Mangrove, Kunci Penyelamatan Kawasan Pesisir dari Perubahan Iklim

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sapto Andriyono, S.Pi., M.T., selaku staf pengajar Departemen Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Isu lingkungan yang sedang mengemuka selama beberapa dekade terakhir adalah perubahan iklim yang mengakibatkan tinggi air laut mengalami kenaikan. Kenaikan muka laut global pada tahun 2010 mencapai 1,14 meter. Lingkungan dan masyarakat pesisir adalah salah satu kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan air laut.

Sejumlah wilayah di Indonesia yang berbatasan dengan laut mengalami banjir rob ketika air laut sedang pasang sehingga warga setempat harus dievakuasi. Sejumlah wilayah itu seperti Jakarta dan Semarang. Kenaikan air laut tak hanya menyebabkan banjir rob, melainkan juga intrusi air laut (adanya celah air laut yang masuk ke daratan).

Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu ada kesadaran dari gabungan elemen yang terdiri dari pemerintah, swasta, masyarakat, dan perguruan tinggi untuk menjaga atau memperbaiki wilayah sabuk hijau (green belt) di area pesisir. Pernyataan itu diungkapkan oleh Sapto Andriyono, S.Pi., M.T., selaku staf pengajar Departemen Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga.

Secara alami, tanaman yang tumbuh di wilayah sabuk hijau adalah hutan bakau atau biasa disebut mangrove. Keberadaan mangrove bisa dimanfaatkan untuk menahan pasang surut air laut, tempat hidup biota-biota pesisir, dan penyerap emisi karbon yang berdampak pada pemanasan global serta perubahan iklim.

“Secara ekologis, keberadaan mangrove akan membuat keanekaragaman hayati bertahan dan berkembang. Kalau berkaitan dengan global warming, maka tanaman yang berada di wilayah green belt bisa menyerap emisi karbon, khususnya di Surabaya sebagai kota besar,” tutur Sapto.

Sayangnya, di Surabaya, wilayah mangrove ‘berhadapan’ dengan industri-industri seperti pelabuhan dan peti kemas sehingga keberadaan wilayah sabuk hijau menjadi terancam. Dampak perubahan lingkungan tidaklah sederhana. Sapto mengatakan bahwa intrusi air laut bisa mengakibatkan rasa air laut semakin asin dan hewan-hewan akan mati.

Green belt bisa menghambat intrusi air laut. Selama ini, yang tidak kita sadari adalah intrusi air laut yang semakin cepat. Dampaknya juga luar biasa. Begitu air laut masuk ke daratan, itu akan mengakibatkan biota-biota yang ada di habitatnya yang tidak mampu bertahan akan mati. Ada informasi bahwa salinitas air laut sudah merembes ke wilayah Jagir atau Wonokromo. Jadi, cukup jauh. Mengapa sudah sampai ke sana? Karena di sana sudah ditemukan biota yang mampu bertahan di air asin, sehingga ada indikasi bahwa di wilayah itu sudah terintrusi air laut. ini juga seharusnya menjadi perhatian,” tegas Sapto.

Intrusi air laut akan menimbulkan multiplier effect yang lain. Masyarakat akan kesulitan dalam mengakses air bersih untuk kehidupan sehari-hari, seperti minum, mandi, dan mencuci baju.

Sadar pesisir

Mengingat peran mangrove yang begitu penting demi keberlangsungan ekosistem pesisir, maka sivitas akademika perguruan tinggi ikut serta melakukan penanaman mangrove. Sapto dan sejumlah dosen lainnya di FPK UNAIR yang tergabung dalam Kelompok Kerja Mangrove Daerah Provinsi Jawa Timur, mendukung seluruh kabupaten/kota di Jatim untuk melestarikan mangrove.

Selain itu, kurikulum pembelajaran di FPK UNAIR tak hanya menekankan masalah perikanan, mahasiswa juga diajak untuk belajar tentang biologi kelautan, seperti manajemen pesisir, flora dan fauna, dan pengabdian masyarakat. Sehingga calon lulusan FPK UNAIR kedepan diharapkan mampu memahami permasalahan tersebut secara luas. (*)

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Dilan Salsabila

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu