang. Walaupun bentuknya yang tersamar, namun batas yang membedakan antar golongan elit dan kelas menengah bawah akan selalu terasa. (*)

Penulis: Dilan Salsabila
Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu