Soroti Penderita Kusta, Nur Maziyya Jadi Wisudawan Terbaik Keperawatan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Nur Maziyya di kampusnya (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Stigma masyarakat terhadap penderita kusta masih negatif. Ada yang merasa miris saja, menghindar, bahkan mengucilkannya. Menjadikan penderitanya sangat kasihan. Tetapi sebagai seorang perawat (ners), Nur Maziyya membuang jauh-jauh stigma buruk tersebut, kemudian melakukan penelitian terhadap kehidupan para penderita kusta.

Hasil penelitiannya kemudian ia tuangkan ke dalam skripsinya. Jadilah karya tulis ilmiah bertajuk “Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Hidup Penderita Kusta Berbasis Teori Health Belief Model (HBM) di Puskesmas Surabaya Utara”, yang sekaligus ikut mengantarkan Nur Maziyya meraih predikat membanggakan, yakni wisudawan terbaik S1 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga dalam wisuda edisi Maret 2016. Ia membukukan IPK 3,91.

Anak nomer tiga dari lima bersaudara ini memutuskan untuk meneliti kehidupan penderita kusta karena angka kejadian kusta di Provinsi Jawa Timur masih cukup tinggi. Nur meneliti tentang kualitas hidup penderita kusta, yang kebetulan juga masih relatif sedikit yang menelitinya.

”Itulah alasan mengapa saya tertarik mengambil penelitian tentang pehidupan penderita kusta,” kata mahasiswa yang berasal dari alih jenis kelahiran Kota Surabaya, 17 Maret 1993 ini.

Selain menekuni kuliah, Nur Maziyya juga banyak mengoleksi prestasi. Antara lain pernah meraih peringkat I (pertama) dalam evaluasi belajar tahap I tahun 2014. Kemudian sempat juga mengikuti student exchange di Thailand. Prestasinya di bidang non-akademik juga tergolong bagus, antara lain turut mengantarkan tim basketnya menjadi Juara II kejuaraan basket putri Dekan Cup 2014.

”Kalau perlombaan-perlombaan saya jarang ikut, bahkan hampir tidak pernah ikut. Ya maklum karena program B, jadi saya fokusnya kuliah dan kuliah,” tambah Nur.

Ditanya mengenai resepnya untuk menjadi wisudawan terbaik, mahasiswa yang memiliki kelompok belajar bernama “Funt4stic” ini, mengaku selama menempuh studi di Fakultas Keperawatan UNAIR, selama ini hanya berusaha melakukan yang terbaik. Tetapi tidak pernah berpikir untuk menjadi yang terbaik.

“Selain itu kami berusaha semaksimal mungkin, berdoa, selalu minta restu kepada kedua orang tua. Tidak hanya untuk belajar tetapi juga dalam segala urusan,” kata Nur Maziyya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu